Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Januari 2022 | 21.10 WIB

Kendaraan Berat Jangan 'Gantungkan Nyawa' di Rem Utama

Ilustrasi: Kabin truk. (RianAlfianto/JawaPos.com). - Image

Ilustrasi: Kabin truk. (RianAlfianto/JawaPos.com).

JawaPos.com - Kecelakaan maut terjadi di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Jumat (21/1) pagi. Truk kontainer menghantam sejumlah kendaraan yang tengah berhenti di traffic light kawasan Muara Kapak, Kota Balikpapan. Belasan kendaraan baik motor dan mobil yang tengah berhenti di lampu merah 'disikat' tiba-tiba dari belakang oleh truk yang remnya diketahui blong.

Berdasarkan data terbaru dari Dirlantas Polda Kaltim, Kombes Sony Irawan, kecelakaan maut itu mengakibatkan empat orang meninggal dunia. Sementara itu, ada satu orang yang kritis, tiga orang mengalami luka berat, dan 26 orang luka ringan.

"Saat ini diketahui jumlah korban, yaitu 4 orang meninggal dunia, 1 orang kritis, 3 orang luka berat, dan 26 luka ringan," ungkap Sony Irawan

Berkaca dari kasus tersebut yang melibatkan kendaraan berat dan kondisi rem blong, Instruktur dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menyatakan, kalau buat kendaraan berat, nyawa tidak boleh digantungkan pada rem utama saja.

Sebagai informasi, rem pada kendaraan berat khususnya truk, tronton atau bus setidaknya punya beberapa jenis mekanisme pengereman sekaligus. Rem pada kendaraan berat umumnya menggunakan pengereman angin murni atau full air brake, rem dengan mekanisme campuran angin dan cairan serta exhaust brake.

Terkait truk kontainer yang mengalami rem blong di Balikpapan, Jusri menilai penyebab rem blong yang dialami pada truk tronton tersebut diduga lantaran sopir tak memahami teknik pengereman.

"Untuk rem truk apalagi beberapa roda di belakang sumbu roda 8, ditambah dua di bagian kepalanya. Kalau ban semacam ini maka sistemnya rem angin murni, ketika rem angin murni (full air brake), remnya tidak ada, harusnya mobil tidak bisa bergerak atau mengunci," ujar Jusri kepada JawaPos.com.

Jusri menegaskan, sistem pengereman kendaraan besar berbeda dengan mobil penumpang atau kendaraan ringan roda empat lain pada umumnya. Sehingga dalam hal ini, selain mekanisme pengereman, teknik yang tepat juga mutlak dikuasai awak truk.

"Beban kerja rem itu berat, apa lagi dengan muatan yang sekian ton yang dibawa truk. Makanya pada truk itu disiapkan rem-rem selain service brake atau rem (kaki) utama yaitu ada exhaust brake, atau retarder, di mana setiap pengurangan kecepatan harus menggunakan exhaust atau retarder," jelas Jusri.

Seperti sudah disinggung di atas, sistem pengereman pada truk tronton umumnya menggunakan sistem pengereman full air brake. Mekanisme ini menggunakan tambahan sistem tekanan udara yang dibawa pada tangki udara.

Dengan tonase muatan yang sedemikian, Jusri menambahkan, bahwa ketika si pengemudi terlalu fokus atau sering menggunakan rem utama, hal ini bisa berdampak pada rem yang kemudian menjadi panas.

Pada titik didih atau suhu tertentu, panas ekstrem pada mekanisme pengereman utama kendaraan berat yang ada komponen karet di dalamnya jadi tidak bisa bertahan. Hal ini yang kemudian bisa menyebabkan rem pecah, angin lari dan kemudian blong.

"Sopir ini pasti tidak paham, dia tidak bisa menyikapi, tidak tahu tekniknya. Remnya blong karena service brake (rem utama) terlalu sering digunakan. Panas, rusak, anginnya hilang dan rem jadi tidak bisa bekerja," terang Jusri ramah.

Selain karena mekanisme rem yang rusak akibat panas atau terlalu sering digunakan tanpa adanya perawatan, hal lain yang bisa menyebabkan rem truk blong adalah keengganan si awak truk untuk memeriksa kendaraan sebelum berangkat.

Atau, bisa juga karena perusahaan lalai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang lemah. Pasalnya, pada pada banyak perusahaan trucking profesional, terang Jusri, biasanya ada semacam mekanisme pengecekan sebelum armada-nya bisa diputuskan berangkat.

Ada check list yang harus dipenuhi sampai kendaraan dinyatakan laik jalan. Termasuk di dalam check list tersebut ada pemeriksaan kondisi dan mekanisme pengereman apakah berfungsi baik atau tidak, rusak atau tidak.

"Seharusnya memang dicek. Diperiksa sebelum berangkat angin rem ada atau tidak dan perlu dibuang dulu sehingga kondisi tabung rem dipastikan tidak terisi air. Mekanisme berjalan baik atau tidak, selang rem terambung atau tidak, itu sangat perlu diperiksa sebelum berangkat," tegas dia.

Kemudian, panas berlebih pada pengereman dijelaskan Jusri bisa menyebabkan kondisi atau situasi yang namanya brake fading. Ini bisa terjadi ketika kampas rem (brake pad) panas secara berlebihan. Sehingga kinerja rem tidak maksimal.

"Kalau rem kaki selalu digunakan seperti di kendaraan kecil, maka fungsi rem akan mengalami penyusutan yang namanya brake fading, karena suhu dikonstruksi rem panas, ketika konstruksi rem itu panas maka otomatis jarak pengereman akan panjang dan rem tidak efektif sama sekali. Apa lagi dengan kendaraan besar, bisa dibayangkan bakal seperti apa," tandasnya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore