Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Agustus 2025 | 03.42 WIB

Review Film Merah Putih One for All: Sarat Pesan Positif, tapi Kurang Cocok untuk Penonton Dewasa

Trailer film animasi "Merah Putih One for All". (YouTube: Historika Film). - Image

Trailer film animasi "Merah Putih One for All". (YouTube: Historika Film).

JawaPos.com - Film animasi Merah Putih One for All tayang perdana pada hari ini, Kamis (14/8), di bioskop. Film garapan sutradara Endiarto dan Bintang Takari tersebut tayang terbatas hanya di beberapa bioskop.

Film Merah Putih One for All menjadi film animasi pertama dari rumah produksi Prediksi Kreasindo. Mereka berkomitmen akan terus membuat film animasi untuk tahun-tahun mendatang bertema kemerdekaan, dan rencananya akan ditayangkan di momen perayaan hari kemerdekaan.

Film animasi berdurasi sekitar 70 menit ini menceritakan tentang sejumlah anak yang tergabung dalam tim Merah Putih. Mereka mendapat tugas menjaga bendera yang akan dikibarkan pada upacara Kemerdekaan 17 Agustus.

Namun sayangnya sebelum perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus tiba, bendera Merah Putih itu tiba-tiba hilang secara misterius tanpa diketahui siapa yang mengambilnya.

Delapan anak dari berbagai latar belakang budaya yaitu Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tiongkok yang tergabung dalam tim Merah Putih ditugaskan untuk melakukan pencarian supaya bendera dapat dikibarkan tepat pada tanggal 17 Agustus.

Mereka harus melampaui berbagai halangan dan cobaan demi mendapatkan kembali bendera Merah Putih yang hilang. Mereka harus melintasi sungai, hutan, dan pegunungan demi dapat menemukannya. Mereka melewati panas, hujan, dan badai.

Film Merah Putih One for All memang cocoknya ditonton oleh anak-anak SD atau SMP untuk tujuan mengajarkan semangat patriotisme dan nasionalisme kepada mereka. Film ini cocok untuk mereka karena pada usia itu, mereka biasanya belum menuntut kesempurnaan dalam sebuah tontonan.

Film ini kurang cocok untuk kalangan orang dewasa. Karena jika mereka menonton film ini, akan dengan mudah menemukan banyak kekurangan dalam aspek visual.

Bukan karena film animasi ini memiliki format dua dimensi (2D), film Merah Putih One for All kurang cocok untuk orang dewasa karena memiliki cukup banyak kekurangan dalam penggarapan animasi visualnya. Film ini bisa dibilang dikerjakan tidak rapi, dan pasti akan membuat penonton dewasa merasa kecewa lantaran tidak dapat memanjakan mata mereka.

Misalnya pada adegan dimana anak pencari bendera Merah Putih berjalan di atas batu melintasi sungai. Cara jalannya bisa dibilang agak aneh karena tidak rapi dalam proses pengerjaannya. Belum lagi ada salah satu karakter yang bocor bisa menembus dedaunan dan ranting.

Ada juga salah satu karakter yang tiba-tiba masuk ke dalam lumpur hidup saat berada di tengah hutan. Padahal dalam hemat saya, akan lebih menarik dan terkesan lebih dramatis apabila proses jatuhnya digambarkan dengan baik secara visual.

Orang dewasa juga kurang cocok menonton film animasi Merah Putih One for All karena film ini agak menentang logika sehat. Pasalnya, anak-anak yang akan mencari bendera Merah Putih yang hilang sempat melewati pasar. Dan pasar biasanya menjual bendera, apalagi di momen perayaan penting hari kemerdekaan.

Film ini akan lebih baik jika adegan melewati pasar dihilangkan, atau memberikan penggambaran bahwa di pasar yang dilewati memang tidak menjual bendera Merah Putih. Opsi lainnya, memberikan semacam penggambaran bahwa bendera Merah Putih yang hilang merupakan pusaka sakral warisan turun temurun yang sangat berharga dan tidak ternilai.

Untuk audio, film Merah Putih bisa dibilang cukup enak didengar sebagai sebuah tontonan meski tentu saja tidak sempurna. Hampir sepanjang film, diwarnai dengan musik dan lagu bertema nasionalisme. Bisa jadi jika film ini ditonton oleh anak-anak, akan membuat mereka tidak merasa bosan.

Terlepas dari kekurangan film animasi Merah Putih One for All, secara cerita film ini sebenarnya agak menarik. Bukan saja tentang petualangan dalam mencari bendera yang hilang, tapi sejumlah anak-anak ini tanpa disangka juga berhasil menggagalkan kelompok penjahat penangkap hewan liar yang bisa merusak ekosistem hutan.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore