
Jokowi dalam membuka Rakernas LDII 2023.
JawaPos.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja menyampaikan tantangan mengenai Indonesia Emas 2045, dalam Acara Peresmian Pembukaan Rakernas LDII di Jakarta, Selasa (7/11).
Jokowi mengatakan bahwa Indonesia diberikan peluang karena bonus demografi di tahun 2030 an memang biasanya dalam sebuah peradaban negera itu diberi kesempatannya hanya satu kali.
Menurut Jokowi kesempatan itu akan terwujud jika Indonesia bisa melaksanakan, melakukan lompatan atau tidak dan kuncinya di pembangunan sumber daya manusia.
"Tinggal kita bisa melaksanakan, melakukan lompatan atau tidak dan kuncinya betul seperti disampaikan Pak Kriswanto, adalah di pembangunan sumber daya manusia," kata Jokowi seperti yang dikutip JawaPos.com dari YouTube sekretariat presiden, Selasa (7/11).
Presiden RI kemudian mengaku jika faktor kebangsaan, keagamaan, pendidikan, dan kesehatan membentuk sebuah karakter manusia yang betul-betul Indonesia.
Ia lalu mengakui bahwa untuk menuju Indonesia Emas 2045 itu tidaklah mudah karena banyak tantangan yang harus bangsa ini selesaikan.
Baca Juga: Songsong Indonesia Emas 2045, Generasi Z Didorong Mulai Wirausaha Mumpung Masih Muda
"Akan tetapi menuju Indonesia Emas 2045 itu tidak mudah, banyak tantangan yang harus kita selesaikan," ujarnya.
"Di Amerika Latin banyak negara gagal melompat menjadi negara maju, tahun 50an, tahun 60 an, tahun 70an, mereka sudah menjadi negara berkembang tetapi sampai sekarang mereka juga tetap hanya menjadi negara berkembang, malah ada yang jatuh menjadi negara miskin," tambahnya.
Menurutnya masalah dari hal tersebut ialah saat diberi kesempatan dan tidak menggunakannya, Jokowi berpesan jika hal tersebut yang tidak ingin terjadi di Indonesia.
"Problemnya adalah diberi kesempatan dan tidak menggunakan, ini yang kita tidak mau itu terjadi di negara kita Indonesia" tuturnya.
"Insyaallah kita bisa!," tegasnya.
Presiden RI ke-7 itu berujar jika karakter untuk menuju Indonesia Emas 2045 harus semangat karena yang dihadapi adalah sebuah tantangan yang diselesaikan.
Jokowi berpendapat jika tahun 2024, 2029, dan 2034 merupakan sebuah momentum yang sangat menentukan Indonesia bisa melompat maju atau tidak, sehingga dibutuhkan kepemimpinan nasional yang kuat, persatuan yang kuat, dan kekompakan yang kuat.
Baca Juga: Yakin Indonesia Emas di Tangan Ganjar dan Mahfud, Ahok Ungkap Kesaksian: Ganjar Sudah Teruji
"Sering saya sampaikan 2024, 2029, dan 2034 ini adalah momentum yang sangat menentukan Indonesia bisa melompat maju atau tidak, sehingga dibutuhkan kepemimpinan nasional yang kuat, persatuan yang kuat, kekompakan yang kuat," jabarnya.
"Sekali lagi tantangan yang kita hadapi tidaklah mudah, tantangan global ini justru yang banyak memang dari tantangan global. Satu, ketidakpastian ekonomi global, gak jelas ini ekonomi global arahnya mau kemana, baru bisa menyelesaikan satu saja muncul persoalan yang lain," imbuh Pria kelahiran Surakarta tersebut.
Jokowi kembali menegaskan bahwa untuk mencapai Indonesia Emas 2045 bangsa ini harus memiliki kepemimpinan yang kuat. Ia menjelaskan jika perubahan iklim juga termasuk sebagai tantangan global, alasannya karena sulit dihitung dan sulit diprediksi.
"Sekarang sudah nyata, kekeringan hampir di semua negara sekarang ini terjadi. Panas bumi yang naik, gelombang panas, kita ada tujuh provinsi kemarin kekeringan sehingga produksi beras kita menurun, semuanya merasakan," ungkap Jokowi.
"Sehingga kalau dulu impor beras semua negara menyodorkan, pak kami punya sekian juta ton, kami punya, kami punya. Sekarang ini mau impor beras sulit mencari barangnya, semua negara mengerem tidak mengekspor beras untuk menyelamatkan rakyatnya masing-masing," tambganya.
Baca Juga: Butuh Kerja Keras Capai Indonesia Emas 2045, Menko PMK Sebut Tak Bisa Ditangani Pemerintah Saja
Katanya, jika ada 22 negara yang dulu menjadi pengekspor beras dan sekarang mereka mengerem tidak mengekspor berasnya lagi, dari hal itu menyebabkan kedaulatan pangan itu harus menjadi program Indonesia ke depan.
Menurut Jokowi fakto perang juga berdampak pada ekonomi global, salah satunya perang di Ukraina dan perang di Gaza Palestina.
"Ketiga itu perang, perang di Ukraina belum rampung ditambah lagi sekarang dengan perang di Gaza," jelasnya.
"Kelihatannya dulu saya berpikir, kita semua berpikir sama, Ukraina itu jauh sekali dari Indonesia, apa dampaknya, gak akankah berdampak ke kita. Ternyata dampaknya nyata dan ada, kita impor itu gandum 11 juta ton loh pertahun, ternyata 30 persen itu impornya dari Ukraina dan dari Rusia," timpalnya.
"Ternyata juga, bahan baku pupuk kita itu bahan bakunya berasal dari Rusia, Ukraina, dan Belarusia, sehingga harga gandum dan pupuk juga ikut naik," sampainya.
***

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
