
Seorang anak berada di jendela rumah yang bertuliskan mural ajakan untuk tetap dirumah di kawasan Depok, Jawa Barat, Kamis (16/4). Pemerintah menyatakan bahwa masih terjadi penularan virus corona di masyarakat yang membuat jumlah pasien Covid-19 kembali b
JawaPos.com - Selain menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pemerintah pusat menggantungkan harapan besar pada kesigapan desa dalam memutus rantai persebaran Covid-19.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menyampaikan, hingga saat ini sudah lebih dari 40 ribu desa yang membentuk relawan untuk melawan Covid-19. ”Dari jumlah desa tersebut, total relawan berjumlah lebih dari 1 juta warga,” jelas dia kemarin (19/4).
Lebih lanjut, Halim mengungkapkan, 42 persen desa di Indonesia telah melakukan aktivitas pemantauan pemudik. Total pemudik yang telah terpantau tersebut tersebar di 31.615 desa.
Di samping pendataan pemudik, desa-desa tersebut menyediakan ruang khusus untuk tempat isolasi pendatang. ”Ruangannya biasanya di kantor desa atau di sekolah, ” jelasnya.
Kemendes PDTT mencatat, yang telah mendirikan ruang isolasi berjumlah 8.954 desa dengan fasilitas lebih dari 35.000 tempat tidur. Ruang isolasi tersebut berada di balai desa, ruang pertemuan desa, maupun gedung lain yang ada di desa. Misalnya, gedung PAUD, sekolah, maupun rumah penduduk yang dikosongkan. Ruang-ruang itu telah dilengkapi kamar mandi, air, listrik, dan logistik.
Sementara itu, hingga Minggu (19/4) ada sekitar 24.519 warga yang masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP). Mereka tersebar di sejumlah desa di 17 provinsi. Di antaranya, Provinsi Jawa Barat ada 1.779 desa dengan 11.832 ODP, Riau 168 desa dengan 8.988 ODP, NTB 67 desa dengan 891 ODP, dan Bali 208 desa dengan 501 ODP.
Kemendes PDTT mencatat, ada 40.098 desa di 33 provinsi yang telah membentuk Tim Relawan Desa Lawan Covid-19. Jumlah itu sekitar 53 persen dari total desa di Indonesia. Sedangkan relawan berjumlah 1.089.923 orang.
Selain itu, desa telah memiliki panduan pencegahan sehingga membantu pelaksanaan di lapangan. Sejumlah aktivitas tercantum dalam panduan tersebut. Misalnya, edukasi tentang virus korona kepada masyarakat hingga penyiapan dan penanganan logistik terkait isolasi maupun kepentingan lain.
Desa yang telah membentuk tim relawan telah mengaktifkan pos jaga di gerbang desa yang stand by 24 jam. Ini sangat berperan untuk mendata dan memeriksa tamu yang memasuki desa. Pendataan tersebut meliputi kondisi kesehatan dan domisili sebelum memasuki desa. Apabila ada pendatang yang kondisinya kurang sehat, relawan akan mencatat dan merekomendasikan isolasi mandiri. ’’Lebih dari 84 ribu desa telah membentuk pos jaga desa, sebagai upaya untuk pemantauan warga yang masuk maupun keluar wilayah desa selama 24 jam,” kata Halim.
Selain pemantauan, pos jaga desa mampu memberikan rasa aman bagi warga. Sebab, warga akan merasa desanya diawasi dan dijaga sesuai anjuran pemerintah dalam mencegah penularan virus korona.
Pos jaga desa juga memberikan rekomendasi dan saran, khususnya bagi warga desa yang datang dari wilayah episentrum korona. Saran itu tentang apa yang harus dilakukan demi mencegah penularan. ”Pemudik langsung berstatus ODP, maka tugas relawan adalah menyiapkan ruang isolasi desa,” kata Mendes PDTT Halim.
Halim menekankan, keberhasilan pencegahan penularan virus korona bergantung dari peran serta masyarakat sebagai garda terdepan. Dari cakupan RT, RW, dusun, desa, kelurahan, akan berdampak ke cakupan yang lebih luas. ”Kita yakin, kalau tiap-tiap desa melakukan penanganan serius sebagaimana harapan kepala gugus tugas tadi, desa mandiri, maka scope kecil selesai, otomatis akumulasi dari scope kecil tadi akan berdampak pada yang lebih luas. Bahkan sampai nasional,” tegas Halim.
Sementara itu, pertumbuhan pasien positif masih masif di berbagai daerah. Pada periode 18 hingga 19 April 2020, tercatat peningkatan 327 kasus positif sehingga total kasus positif adalah 6.575 orang. Sedangkan pasien yang sembuh bertambah 55 orang dengan total 686 orang. Lebih banyak daripada penambahan 47 kasus kematian menjadi total 582 kasus. Dalam hal ini, Provinsi DKI Jakarta menjadi wilayah dengan sebaran pasien sembuh terbanyak, yakni 234, disusul Jawa Timur sebanyak 98, Jawa Tengah 51, Jawa Barat 45, Sulawesi Selatan 43, Bali 38 pasien.
Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan, jumlah penambahan kasus positif tersebut sekaligus menjadi indikator bahwa penularan virus SARS-CoV-2 masih masif di tengah masyarakat. Karena itu, pemerintah kembali menegaskan agar masyarakat mematuhi anjuran protokol kesehatan.
Data yang dicatat tersebut diambil dari hasil uji spesimen sebanyak 47.478 yang dilakukan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) di 35 laboratorium. Sebanyak 42.219 kasus spesimen yang diperiksa didapatkan data 6.575 positif dan 35.644 negatif.
Kemudian, untuk jumlah orang dalam pemantauan (ODP) terdapat penambahan 2.539 sehingga total menjadi 178.883 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) bertambah 2.667 dengan total menjadi 15.646 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 250 kabupaten/kota di tanah air.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=vPoMYrC2CMw
https://www.youtube.com/watch?v=5mb_rVhKx1U
https://www.youtube.com/watch?v=RaZQJmwBZkc

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
