
Deklarasi kampanye damai Pemilu 2019
JawaPos.com - Ini eksperimen sederhana. Cobalah buka YouTube, lalu ketik kata kunci "penipuan". Di situ Anda akan menemukan banyak sekali video, yang kadang membuat kita geram sekaligus geli.
Apa isi videonya?
Berbagai modus aksi penipuan lewat telepon yang direkam calon korban. Kemudian, si calon korban dengan cerdik malah mengerjai si penipu.
Kita pernah tahu ada modus mama minta pulsa dan modus mengaku sebagai kerabat yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Juga, modus menakut-nakuti dengan mengatakan bahwa ada anggota keluarga yang ditangkap polisi karena kasus narkoba dan macam-macam modus lain.
Kita, keluarga kita, atau teman kita, barangkali pernah mengalami kejadian seperti itu. Tentu kita merasa geram saat mengalami kejadian tersebut. Karena itu, wajar ketika ada penipu yang dikerjai calon korbannya, terasa geli melihatnya.
Video-video singkat semacam itu mendapat banyak respons dari para pengguna YouTube. Jumlah viewer-nya bisa sampai 2 juta, 3 juta, bahkan lebih dari 4 juta.
Pelajaran sederhana yang kita dapat dari sini: Semua orang tidak suka ditipu. Jika ada penipu yang ketahuan, publik akan senang untuk membalasnya. Atau setidaknya merasa senang ketika penipu itu terbuka kedoknya dan dikerjai.
Lalu, apa hubungannya dengan kampanye pemilu? Ada. Pelajaran sederhana dari YouTube itulah yang harus diresapi dan dipahami para calon presiden, calon wakil presiden, maupun calon anggota DPR, DPD, dan DPRD.
Jangan coba-coba membodohi pemilih dengan narasi-narasi tanpa bukti dan tanpa argumentasi. Sebab, akses informasi sudah begitu terbuka. Jika politikus berkata A, masyarakat akan mengecek benarkah A atau jangan-jangan faktanya B.
Jika aksi penipuan politikus itu terbongkar, siap-siap saja untuk dikerjai. Dibantah masyarakat di media sosial. Lalu, saat nanti pemilu: tidak akan dipilih.
Apakah masyarakat punya kemampuan untuk mengakses dan memfilter informasi? Punya. Dalam ilmu manajemen, dikenal istilah critical thinking. Berpikir kritis. Saya yakin, banyak anggota masyarakat kita memiliki kemampuan itu.
Jika ada informasi yang menyebut ekonomi tumbuh, harus dicari datanya. Jika ada informasi kemiskinan turun, harus dicari angka pembandingnya.
Demikian pula jika ada informasi yang menyebut ekonomi makin sulit, bisnis makin susah, harus dicari parameternya. Jangan-jangan, di satu sisi menyebut ekonomi makin sulit dan bisnis makin susah, tapi di sisi lain pundi-pundi kekayaannya kian menggunung.
Lalu, kenapa masih ada juga masyarakat yang gemar menyebar kabar bohong alias hoax? Harus diakui, tidak semua masyarakat memiliki critical thinking. Kemampuan dasar sebagai manusia itu kadang tergerus syak wasangka maupun kebencian.
Saya menyebut orang-orang seperti itu layaknya daun-daun kering. Mereka mudah goyah tersapu angin. Mereka mudah terbakar. Sebab, syak wasangka dan kebencian sudah memenuhi isi kepala. Menyebabkan critical thinking tak lagi mendapat tempat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
