Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Juni 2026 | 05.14 WIB

Nestapa Latsarmil KDMP: Mengapa Urusan Koperasi Desa Berujung Maut di Barak Militer?

Ilustrasi Peserta Latsarmil Manajer Koperasi Merah Putih. (Kaltim Post) - Image

Ilustrasi Peserta Latsarmil Manajer Koperasi Merah Putih. (Kaltim Post)

JawaPos.com - Program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) tahun 2026 berujung duka.

Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) mengungkapkan, sebanyak lima peserta warga sipil meninggal dunia dalam kurun waktu sembilan hari, sejak 17 hingga 26 Juni 2026.

Kelima peserta tersebut mengembuskan napas terakhir di berbagai lokasi satuan TNI dengan diagnosis medis yang beragam. Mulai dari cardiac arrest (henti jantung), heat stroke, tuberkulosis, hingga pneumonia dengan komplikasi.

Tragedi ini memicu gelombang protes keras dari koalisi masyarakat sipil yang mempertanyakan urgensi latihan fisik militer untuk posisi manajerial koperasi.

Kritik Tajam Kompetensi Barak Militer

Ketua Badan Pengurus Nasional PBHI Kahar Muamalsyah menegaskan, para korban adalah warga sipil murni, bukan prajurit yang sedang disiapkan untuk medan perang. Menurutnya, program ini cacat sejak dalam rancangan.

"Apa hubungannya latihan militer dengan kompetensi mengelola koperasi? Jawabannya tidak ada! Tidak ada satu pun standar kompetensi manajerial koperasi yang mensyaratkan latihan dasar kemiliteran," ujar Kahar, Minggu (28/6).

Kahar menambahkan, keahlian seorang manajer koperasi seharusnya dibangun melalui penguatan tata kelola organisasi, literasi keuangan, akuntabilitas, dan pemberdayaan masyarakat. Bukan melalui indoktrinasi barak atau komando militer.

Kejanggalan Skrining Medis dan Bantahan Kemhan

Pihak Kementerian Pertahanan (Kemhan) sempat membantah adanya unsur kelalaian dan menyatakan bahwa porsi latihan yang diberikan sudah terukur. Kemhan juga telah menyalurkan santunan sebesar Rp50 juta kepada masing-masing keluarga korban.

Namun, PBHI menolak keras narasi bahwa kematian massal ini sekadar insiden teknis atau takdir semata. Indikasi lemahnya pengawasan kesehatan bahkan sudah terlihat sebelum kematian pertama terjadi. Diketahui, ada 32 peserta yang ternyata tengah hamil baru dipulangkan setelah program berjalan.

"Ini memperlihatkan skrining awal peserta sangat tidak memadai. Bagaimana bisa lima orang meninggal dalam sembilan hari dari lokasi berbeda jika semuanya sudah terukur?," kritik Kahar.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore