
Emy Susanti
SOSIOLOGI gender merupakan salah satu subbidang ilmu sosial yang memetakan situasi problematik dan mengkaji realitas isu gender dalam kehidupan sosial. Sosiologi gender mengembangkan teori dan penelitian yang mempertanyakan sekaligus menjawab bagaimana konstruksi sosial gender berlangsung, bagaimana dimensi gender berinteraksi dengan kekuatan sosial lainnya dalam masyarakat, dan bagaimana dimensi gender berkaitan dengan struktur sosial secara keseluruhan.
Dalam perspektif sosiologi, konsep gender dipahami sebagai sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya (Eisenstein, 1981). Sosiolog melihat gender sebagai perilaku yang dipelajari dan diproduksi sebagai kategori sosial yang tidak bersifat alamiah, tetapi merupakan produk sosiokultural dan kekuatan historis yang secara potensial dapat diubah. Berdasar pemikiran itu, mempelajari kehidupan perempuan tidak dilakukan dalam posisi perempuan terisolasi dari kehidupan laki-laki karena dalam konteks budaya keduanya berfungsi sebagai pasangan.
Paradigma Kritis
Dalam analisis sosiologi gender, dimensi gender menjadi arus utama pembahasan dengan asumsi bahwa dimensi gender adalah dimensi dominan yang mengalahkan semua dimensi lain dalam kehidupan sosial. Lebih dari sekadar menganalisis dan melakukan berbagai kajian, perspektif sosiologi gender sesungguhnya juga berupaya mencari bukti empiris, memahami dan mengupayakan perubahan realitas ketidakadilan gender dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, dalam kajian sosiologi gender ada aspek praksis yang kental untuk melakukan perubahan dan perbaikan posisi tawar perempuan (Alcoff, 1988).
Dalam studi sosiologi gender, relasi gender tidak hanya dilihat sebagai relasi sosial antara perempuan dan laki-laki. Relasi gender dilihat sebagai ’’suatu kesatuan pemahaman dan pemikiran tentang subordinasi perempuan dan praktik-praktik budaya yang mempertahankannya, cara-cara yang menentukan pilihan objek seksual, pembagian kerja secara seksual, pembentukan karakter dan motif –sejauh hal tersebut diorganisasi dalam kategori feminitas dan maskulinitas’’ (Barrett, 1988: 15).
Sosiologi gender mendasarkan akar analisisnya pada paradigma kritis sehingga realitas sosial dilihat sebagai realitas yang ada di luar maupun di dalam pikiran manusia, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Realitas sosial diciptakan manusia dan realitas itu sering penuh dengan kontradiksi. Paradigma kritis juga melihat sifat manusia dicirikan oleh sifat dialienasi, dieksploitasi, dibatasi, dikondisikan, dan dijauhkan dari penyadaran akan potensinya.
Dalam paradigma kritis, ilmu dipandang sebagai kondisi yang membentuk kehidupan sosial, tetapi dapat diubah, ilmu memberdayakan, ilmu berdasar pada impresi akal dan tidak bebas nilai. Dalam paradigma kritis, tujuan studi adalah menjelaskan kehidupan sosial, menginterpretasi kehidupan sosial, mendekatkan mitos dengan ilusi dalam kehidupan sosial, dan untuk memberdayakan dalam kehidupan sosial (Malpas & Wake, 2006).
Dengan menggunakan perspektif sosiologi gender yang berbasis paradigma kritis ini, kita bisa memahami relasi kuasa berbasis gender dan berbagai realitas sosial di sekitar kehidupan perempuan dan laki-laki dengan cara yang berbeda, lebih dalam, rinci, dan memberdayakan. Relasi gender dalam analisis sosiologis tidak hanya dilihat sebagai relasi sosial antara perempuan dan laki-laki, tetapi juga sebagai relasi kuasa dalam konteks kehidupan sosial secara mendasar.
Analisis sosiologi gender tentang bagaimana bekerjanya relasi kuasa akhirnya selalu terarah pada upaya mengubah kondisi ketidakadilan gender dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan kata lain, analisis tentang relasi kuasa berbasis gender berujung pada analisis tentang gerakan sosial sebagai salah satu upaya perubahan sosial yang lebih mendasar. Menggunakan pemikiran Foucault tentang konsep ’’kuasa’’ (power) yang dikonseptualisasikan sebagai sesuatu yang selalu berubah akan menghasilkan pokok-pokok intensitas dan pembangkit pokok-pokok perlawanan.
Banyak bentuk gerakan feminis yang mengikat diri pada suatu organisasi massa perempuan dalam pergulatan yang sama melawan patriarki. Itu bukanlah bentuk paling efektif bagi perubahan. Diyakini bahwa kelompok yang lebih kecil dan solid akan lebih berhasil dalam melakukan perubahan sosial secara efektif daripada kelompok/organisasi dalam skala besar. Diakui kalangan feminis kaitan antara lokal dan isu global: tidak ada bentuk kuasa lokal yang dapat menjaga dirinya sendiri untuk waktu yang lama tanpa konteks global yang lebih luas (Foucault, 1980: 94).
Penjelasan Foucault tentang kuasa dan pengetahuan kurang menjelaskan sumber kuasa dan tidak menawarkan cara perlawanan perempuan terhadap penindasan. Namun, bagaimanapun diakui bahwa pemikiran Foucault tentang konseptualisasi relasi kuasa telah mencerahkan bentuk bekerjanya relasi kuasa di dalam kehidupan modern masa kini (Diamond, Quinby, Benhabib & Cornell, 1990).
Keadilan Gender
Sebagai salah satu tren penting dalam perkembangan sosiologi, perspektif sosiologi gender diakui banyak pihak telah menyumbang paradigma baru dan membuka topik baru untuk penelitian, terutama berkaitan dengan isu gender, relasi kuasa berbasis gender, ras, dan kelas sosial. Sementara itu, dari sisi empiris, analisis sosiologi gender telah meletakkan dasar metodologi dan strategi penelitian yang inovatif dan memberdayakan masyarakat ke arah kehidupan dengan keadilan gender bagi kesejahteraan masyarakat secara luas.
Selain menjadi salah satu perspektif yang khas dan penting, sosiologi gender dewasa ini bahkan berkembang menjadi perspektif yang mutlak disapa oleh perspektif teoretis dari disiplin ilmu yang lain untuk kemudian melahirkan kajian dan pemahaman yang lebih utuh terhadap realitas sosial.
Ke depan, saya yakin sosiologi gender akan terus berkembang dan menjadi perspektif yang makin dibutuhkan, baik sebagai alat analisis teoretis maupun sebagai tool untuk membantu mempertajam perencanaan pembangunan yang lebih kontekstual dan efektif serta berkeadilan gender bagi kesejahteraan keluarga dan masyarakat. (*)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
