
Dr. I Dewa Ayu Eka Pertiwi, SE, Ak, MSA, CA, CSRS. (Istimewa)
KEBERLANJUTAN (sustainability) menjadi salah satu konsep yang seringkali diperbincangkan dalam kegiatan bisnis global dewasa ini. Konsep keberlanjutan (sustainability) pertama kali diperkenalkan dan diperbincangkan dalam sebuah laporan Komisi Lingkungan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations World Commission on Environment and Development) yang berjudul “Our Common Future" pada tahun 1987 atau yang seringkali lebih dikenal dengan "Laporan Brundtland".
Menurut isi laporan tersebut, keberlanjutan (sustainability) diartikan sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang, tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Dengan demikian sejak diperkenalkan secara global di tahun 1987, istilah keberlanjutan (sustainability) telah menjadi dasar perkembangan berbagai kebijakan dan strategi keberlanjutan di berbagai belahan dunia dengan menyinergikan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Seiring semakin meningkatnya kesadaran dan tekanan pemangku kepentingan terkait keberlanjutan, menyebabkan konsep keberlanjutan juga menjadi hal yang dianggap penting di dalam cabang ilmu akuntansi.
Hal ini ditandai dengan kehadiran akuntansi keberlanjutan yang ditujukan untuk mendorong organisasi dapat menyajikan dan melaporkan informasi terkait praktik bisnis berkelanjutan yang di dalamnya tidak hanya berisi informasi kinerja ekonomi, tetapi juga inisiatif sosial, kebijakan terkait dampak lingkungan, hingga komitmen organisasi secara keseluruhan terhadap pembangunan berkelanjutan.
Tentunya dengan tujuan tersebut, akuntansi keberlanjutan tidak hanya menjadi pemenuhan tanggung jawab organisasi kepada seluruh pemangku kepentingan yang terkait bisnisnya, melainkan juga menuntun organisasi untuk lebih efektif mengelola dampak signifikan bisnis mereka terhadap bumi dan kehidupan di sekitarnya.
Pada awalnya, perkembangan ilmu akuntansi lebih menekankan bagaimana organisasi dapat mengelola bisnis untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu maksimalisasi keuntungan (profit). Akan tetapi semakin pesatnya perkembangan industri bisnis, ternyata hal tersebut juga dipandang turut serta membawa eksploitasi yang berlebihan terhadap lingkungan dan ketimpangan sosial dengan sekitarnya.
Hal ini menjadikan ilmu akuntansi dirasa perlu untuk menanggapi kondisi dan kebutuhan lingkungan bisnis saat itu dengan suatu perubahan. Pemikiran untuk berubah tersebut hadir bersamaan dengan diperkenalkan istilah keberlanjutan (sustainability) dalam kancah bisnis global.
Dengan demikian, akuntansi pun dengan perlahan juga bergerak menjadi salah satu ilmu sosial yang turut serta mendukung konsep keberlanjutan (sustainability) dengan berpijak pada tiga dimensi pelaporan, yaitu pelaporan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari kegiatan operasional perusahaan.
Dalam konteks akuntansi keberlanjutan, pelaporan dampak ekonomi atau seringkali diistilah dengan pelaporan kinerja ekonomi mencakup evaluasi dan identifikasi seluruh dampak (positif/negatif) organisasi terhadap ekonomi yang tidak hanya dalam perspektif keuangan, tetapi juga bagaimana upaya organisasi untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, penciptaan lapangan kerja, efisiensi sumber daya ekonomi, hingga penanganan terhadap ketidaksetaraan ekonomi.
Hal menarik yang menjadi perhatian penting dalam pelaporan ini adalah adanya analisis dampak ekonomi dari organisasi terhadap komunitas ataupun masyarakat lokal, sehingga bisa terlihat jelas bagaimana upaya organisasi untuk bertumbuh secara ekonomi tanpa melupakan dukungan mereka terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
Jadi, dapat dikatakan pelaporan kinerja ekonomi ini mengharapkan agar organisasi dapat menyampaikan informasi yang komprehensif akan komitmen dan strategi keberlanjutan yang digunakan organisasi dalam kegiatan operasional dan pengambilan keputusan ekonominya.
Pelaporan dampak sosial atau lebih dikenal dengan pelaporan kinerja sosial ditujukan untuk memberikan informasi yang holistik terkait kontribusi organisasi terhadap masyarakat, bagaimana cara organisasi memahami dan menanggapi kebutuhan sosial sekitarnya, termasuk langkah yang dilakukan organisasi dalam mengatasi dampak sosial yang ditimbulkan dari aktivitas bisnisnya.
Secara internal, kinerja sosial tidak hanya menunjukkan bagaimana organisasi dapat berinteraksi dan bertanggung jawab secara sosial di dalam rantai pasokan mereka, tetapi juga menjadi upaya organisasi untuk lebih memanusiakan para pekerjanya dengan memperhatikan perlindungan Hak Asasi Manusia dan kesetaraan di tempat kerja tanpa adanya diskriminasi.
Selain itu dalam konteks eksternal, kinerja sosial mengarahkan organisasi untuk lebih peka dalam menanggapi aspirasi sosial di sekitarnya, baik melalui kebijakan perlindungan konsumen, upaya penberdayaan masyarakat, maupun pengelolaan krisis (konflik) sosial yang muncul akibat operasional organisasi.
Terakhir, pelaporan kinerja lingkungan dalam akuntansi keberlanjutan telah menjadi suatu gambaran yang holistik terkait bagaimana cara-cara organisasi menjalankan aktivitas bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan secara berkelanjutan.
Melalui pelaporan ini, organisasi dibantu untuk memahami dan memantau sejauh mana organisasi telah berhasil mengurangi dampak (langsung; tidak langsung) dari kegiatan operasionalnya terhadap lingkungan, baik terkait emisi dan efek rumah kaca, pengelolaan air dan limbah, hingga konsumsi energi.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
