Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 Juli 2022 | 19.10 WIB

Gelaran Macapat BPNB DIY untuk Lestarikan Budaya dan Merespons Zaman

Kepala BPNB DIY Dwi Ratna saat membuka sarasehan dan pagelaran - Image

Kepala BPNB DIY Dwi Ratna saat membuka sarasehan dan pagelaran

JawaPos.com - Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY menggelar sarasehan macapat dengan tajuk “Serat Sri Sadana Menuju Ruwat Bumi Nusantara” Kamis (28/7/2022). Acara yang digelar ini menembangkan serat Sri Sadana dan membedah isinya. Ditembangkan kalangan generasi muda dari siswa Bale Sinden Sore, pagelaran ini ditujukan bagi generasi muda agar merawat budayanya dan dapat mengambil nilai darinya untuk merespons zaman.

Kepala BPNB DIY Dwi Ratna Nurhajarini menjelaskan pagelaran “Serat Sri Sadana Menuju Ruwat Bumi Nusantara” sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan. “Setidaknya ada dua upaya pemajuan kebudayaan dalam kegiatan tersebut,” jelasnya, Kamis (28/7/2022). Pertama memberikan ruang ekspresi budaya lokal untuk dikembangkan, kedua memudahkan akses kebudayaan pada masyarakat luas.

“Macapat ini merupakan kekayaan budaya jadi sebisa mungkin dibuat ruang mempelajarinya dan aksesnya juga harus dibikin mudah agar masyarakat luas dapat ikut menikmatinya,” jelas Ratna.

Pagelaran tersebut merupakan yang kedua kali dilakukan pada tahun ini oleh BPNB DIY. Berlangsung di Hotel Alana, Jogja, gelaran kali ini diikuti 55 peserta lintas generasi. Pilihan serat Sri Sadana kali ini, menurut Ratna, juga untuk merespons masalah zaman, khususnya lingkungan dan ketahanan pangan.

“Saya dulu yang meneliti serat Sri Sadana ini, ada banyak nilai, ajaran, dan filosofi dalam serat ini yang masih relevan hingga sekarang khususnya untuk mengatasi masalah ketahanan pangan,” tutur Ratna.

Nilai-nilai yang dikandung dalam serat tersebut, jelas Ratna, penting untuk terus diajarkan ke generasi muda. “Sarasehan ini cukup berimbang pesertanya terutama jumlah generasi mudanya, jadi harapannya mereka bisa mengerti dan mau belajar terhadap serat-serat jawa kuno,” ujarnya.

Pembedah serat dalam sarasehan tersebut adalah Rudy Wiratama. Dosen Sastra Jawa UGM tersebut menjelaskan banyak kandungan nilai, ajaran, dan filosofi kehidupan yang diajarkan dalam serat Sri Sadana. Rudy menjelaskan serat ini awalnya ditulis oleh Mpu Kalangwan pada tahun Suryasangkala 853, lalu digubah ulang oleh R. Ng. Ranggawarsita.

“Serat ini menceritakan perjalanan seorang Dewi Sri mencari adiknya, tapi dalam perjalanan ia menemui desa yang hijau makmur,” tutur Rudy. Nilai kejujuran dan rasa syukur dalam serat ini, jelas Rudy, bertaburan dalam cerita. “Jadi kalau mau sejahtera ada dua kunci yaitu jujur dan bersyukur menurut serat Sri Sadana,” jelasnya.

Rudy menyebutkan banyak contoh perumpamaan yang diberikan dalam serat ini. “Petuah terhadap nilai-nilai tersebut disampaikan dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan keseharian,” tandasnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore