Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Maret 2026, 03.04 WIB

143 Juta Orang Mulai Pergi Mudik Lebaran, Pemudik Diimbau Gunakan Analisis Cerdas untuk Cegah Potensi Kemacetan

Ilustrasi kepadatan kendaraan mudik di GT Warugunung. (Alfian Rizal/ Jawa Pos) - Image

Ilustrasi kepadatan kendaraan mudik di GT Warugunung. (Alfian Rizal/ Jawa Pos)

 

 JawaPos.com - Gelombang arus mudik Lebaran diperkirakan mulai terjadi sejak Kamis (13/3). Pemerintah mencatat jumlah pemudik tahun ini diproyeksikan mencapai 143,91 juta orang.

Kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama masyarakat, sehingga berpotensi memicu kemacetan, terutama di ruas jalan tol yang meninggalkan Jakarta.

Berdasarkan hasil kajian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pemudik tahun ini diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,6 persen dari total populasi Indonesia. Angka tersebut menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat selama periode mudik Lebaran.

Dari total tersebut, mobil pribadi diperkirakan tetap menjadi moda transportasi yang paling banyak digunakan. Tercatat sekitar 76,24 juta pemudik diproyeksikan menggunakan mobil pribadi untuk pulang ke kampung halaman.

Selain itu, penggunaan sepeda motor juga masih cukup tinggi. Kemenhub memperkirakan sekitar 24,08 juta orang akan melakukan perjalanan mudik menggunakan sepeda motor. Sementara itu, moda transportasi bus diprediksi mengangkut sekitar 23,34 juta penumpang selama periode mudik tahun ini.

Dominasi kendaraan pribadi, khususnya mobil, dinilai berpotensi memicu kepadatan lalu lintas. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi di sejumlah titik, terutama di ruas jalan tol yang menjadi jalur utama keluar dari Jakarta menuju berbagai daerah.

Fenomena kemacetan panjang saat arus mudik sendiri hampir selalu terjadi setiap tahun. Laporan mengenai antrean kendaraan di jalan tol, khususnya menjelang puncak arus mudik, menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola lalu lintas dan pemerintah.

Country Manager Axis Communications Indonesia, Johny Dermawan, mengatakan diperlukan langkah antisipasi untuk meminimalkan kemacetan tersebut. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi pemantauan lalu lintas yang lebih canggih.

“Salah satu cara yang bisa digunakan lewat analisis cerdas, berdasarkan pemantauan CCTV,” kata Johny dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3).

Menurut Johny, saat ini teknologi CCTV tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat pemantau biasa. Perangkat tersebut telah dilengkapi chip khusus yang mampu memproses data lalu lintas dan menghasilkan analisis yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan.

Ia menambahkan, kemacetan di jalan tol saat arus mudik sebenarnya dapat dipetakan penyebabnya. Biasanya kepadatan terjadi di pintu tol atau rest area yang penuh oleh kendaraan pemudik.

“Biasanya terjadi di pintu tol, atau rest area yang penuh,” ujarnya.

Selain itu, keberadaan pasar tumpah di sekitar pintu keluar tol juga kerap menjadi pemicu kemacetan di jalan tol. Melalui analisis cerdas dari sistem CCTV, petugas dapat lebih cepat melakukan rekayasa lalu lintas sehingga kemacetan dapat segera diurai.

Johny menegaskan, teknologi pemantauan saat ini telah menjadi komponen penting dalam membantu pemangku kebijakan dan operator mengelola mobilitas masyarakat selama periode lalu lintas padat, termasuk saat arus mudik Lebaran.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore