alexametrics

Kebangkitan Nasional Melawan Virus Korona

Oleh JAGADDHITO PROBOKUSUMO*
20 Mei 2020, 14:24:28 WIB

PARA dokter kini kembali berada dalam pusaran sejarah besar. Tak kalah penting dibandingkan peran dokter Soetomo dan kawan-kawan yang menginisiasi gerakan kebangsaan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, yang kelak diresmikan sebagai Kebangkitan Nasional.

Kini para dokter berusaha membangkitkan semangat hidup bangsa, bahkan dunia, di saat rundungan sengit pandemi supervirus Covid-19. Kalau dulu para dokter pelopor gerakan kebangsaan menghadapi penjajah, kini mereka menghadapi virus yang tidak mengenal siapa lawan dan siapa kawan.

Virus ini dengan mudah masuk ke Indonesia. Tak hanya merusak kesehatan, tetapi juga ekonomi, bahkan kemanusiaan. Sampai-sampai Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut pandemi virus Covid-19 merupakan krisis global terburuk sejak Perang Dunia II.

Lebih dari 300.000 orang telah terbunuh dan hampir 5 juta orang terinfeksi sejak Covid-19 menyebar ke seluruh dunia. Yang sangat terasa, pandemi ini menyebabkan kehancuran ekonomi yang dampaknya akan membawa resesi yang mungkin tidak ada tandingannya di masa lalu.

Menyuntikkan Moral

Sebagai sebuah profesi, selain mengobati penyakit, para dokter juga memiliki fungsi sebagai trias agent. Yakni, agen perubahan (agent of change), agen pembangunan (agent of development), dan agen pengobatan (agent of treatment).

Dokter yang ideal tidak hanya mengobati orang sakit (terapi dan rehabilitasi), namun juga mampu memberikan intervensi moral dan sosial di tengah masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (promosi dan prevensi).

Berdirinya Boedi Oetomo sebagai tonggak Kebangkitan Nasional merupakan implementasi dari peran dokter sebagai agen perubahan dan agen pembangunan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merangkumnya dalam ’’The Five Stars Doctor’’, yaitu dokter sebagai community leader, communicator, manager, decision maker, dan care provider.

Dokter saat ini lebih banyak berperan sebagai agent of treatment karena memang kebutuhan kuratif saat pandemi lebih diperlukan masyarakat. Kalau masyarakat adalah garda depan, dokter adalah benteng terakhir dalam penanganan pandemi ini. Tenaga medis mempunyai risiko terpapar virus korona yang sama dengan masyarakat. Semakin tinggi kasus Covid-19 yang terdeteksi dan semakin tinggi masyarakat yang dirawat di rumah sakit akan berpotensi meningkatkan jumlah korban di tenaga medis.

Dulu dokter adalah pejuang intelektual yang berkontribusi terhadap pemikiran dan aksi perjuangan bangsa. Saat ini perjuangan pemikiran pun tetap dibutuhkan, namun dalam konteks untuk memberikan kontribusi dalam strategi penanganan Covid-19.

Para dokter, baik individual maupun melalui wadah organisasi profesi, kerap menyampaikan pemikiran dan strategi agar kita menang melawan Covid-19. Ini merupakan suntikan moral dan intelektual kepada para pengambil keputusan agar mempunyai dasar saintifik dan etis dalam menanggulangi pandemi supervirus ini.

Coba kita tengok bagaimana dokter Soetomo dan kawan-kawan memberikan hal yang sama ketika bangsa ini dirundung penjajahan. Hari itu, 20 Mei 1908, 112 tahun yang lalu pukul 9 pagi, puluhan mahasiswa kedokteran berkumpul di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), lebih tepatnya di ruang anatomi. STOVIA adalah sekolah untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia pada zaman kolonial Belanda (saat ini telah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

Dalam pertemuan itu, seperti dijelaskan dalam buku ’’Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta’’, para mahasiswa kedokteran STOVIA seperti Soetomo, M. Soeradji Tirtonegoro, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, R. Angka Prodjosoedirdjo, Mochammad Saleh, dan R. Mas Goembrek sepakat mendirikan organisasi yang bernama Boedi Oetomo atau ’’tabiat yang luhur’’.

Boedi Oetomo memperjuangkan peningkatan kesempatan pendidikan bagi pria dan wanita muda di Jawa. Mereka percaya bahwa pendidikan bumiputra merupakan kunci masa depan Indonesia. Gagasan Soetomo mendirikan organisasi ini terinspirasi dari dokter Wahidin Sudirohusodo yang ingin meningkatkan martabat rakyat dan bangsa.

Dokter sebagai kaum intelektual di masanya mempergunakan pengetahuannya untuk membentuk fondasi bangsa Indonesia dengan semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa. Ini tidak terlepas dari watak yang dibentuk melalui proses pendidikan kedokteran yang disertai sumpah serta etika yang harus dipatuhi sepanjang hayat oleh dokter.

Dokter mengabdikan profesinya tanpa terpengaruh pertimbangan jenis kelamin, suku, agama, ras, dan kedudukan sosial. Sarat dengan nilai kesetaraan (justice). Nilai ini yang menjadi dasar tumbuhnya rasa ketertindasan yang sama akibat proses penjajahan yang akhirnya menimbulkan rasa nasionalisme.

Keluhan rakyat adalah hal yang kami dengar dan kami tangani sehari-hari. Hal ini menjadikan dokter sebagai profesi yang termasuk paling dekat dengan penderitaan rakyat. Seperti juga yang terjadi di saat musim pandemi ini.

Jangan Sampai Terserah

Kini suara para dokter dalam dinamika menangani pandemi yang sudah berlangsung lima bulan ini banyak digaungkan oleh organisasi profesinya. Di negara mana pun, masukan organisasi profesi selalu diperhitungkan.

Sebab, selalu berdasar problem riil di lapangan dari terus-menerus bersentuhan dengan permasalahan masyarakat. Bila satu keputusan besar yang menyangkut kepentingan masyarakat diambil tanpa mendengarkan pendapat si pelaku utama, sungguh amat janggal.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memiliki kewajiban untuk melakukan advokasi kebijakan pemerintah dan sarana pemecahan problem masyarakat. Sudah menjadi tanggung jawab IDI untuk memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah. Problem Covid-19 adalah problem kesehatan.

Sudah seyogianya referensi yang diambil pemerintah adalah referensi dari dokter. Pemerintah akan memahami problem riil masyarakat bila memperhitungkan saran dari dokter. Para dokter inilah pelaku intelektual terdepan yang menanggung risiko dalam penanganan langsung segala dinamika pandemi ini.

Para dokter melalui IDI telah meminta pemerintah agar tidak melonggarkan PSBB. Sampai ada data yang tepat untuk dijadikan indikator dan kriteria berdasar aspek medis-epidemiologis yang menjadi basis acuan sistem-sistem yang lain bisa dijalankan.

Evaluasi penanganan secara nasional dan per wilayah harus dibedakan sehingga fokus intervensi berdasar evaluasi medis-epidemiologis serta berbasis data yang kuat dan tepercaya. Yakni, data lapangan yang valid, ide solusi inovatif, dan murni kepentingan bangsa, bebas kepentingan sempit.

Menilik kebijakan pemerintah yang maju-mundur, pun abai terhadap rekomendasi organisasi profesi, mau dibawa ke mana Indonesia? Sulit rasanya bagi kami para dokter menerima imbauan presiden untuk berdamai dengan virus korona di saat kurva belum melandai, masih membubung. Tak heran para dokter dan tenaga medis menyuarakan kegelisahannya di media sosial dengan tagar ’’Indonesia Terserah’’. Ini bahaya.

Ayo dengarkan seruan logis dan etis para dokter. Agar kita bersama tetap mampu menjaga semangat ’’kebangkitan nasional’’ melawan supervirus Covid-19! (*)

Dokter dan Sejarah Indonesia

PADA 20 Mei 1908, para dokter turut menandai pergerakan nasional menghadapi rezim kolonial. Satu abad berselang, mereka kini kembali di garda depan palagan yang lain.

Para mahasiswa kedokteran di STOVIA, kata Prof Hans Pols dari University of Sydney dalam kuliah umum di UGM tiga tahun silam, sebenarnya beridentitas hybrid.

Kenapa mereka akhirnya ’’berpikir politik dan revolusioner?’’ Sebab, kata Prof Hans, mereka bersinggungan langsung dengan para pasien. Mereka tahu kondisi sebenarnya rakyat.

Para calon dokter di STOVIA yang dipelopori, antara lain, Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan R. Mas Goembrek itu akhirnya sepakat mendirikan Boedi Oetomo (BO) pada 20 Mei 1908.

Dalam rapat pada 9 September 1909, dokter Tjipto Mangoenkoesoemo mendorong BO agar menjadi organisasi kebangsaan yang terbuka bagi siapa saja. Dokter Tjipto ini yang turut berjasa membasmi wabah pes di Malang.

Setelah 1920, saat rezim kolonial kian represif, para dokter pribumi pun kian berani. Jurnal ditulis ’’Generasi itu kemudian menjadikan kesehatan sebagai alat perjuangan dan kemajuan sosial,’’ kata Hans.

Kini, 112 tahun kemudian, para dokter kembali berperan krusial dalam sejarah Indonesia. Berada di garda depan pertarungan melawan virus korona. Puluhan di antara mereka, termasuk perawat, meninggal dalam palagan ini. (*)


*)  Alumnus FK Unair, Residen Jantung dan Pembuluh Darah FKKMK UGM-RSUP dr Sardjito, Bidang Humas dan Publikasi Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia

**) Sumber: sejarah.fib.ugm.ac.id, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta, Historia

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads