Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Juli 2019 | 20.15 WIB

Disrupsi Literasi Berbahasa Jawa

Jefrianto - Image

Jefrianto

SALAH satu pertanyaan yang pernah hidup di Jawa: Di manakah saya harus mencari buku berbahasa Jawa?

Boleh dikatakan, pertanyaan tersebut kini telah punahlah adanya. Di masa kini, bila kita mencari buku-buku berbahasa Jawa, cukup dengan membuka media sosial. Lantas, tinggal ketik judul buku atau nama penulisnya dengan menggunakan fitur pencarian.

Media sosial saat ini bukan hanya tempat untuk bersosialisasi, tetapi juga media berdagang. Andai kata melalui media sosial buku yang dicari belum ketemu juga, kita bisa mencarinya di berbagai aplikasi jualan online.

Kian canggihnya teknologi selalu membuat wajah dunia berubah. Yang tadinya sulit dicari sekarang mudah ditemukan. Yang tadinya langka tiba-tiba kini ada di mana-mana.

Yang terjadi pada dunia literasi berbahasa Jawa sebetulnya lebih dari kisah itu. Pada 2018, lahirlah sebuah komunitas sastra Jawa yang bernama Komunitas Bala Jawa. Anggotanya adalah para penulis muda seperti Zuly Kristanto (Tulungagung), Impian Nopitasari (Solo), dan Asti Pradnya Ratri (Yogyakarta). Uniknya, banyak di antara anggota komunitas itu yang belum pernah bertemu secara langsung di dunia nyata. Mereka hanya bertemu dan berdiskusi dalam sebuah wadah yang berupa WhatsApp group.

Di awal 2019, mereka menggebrak dunia sastra Jawa dengan menerbitkan kumpulan geguritan yang diikuti 106 penggurit muda yang berusia di bawah 40 tahun, yang berasal dari Jawa Tengah, DIJ, dan Jawa Timur. Yang cukup mencengangkan lagi, sejak proses pengumpulan naskah hingga peluncuran buku di Taman Budaya Yogyakarta, semua dikoordinasikan via online!

Sebelum Komunitas Bala Jawa, sebetulnya juga ada komunitas sastra Jawa yang bergerak di dunia digital, yaitu Jawasastra Culture Movement. Komunitas dengan anggota para mahasiswa Sastra Jawa UGM itu bergerak di media sosial dengan meme-meme berbahasa Jawa masa kini. Mereka juga kerap mengulas budaya dan filosofi Jawa dari sudut pandang generasi milenial.

Betapa wajah Jawa telah berubah. Betapa hebat pula yang berupaya mengingkarinya.

Itu bukan isapan jempol. Masih banyak yang berupaya mempertahankan mati-matian sastra Jawa dalam wujud cetak. Mereka yakin bahwa sastra Jawa dalam wujud cetak akan tetap langgeng dan baik-baik saja. Betapa klasiknya kisah macam itu. Mirip dengan suku asli yang berhadapan dengan pendatang.

Namun, diakui atau tidak, perubahan di Jawa adalah sesuatu yang tak terelakkan. Perubahan itu seperti sedang berbicara dengan gaya seorang Thanos: I’m inevitable!

Wajah Baru Dunia Jawa

Bila ditelisik secara mendalam, penolakan terhadap perubahan di Jawa dilakukan oleh mereka yang berusia di atas 50 tahun. Mereka adalah konsumen baca yang masih setia sebagai pandhemen (pencinta) bacaan berbahasa Jawa cetak, khususnya majalah seperti Panjebar Semangat, Jaya Baya, dan Djaka Lodang.

Mereka sebenarnya juga pemakai teknologi layaknya generasi masa kini. Tetapi, kecintaan mereka pada klangenan macam majalah berbahasa Jawa memang sukar untuk diubah. Dan itu tidak masalah juga sebetulnya. Sebab, generasi lama dan generasi masa kini sebenarnya bisa berjalan beriringan secara harmonis.

Generasi masa kini yang mulai mapan dan nyaman dengan media digital bisa belajar dari produk generasi lama. Misalnya, bagaimanakah cara membangun literasi seperti halnya majalah Panjebar Semangat yang masih eksis hingga usia 80 tahun sebagai media cetak.

Namun, untuk mencapai hal macam demikian, tentu dibutuhkan keterbukaan antargenerasi. Generasi lama jangan mudah berprasangka akan ditinggalkan oleh generasi masa kini, yang pergerakannya memang lebih cepat dan fleksibel.

Di sisi lain, generasi baru jangan sampai merasa jemawa sampai-sampai menganggap generasi lama itu kuno, lambat, dan kurang praktis dalam bertindak. Generasi masa kini juga harus insaf bahwa karena generasi lamalah mereka memiliki pijakan yang mantap. Kerja sama yang apik dari keduanya justru akan membuat Jawa yang berjaya.

Selama ini memang masih banyak orang yang beranggapan bahwa dunia Jawa, termasuk literasinya, hanya patut diurus orang-orang tua. Pandangan klasik itu, rasa-rasanya, juga kian mendekati kepunahan. Di luar Komunitas Bala Jawa dan Jawasastra Culture Movement, masih ada komunitas lain yang dimotori anak-anak muda seperti halnya Komunitas Sraddha dan Komunitas Jangkah yang aktif merawat dan melestarikan sastra Jawa dalam wujud manuskrip.

Sebanyak 106 penggurit muda dalam proyek Komunitas Bala Jawa juga merupakan sebuah teladan. Penggurit yang tampil tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa, guru, ataupun dosen. Ada empat penggurit yang masih berstatus pelajar SMP dan SMA.

Jawa hari ini, rasanya, juga kian fleksibel dengan adanya berbagai kelas menulis online. Orang bisa berkomunikasi dan belajar langsung kepada praktisi atau pakar tanpa perlu meninggalkan rutinitas. Cukup dengan mengamati gawai masing-masing. Andai kata terlambat mengikuti materi, tinggal scroll percakapan ke atas atau bertanya langsung kepada mentor melalui percakapan pribadi.

Dan di sinilah saya sepakat dengan pemikiran Jack Ma. Perubahan tak bisa ditaklukkan. Ia hanya bisa dilayani. (*)

Baturraden, 2019

Jefrianto, pegiat sastra Jawa, tinggal di Banyumas

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore