Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Mei 2026 | 05.33 WIB

Robot Raksasa dan Cermin Gangguan Jiwa: Mengeksplorasi Mental Illness dalam 'Neon Genesis Evangelion'

Neon Genesis Evangelion. (Istimewa) - Image

Neon Genesis Evangelion. (Istimewa)

JawaPos.com - Di permukaan, Neon Genesis Evangelion mungkin tidak lebih dari sebuah anime yang mengisahkan pertarungan manusia melawan alien menggunakan robot raksasa. Namun di balik visual spektakulernya, anime mahakarya Hideaki Anno ini justru dikenal sebagai salah satu eksplorasi paling jujur tentang kesehatan mental manusia.

Lebih dari dua dekade sejak penayangannya pada 1995 sebelum kemudian di-reboot menjadi empat film layar lebar terpisah dengan tema Rebuild of Evangelion pada 2007-2021, tema-tema yang diangkat Evangelion terasa semakin relevan di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap isu mental illness.

Mari kita bedah:

1. Depresi dan Rasa Tidak Layak

Karakter utama Evangelion, Shinji Ikari, adalah potret nyata dari individu yang bergulat dengan depresi yang berkecamuk dalam dirinya. Sosok Shinji menjadi sangat menarik karena ia merupakan anti-tesis dari protagonis generik pada umumnya.

Shinji bukanlah seorang jagoan konvensional yang umumnya digambarkan sebagai karakter yang tangguh dan berkharisma. Alih-alih demikian, Shinji justru dihadirkan sebagai sosok anak muda yang lemah, tidak merasa layak dalam kehidupan sosial, takut akan penolakan dan punya keinginan untuk menghilang dari tekanan dunia.

Dalam banyak hal, kondisi ini mencerminkan apa yang dalam pendekatan terapi kognitif-perilaku (CBT) disebut sebagai pola pikir disfungsional, yaitu cara berpikir yang memperkuat kecemasan dan depresi.

Psikolog Aaron Beck, pelopor CBT, pernah menegaskan bahwa, "Cara kita berpikir sangat menentukan bagaimana kita merasa dan bertindak,”.

Dalam konteks ini, Shinji bukan sekadar anak yang bermental lemah, tetapi seorang yang terjebak dalam siklus pikiran negatif yang membuatnya sulit melihat nilai dirinya sendiri. "Apakah aku pantas berada di sini?" adalah sebuah pertanyaan berulang yang kerap muncul di kepalanya.

Di kehidupan nyata era modern, pertanyaan tersebut juga bergema di kalangan generasi muda yang menghadapi tekanan sosial, ekspektasi tinggi, dan krisis identitas.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore