Aparat kepolisian coba menghalau massa saat penjarahan rumah menteri Keuangan Sri Mulyani, di Mandar, Bintaro 3A, Minggu (31/8) dini hari. (@info_ciledug)
JawaPos.com - Bangsa Indonesia tidak lama lagi akan memperingati pemberontakan berdarah Gerakan 30 September atau kerap disebut G30S. Saat ini, di tengah masyarakat berkembang kekhawatiran munculnya gerakan komunis klasik.
Sejumlah kalangan menilai narasi munculnya komunis klasik tersebut sebatas provokasi semata. Analisa tersebut disampaikan pengamat intelejen dan terorisme Ridlwan Habib.
Dia mengatakan, munculnya narasi-narasi provokatif itu sangat berbahaya. Apalagi menjelang peringatan G30S. Narasi seperti itu rawan dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk merusak soliditas bangsa.
Ridlwan tetap meyakini bahwa kekuatan toleransi masyarakat Indonesia masih kuat. Khususnya untuk menghadapi provokasi semacam itu.
"Kalau disebut dengan relevansi, saya kira model-modelnya sudah berubah. Gerakan komunisme dalam perspektif lamanya sudah tidak ada," katanya, Selasa (16/9).
Ridlwan melihat sekarang ini yang lagi digandrungi, terutama oleh anak muda adalah yang disebut dengan kiri jauh atau kiri liberal. "Atau yang sering disebut dengan anarko-sindikalis," kata dia.
Menurut Ridlwan, gerakan atau pemahaman anarko berkembang menjadi konsep tidak memerlukan sistem pemerintahan. Kemudian memandang DPR juga tidak ada hukum yang berlaku. Karena itu, diperlukan penegakan hukum yang harus tegak.
"Ini ide-ide anarki, merusak tatanan sendi kemasyarakatan, apalagi kalau kemudian merusaknya dalam bentuk fisik," jelasnya.
Misalnya membakar gedung, menyerang polisi, merusak pos polisi, dan seterusnya. Tindakan seperti itu, menurut Ridlwan tidak boleh dibiarkan. Apalagi Indonesia adalah negara hukum.
Meskipun begitu, Ridlwan meyakini kuatnya persatuan dan toleransi di Indonesia masih terjaga sampai sekarang. "Ya, kalau di masyarakat pada umumnya sih saya insya Allah meyakini kekuatan toleransi kita masih sangat kuat," kata Ridlwan.
Pasca peristiwa demonstrasi besar beberapa hari lalu, Ridlwan menilai Indonesia saat ini sudah dalam kondisi yang aman dan kondusif. Namun, munculnya indikasi narasi berbahaya di media sosial yang mulai berkembang di kalangan Gen Z perlu disikapi oleh aparat keamanan dengan serius.
Khususnya terkait tren narasi eat the rich yang berpotensi dipahami secara sederhana dan keliru. "Saya melihat indikasinya mulai muncul, dan ini harus disikapi secara serius oleh aparat keamanan," jelasnya.
Ridlwan menjelaskan, fenomena itu mirip dengan yang terjadi di Nepal. Yaitu para Gen Z memulai gerakan kritik sosial melalui sorotan pada kehidupan glamor anak-anak pejabat (nepo baby). Di sisi lain, kondisi ekonomi rakyat Nepal sedang dalam tekanan berat.
"Ada yang kemudian akun-akun anonim yang memprovokasi agar kita tiru Nepal. Ada sweeping terhadap orang-orang kaya, nah ini menurut saya bahaya," katanya. Ridlwan menyampaikan kekhawatirannya terkait maraknya perdebatan di media sosial X mengenai narasi eat the rich.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Prediksi Skor Villarreal vs Deportivo La Coruna di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Amankan 3 Poin!
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
