Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Juli 2025 | 04.31 WIB

Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali, Pakar ITS: 90 Persen Kecelakaan Kapal Terjadi karena Kelalaian Manusia

Tampilan KMP Tunu Pratama Jaya semasa masih beroperasi, sebelum tenggelam di Selat Bali. (istimewa) - Image

Tampilan KMP Tunu Pratama Jaya semasa masih beroperasi, sebelum tenggelam di Selat Bali. (istimewa)

JawaPos.com - Pakar transportasi laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Setyo Nugroho menanggapi kecelakaan Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya yang karam di Selat Bali, Kamis (3/7) lalu.

Ia menyebut kecelakaan kapal sering kali terjadi karena faktor alam dan kelalaian manusia. “Hampir 90 persen kecelakaan kapal terjadi karena kelalaian manusia,” ungkap dosen yang akrab disapa Yoyok itu di Surabaya, Senin (7/7).

Menurut dia, tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya kembali menjadi pengingat untuk mengevaluasi sistem keselamatan transportasi laut di Indonesia secara menyeluruh, terutama di jalur penyeberangan antarpulau.

Selain faktor kelalaian manusia, Yoyok yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS mengatakan bahwa kurangnya pemeliharaan pada mesin kapal juga kerap menjadi pemicu terjadinya kecelakaan.

"Dari faktor kelalaian manusia tersebut, sebanyak 80 persennya terjadi karena muatan yang tidak ditangani dengan benar,” imbuh alumnus Magister Delft University of Technology, Belanda ini.

Cuaca ekstrem juga menjadi faktor penyebab yang tidak bisa diabaikan. Sebab dalam beberapa tahun terakhir, kondisi cuaca laut yang berubah-ubah dan sulit diprediksi memperbesar potensi kapal mengalami gangguan stabilitas.

Yoyok menduga kecelakaan yang dialami KMP Tunu Pratama Jaya disebabkan oleh beberapa faktor secara bersamaan. Mulai dari cuaca buruk, pengoperasian kapal yang tidak sesuai prosedur, hingga kondisi mesin yang kurang dirawat.

"Cuaca yang tidak stabil menyebabkan tingginya gelombang air laut yang membahayakan kapal. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan pelayaran di Indonesia perlu menjadi perhatian serius,” jelas Yoyok.

Untuk menekan risiko kecelakaan kapal, penting untuk melakukan evaluasi standar operasional pelayanan secara menyeluruh, seperti prosedur pemuatan, perawatan kapal, hingga pengelolaan navigasi.

Sistem manajemen muatan diperlukan juga perlu diperbaiki agar muatan kapal sesuai kapasitas dan stabilitasnya. Akademisi berperan besar dalam mempercepat upaya memajukan sistem transportasi laut Indonesia.

Sebelumnya, Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya dilaporkan terbalik dan tenggelam di Selat Bali saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali.

Laporan dari Dermaga LCM Gilimanuk mengungkapkan bahwa KMP Tunu Pratama Jaya sempat mengirim sinyal darurat pada Kamis (3/7) pukul 00.16 WITA. Lalu pada pukul 00.19 WITA, kapal mengalami blackout.

Berdasarkan data manifest, saat peristiwa nahas tersebut terjadi di titik koordinat -08°09.371', 114°25, 1569, KMP Tunu Pratama Jaya sedang membawa 65 orang, dengan rincian 53 penumpang dan 12 kru kapal. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore