
Ilustrasi perkembangan terbaru yang melaporkan Nissan dan Honda bakal merger. (BWAutoWorld)
JawaPos.com – Kabar terbaru dari kedekatan Honda dan Nissan memunculkan wacana bahwa dua raksasa otomotif Jepang itu bakal melakukan merger.
Menurut surat kabar Jepang Nikkei, kedua perusahaan tersebut semakin dekat dalam beberapa bulan terakhir saat mereka menavigasi transisi ke mesin bertenaga listrik.
Persaingan ketat dari produsen kendaraan listrik global seperti Tesla di AS dan Eropa, dan produsen kendaraan listrik Tiongkok di Asia, khususnya di Tiongkok, pasar otomotif terbesar, mendorong kedua pesaing Jepang tersebut untuk berkolaborasi.
Fakta bahwa kendaraan mereka tidak sepopuler di Amerika Serikat (AS) dan Eropa menambah urgensi dalam diskusi merger tersebut, demikian dilansir via BWAutoWorld.
"Seperti yang diumumkan pada bulan Maret tahun ini, Honda dan Nissan tengah menjajaki berbagai kemungkinan untuk kolaborasi di masa mendatang. Dengan memanfaatkan kekuatan masing-masing," demikian pernyataan kedua perusahaan secara terpisah.
Seraya menambahkan bahwa mereka akan memberi tahu para pemangku kepentingan tentang pembaruan apa pun pada waktu yang tepat.
Selain itu, kedua perusahaan tersebut dikabarkan tengah mempertimbangkan pembentukan perusahaan induk. Mereka akan segera menandatangani nota kesepahaman untuk membentuk struktur baru ini.
Nantinya, Honda dan Nissan juga akan menggabungkan Mitsubishi Motors ke dalam perusahaan induk ini, karena Nissan memegang 24 persen saham Mitsubishi. Langkah ini dilakukan saat Carlos Ghosn menjabat sebagai CEO Nissan, Renault, dan Mitsubishi Motors, yang berujung pada pembentukan aliansi tersebut.
Menariknya, produsen mobil Prancis, Renault, pemegang saham utama Nissan, justru tidak memiliki informasi tentang perkembangan ini.
Ini mungkin tidak mengejutkan, mengingat Nissan pernah hampir bergabung dengan Renault hingga mantan CEO mereka Carlos Ghosn yang bertanggung jawab.
Secara khusus, produsen mobil Jepang mendapat tekanan dari Tesla di AS dan BYD di Tiongkok, yang mengakibatkan kerugian finansial pada kendaraan generasi berikutnya. Sementara kendaraan bermesin pembakaran internal mereka saat ini menderita efek Osborne.
Baik Honda maupun Nissan bermaksud memangkas biaya, tetapi situasi Nissan sangat buruk, dengan cadangan kas yang tersedia dikabarkan hanya cukup untuk beberapa bulan.
Honda dan Nissan, seperti produsen mobil Jepang lainnya, Toyota, mitranya, mungkin merupakan produsen mobil terkemuka di dunia, tetapi tertinggal dalam revolusi elektrifikasi.
Namun, skala dan kekuatan finansialnya yang besar telah melindunginya dari kesulitan finansial yang dihadapi oleh Honda dan Nissan.
Diketahui juga, produsen mobil Jepang lambat mengadopsi mesin bertenaga listrik dan kini tertinggal dari perusahaan EV Tiongkok yang agresif dan telah diuntungkan dari peralihan awal ke teknologi tersebut.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
