Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Mei 2018 | 22.24 WIB

Hardiknas, Presiden PKS Sesalkan Tradisi Membaca Bangsa yang Rendah

Presiden PKS Sohibul Iman - Image

Presiden PKS Sohibul Iman

JawaPos.com - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diselenggarakan pada setiap tanggal 1 Mei menuai tanggapan yang beragam dari berbagai elemen masyarakat. Kondisi ini pun juga ditanggapi oleh Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M. Sohibul Iman.


Menurutnya, saat ini masih ada pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan dari kepemimpinan sejak jaman Indonesia merdeka. Salah satunya melaksanakan amanat pembukaan undang-undang dasar mengenai mencerdaskan kehidupan bangsa.


Dia mengatakan, misi bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa masih menjadi tema abadi yang belum tercapai. Bahkan, tantangan itu pun dirasanya akan terasa jauh semakin berat dari sebelumnya.


"Dibandingkan diawal-awal (jauh lebih berat), karena landscape kehidupan sosial sekarang, geopolitik sekarang," kata Sohibul dalam acara seminar yang diselenggarakan oleh PKS di Hotel Aston, Jakarta, Rabu (2/5).


Bahkan, Sohibul membawa teori yang dibawakan oleh filsuf terkenal Karl Marx. Dalam uraiannya, saat ini Indonesia berada dalam super struktur dunia yang tengah mengecengkram para negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.


"Kita tidak bisa lepas dari super struktur dunia dan posisi hari ini kita Indonesia berstatus sebagai sub struktur dunia," tuturnya.


Dengan kondisi geopolitik bangsa yang berada di super struktur dunia, kata Sohibul, langkah Indonesia untuk menjadi negara yang lebih maju lagi akan semakin sulit. Begitupula dalam bidang pendidikan.

"Mau enggak mau kondisi geopol internasional itu sangat mempengaruhi kita nah landscape ini sekarang menjadi berat buat kita," tukasnya.


Karena itu, dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, Sohibul pun mengusulkan untuk setiap warga negara Indonesia untuk meningkatkan minat membaca. Pasalnya, kehadiran perkembangan teknologi seperti sosial media dan internet membuat tingkat keinginan membaca sangat rendah.


Parahnya, Sohibul pun mengeluhkan tradisi anak-anak bangsa yang mulai gampang termakan berita bohong (hoaks) tanpa membaca isi dari konten tulisan itu. Apalagi, orang-orang pun kerap ikut meneruskan berita hoaks di jejaring sosial medianya.


"Saya sangat mengkhawatirkan anak-anak sekarang ini hobinya memfoward yang belum dibaca aja udah di forward ini artinya baca itu sebetulnya hal mendasar kalau orang ingin cerdas," tuturnya.


Atas dasar itu, Sohibul menginginkan pemimpin yang dapat menghadapi tantangan mencerdaskan kehidupan bangsa. Begitu pula pemimpin yang dapat mencintai ilmu pengetahuan dan mempunyai tauladan dengan menyukai membaca.


"Kalau seorang pemimpin tidak pernah baca, bacanya doreamon misalnya, kan ada tuh saya liat tuh bacanya apa masa baca doreaemon masa terkait masalah futuristik alias fiksi," tukasnya.


Menurut Sohibul, persoalan ini lah yang masih menjadi tantangan para pemimpin Indonesia ataupun pemimpin bangsa pada masa depan nantinya. Dengan menyelesaikan masalah ini, bukan tidak mungkin Indonesia akan dapat bersaing dengan bangsa Indonesia lainnya.


"Sekarang pun persaingan di tingkat internasional ini untuk menunjukan tentang bahwa kita bangsa yang kompetitif secara intelegensi. Ini juga mendapat tantangan yang sangat luar biasa sekarang orang sering menyebut sebagau masayarakat yang berbasik pada pengetahuan," pungkasnya.


Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore