
DARI BERBAGAI KALANGAN: Makam Gus Dur di Desa Cukir, Tebuireng, Jombang, kemarin. (I’IED RAHMAT RIFADIN/JAWA POS)
Ke Makam Gus Dur di Tebuireng, Jombang, Peziarah Tak Henti Mengalir
Pada akhir pekan, tanggal merah, atau menjelang Ramadan, peziarah bisa sampai 15.000 orang dalam sehari, termasuk dari kalangan pemeluk agama lain. Aliran rezeki bagi para pedagang sampai warga penyedia penginapan.
I’IED RAHMAT RIFADIN, Jombang
---
MUNAWAROH masih ingat betul hari-hari sulit ketika Kawasan Makam Gus Dur (KMGD) ditutup akibat pandemi Covid-19. Dia tak bisa berjualan dan terpaksa harus menggantungkan hidup pada tabungan.
’’Mbek ngandalno bantuan pemerintah (Sama mengandalkan bantuan pemerintah),” kata penjual minuman keliling di KMGD itu kepada Jawa Pos Rabu (27/7) lalu.
Hal serupa dialami Muhammad Irfan. Penjual jajanan pentol yang lapaknya tepat di depan pintu masuk utama makam itu mengatakan, selama tutup dirinya terpaksa banting setir menjadi kuli proyek. ’’Apa aja dikerjakan,” ucapnya.
Dengan pengunjung yang tak pernah berhenti mengalir, makam Presiden Ke-4 Indonesia Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memang menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak sekali orang. Jadi, bisa dibayangkan dampaknya ketika makam harus ditutup selama 21 bulan akibat Covid-19.
Ditutup mulai Maret 2020 hingga dibuka lagi pada 1 November 2021.
Sunali yang sehari-hari berjualan kaus bergambar mantan ketua umum PB Nahdlatul Ulama (NU) itu maupun gambar sang kakek, pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, mengaku memilih tetap buka ketika makam Gus Dur tutup. Sebab, pengunjung memang tetap ada meski tidak seramai ketika pintu gerbang utama dibuka lagi seperti saat ini. ’’Daripada ndak ada kegiatan di rumah,” ucapnya.
Gus Dur, tokoh besar yang humoris itu, berpulang pada 30 Desember 2009. Sejak itu, makamnya yang berada di area Pondok Putra Pesantren Tebuireng di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, tersebut ramai sebagai jujukan tambahan masyarakat saat ziarah Wali Sanga keliling Jawa.
Budayawan Emha Ainun Nadjib di salah satu haul mantan ketua umum PB Nahdlatul Ulama (NU) tersebut pernah guyon, dalam sebuah kesempatan ziarah, dia sampai melihat Gus Dur hanya duduk di bawah pohon.
’’Lho kok njenengan (Anda) di situ, Gus?”
’’Iyo, Cak, durung iso ketemu malaikat, lha arek-arek gak mulih-mulih (Iya, Cak, belum bisa bertemu malaikat, lha anak-anak tidak segera beranjak,” seloroh Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Nadjib, untuk menggambarkan betapa makam Gus Dur tidak pernah sepi peziarah.
Pada hari biasa, rata-rata ada 4.000 sampai 5.000 pengunjung hilir mudik menyambangi makam sosok pengayom berbagai kalangan yang terlahir dengan nama Abdurrahman Addakhil tersebut. Pada akhir pekan, tanggal merah, atau menjelang Ramadan bahkan bisa sampai 15.000 orang dalam sehari.
’’Ada yang menyebut sekarang jadi ziarah wali sepuluh,” ucap Slamet Habib, kepala Pondok Putra Pesantren Tebuireng.
Daya tarik makam Gus Dur makin kuat karena di dalam area makam keluarga Pesantren Tebuireng juga terdapat makam Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Sejak 2018, di KMGD seluas sekitar 5 hektare tersebut juga berdiri Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari.
Pengunjung yang masuk mendapat penjelasan tentang sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia. Juga peran para santri dan ulama dalam kemerdekaan negeri ini. Semua fasilitas tersebut bisa dikunjungi gratis.
KMGD juga nyaman bagi peziarah karena memiliki area parkir luas. Cukup untuk menampung puluhan bus dan mobil-mobil pribadi yang membawa rombongan peziarah. Jarak antara area parkir dan makam tidak jauh. Masih bisa diakses dengan jalan kaki sejauh 700 meter.
’’Kalau 1 Muharam lebih banyak lagi. Jelang bulan puasa juga. Biasanya sejak tiga bulan sebelum bulan puasa, jumlah kunjungan meningkat,” ucap pria yang juga pengajar di Pesantren Tebuireng tersebut.
Karena itu, saat tutup akibat pandemi Covid-19, dampaknya langsung terasa bagi ratusan pedagang di KMGD yang menggantungkan hidup pada aktivitas jual beli para peziarah. Selain mereka, ada tukang foto keliling, penjaga parkir, jasa toilet umum, dan penginapan kecil-kecilan di rumah warga yang turut mendapat aliran rezeki dari keramaian di makam Gus Dur.
’’Ini barokah e Gus Dur, iso terus nguripi seng urip (Ini berkahnya Gus Dur, bisa terus menghidupi yang masih hidup),” ucap Habib.
Saat Jawa Pos berkunjung ke makam Gus Dur lagi kemarin (28/7), peziarah memang tidak pernah putus mengalir. Apalagi, kemarin bertepatan dengan malam Jumat Legi. Pintu masuk makam dibuka pukul 08.00 sampai 15.00 WIB. Pada malam hari, makam dibuka lagi pukul 20.00 sampai 03.00 WIB.
Photo
Peziarah yang datang dari berbagai kalangan dan kota mengalir ke makam presiden ke-4 Indonesia itu. (I’IED RAHMAT RIFADIN/JAWA POS)
Agus Siswanto, salah seorang peziarah, menyebut dirinya datang dengan rombongan 75 orang dari Jepara. Dia dan rombongan menggunakan dua bus besar. ’’Habis dari Gresik (Sunan Giri) dan Surabaya (Sunan Ampel) terus ke sini. Setelah ini bablas balik Jepara,” ucapnya.
Rifki Hawari, protokoler Pesantren Tebuireng, mengatakan, peziarah makam Gus Dur bukan hanya umat Islam. Sebagai tokoh yang semasa hidup sangat peduli pada kerukunan umat beragama, makam Gus Dur juga kerap didatangi rombongan-rombongan komunitas nonmuslim.
Di antaranya, komunitas Tionghoa, jemaat gereja, perkumpulan biksu, dan rombongan pastor pernah berkunjung ke sana. Tidak hanya dari Indonesia, tapi juga dari berbagai negara.
Pada 2018, misalnya, perkumpulan pastor dari Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat berkunjung ke Tebuireng. Selain ingin berziarah ke makam Gus Dur, mereka bermaksud melihat dari dekat pendidikan Islam di pesantren.
’’Jadi, para pastor itu pengin mondok. Mereka menginap dua hari di sini,” ucap Hawari.
Saat masih tutup akibat pandemi pun, seperti dituturkan Sunali, tetap banyak masyarakat yang datang. Meski tahu tidak bisa masuk dan melihat langsung makam Gus Dur, mereka tetap ingin melantunkan tahlil di depan pintu gerbang sampai meluber ke trotoar jalan.
Banyak juga yang melantunkan doa di hadapan tembok pembatas samping area makam Gus Dur. Tembok itu terletak di dalam pemakaman umum warga Desa Cukir. Dua tempat tersebut memang bersebelahan. Sama-sama di barat Pondok Putra Pesantren Tebuireng. Hanya dibatasi sebuah tembok setinggi 4 meter.
Jadilah para peziarah Gus Dur berjajar menggelar tikar di depan tembok di pemakaman umum tersebut. "Sampai saat itu ada yang usul, temboknya diganti kaca saja agar tetap bisa melihat makam Gus Dur,” ucap Habib. (*/c7/ttg)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
