Poster film Bugonia karya Yorgos Lanthimos.
JawaPos.com — Bugonia bukan sekadar film fiksi ilmiah absurd. Disutradarai oleh Yorgos Lanthimos, film ini resmi dirilis pada 24 Oktober 2025 (rilis terbatas), kemudian 31 Oktober 2025 untuk penayangan umum internasional.
Bugonia dikemas dengan plot gelap tentang paranoia, trauma, dan kehancuran ekologis yang disamarkan di bawah selimut satire.
Pada awal cerita, penonton diperlihatkan pada tindakan dua pemuda—Teddy dan Don—yang terobsesi oleh teori konspirasi. Obsesi itu mendorong mereka menculik Michelle Fuller, CEO perusahaan farmasi Oxalith. Mereka yakin bahwa Michelle adalah alien Andromeda yang sedang menyamar di Bumi.
Dengan premis tersebut, film ini tidak saja membingungkan dan mengejutkan secara plot, tetapi juga memaksa penonton merenungkan struktur kekuasaan, keserakahan, dan konsekuensi dari tindakan manusia terhadap planet ini.
Namun, seperti pola khas sineas Yorgos Lanthimos, narasi literal hanyalah pintu masuk menuju sesuatu yang jauh lebih filosofis: pertanyaan soal kewarasan massal dan kegilaan terstruktur dalam masyarakat modern.
Intro film dirancang untuk merangkul pembaca umum: komikal, membingungkan, tapi memikat. Sinematografi Robbie Ryan memperkuat intensitas itu lewat close-up konfrontatif yang mengunci wajah karakter, memaksa penonton menyelam ke ruang batin mereka.
Untuk memahami ‘teori di balik film’ yang bersembunyi di bawah kekacauan estetika itu, Jawa Pos akan mengurainya melalui beberapa lapis pendekatan, berdasarkan penjelasan kanal YouTube Brain Pilot berikut:
1. Keruwetan yang Dirancang Mulus: Gaya Khas Visual Film Yorgos Lanthimos Sebagai Perangkat Kritik
Lanthimos dikenal melalui eksperimennya di Poor Things yang menonjolkan keanehan sebagai bahasa. Dalam Bugonia, kegilaan bukan aksesori, melainkan metode untuk mengganggu radar moral dan kebenaran yang dirasakan penonton.
Teddy dan Don bukan sekadar penculik; mereka adalah seorang ekstremis dari “overthinking internet culture,” ketika trauma seseorang bertemu algoritma dan membentuk keyakinan di luar realitas.
Film menggemakan garis formalistik Lanthimos: komedi yang tajam, ritme dialog yang kaku, dan karakter yang tampak dingin justru agar tema sosialnya terasa makin panas.
2. Perusahaan Farmasi sebagai Akar dan Luka

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
