Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Maret 2025 | 15.40 WIB

Hati-Hati, 7 Kebiasaan Parenting Orang Tua Ini Bisa Membuat Anak Kesepian dan Tidak Bahagia, Menurut Psikologi

Ilustrasi frasa dari orang tua yang menghancurkan anak. (pexels). - Image

Ilustrasi frasa dari orang tua yang menghancurkan anak. (pexels).

JawaPos.com – Sebagai orang tua, tentu kita ingin anak-anak tumbuh bahagia dan merasa dicintai. Namun, tanpa disadari, ada pola asuh tertentu yang justru bisa membuat mereka merasa kesepian dan kurang bahagia.

Psikologi menunjukkan bahwa cara orang tua berinteraksi dengan anak sangat mempengaruhi kesehatan emosional mereka. 

Hal-hal kecil, seperti bagaimana kita merespons perasaan mereka atau kebiasaan sehari-hari yang kita lakukan, bisa berdampak besar pada kepercayaan diri dan kebahagiaan mereka di masa depan.

Kabar baiknya, jika kita menyadari pola ini, kita bisa mulai mengubahnya. Berikut adalah tujuh kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak merasa terisolasi dan tidak bahagia, serta bagaimana cara memperbaikinya, dikutip dari Blog Herald, Kamis (20/3).

  1. Mengabaikan perasaan anak

Anak-anak sedang belajar mengenali dan mengelola emosinya. Jika orang tua sering menyepelekan atau mengabaikan perasaan mereka, anak akan merasa bahwa emosinya tidak penting.

Contohnya, ketika anak sedih lalu kita berkata, "Ah, cuma gitu aja kok nangis?" atau "Jangan lebay, nggak segitunya." Hal ini bisa membuat mereka enggan berbagi perasaan dan akhirnya menutup diri.

Sebaliknya, cobalah mengakui dan memahami perasaan mereka. Misalnya dengan berkata, "Ibu lihat kamu sedih, mau cerita ke ibu?" Dengan begitu, mereka akan merasa didengar dan dihargai.

  1. Terlalu mengontrol

Sebagai orang tua, kita ingin memastikan anak melakukan hal yang benar. Namun, jika kita terlalu banyak mengatur—mulai dari pakaian, teman bermain, hingga hobi mereka—anak bisa merasa tidak punya kendali atas hidupnya.

Anak butuh bimbingan, tapi juga butuh ruang untuk belajar membuat keputusan sendiri. Jika mereka merasa setiap pilihan sudah ditentukan oleh orang tua, mereka bisa kehilangan rasa percaya diri dan menjadi kurang mandiri.

Daripada mengambil semua keputusan untuk mereka, berikan kesempatan bagi anak untuk memilih, tentu dengan bimbingan. Misalnya, "Hari ini kamu mau pakai baju biru atau merah?" Ini membantu mereka merasa dihargai dan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.

  1. Kurang menunjukkan kasih sayang

Ada orang tua yang berpikir bahwa menyediakan kebutuhan anak sudah cukup untuk menunjukkan cinta. Padahal, anak juga butuh kasih sayang dalam bentuk pelukan, kata-kata hangat, dan perhatian emosional.

Jika kita jarang mengatakan "Aku sayang kamu" atau enggan memeluk mereka, anak bisa merasa kurang dicintai meskipun kita selalu ada untuk mereka.

Jangan ragu untuk lebih ekspresif dalam menunjukkan kasih sayang, baik melalui kata-kata, sentuhan, maupun perhatian yang tulus.

  1. Lebih sering mengkritik daripada memuji

Terlalu sering mengkritik bisa membuat anak merasa tidak cukup baik. Misalnya, saat mereka mendapatkan nilai 90, tapi yang kita komentari justru, "Kenapa nggak bisa 100?"

Meskipun niatnya untuk memotivasi, jika kritik lebih sering diberikan daripada apresiasi, anak bisa kehilangan rasa percaya diri dan merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore