
Pengamen di Kota Depok, Jawa Barat
JawaPos.com - Di berbagai sudut perkotaan, tak jarang menemui pengamen dan pengemis. Apalagi, di bulan Ramadan ini. Para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) itu mencari rezeki di bulan penuh rahmat.
Di tempat-tempat seperti depan mall, lampu merah, angkutan umum, rumah makan, dan lain-lain, akan seringkali ditemui pengamen yang memang biasa mencari pendapatan disana ataupun yang dadakan. Terlebih di bulan puasa, pengamen akan semakin membludak.
Tapi, apakah pendapatan mereka itu banyak? Reza, seorang bocah yang biasa mengamen di lampu merah Juanda, Depok, mengaku, pendapatan yang ia dapatkan kecil.
"Pendapatan saya kecil, tidak sampai Rp 100 ribu sehari. Mau dapat Rp 50 ribu saja, saya harus 'empot-empotan'," kata bocah pengamen, Reza, di lampu merah Juanda, Depok, Rabu (23/5).
Bocah laki-laki berusia 12 tahun itu mengaku telah mengamen selama 6 tahun. Ia sendiri, mengamen untuk membayar iuran sekolah yang belum lunas. "Saya kalau mengamen biasanya di lampu merah Juanda dan Pal. Pindah tempat naik angkutan umum (angkot)," tuturnya.
Dari pukul 11.00 WIB sampai 19.00 WIB, Reza mengamen. Meski telah lama mengamen di Depok, bocah ini mengaku telah dilindungi preman yang menjaga wilayah tersebut.
"Disini kalau mengamen dijaga preman. Baik-baik orangnya, tidak suka memalak. Apalagi kalau ada anak baru. Di tempat ini, tidak seperti di Blok M," bebernya.
Di lampu merah Juanda, Reza mengaku bebas mengamen. Preman yang menjaga wilayah itu pun, hanya meminta sumbangan saja. Sumbangan itu pun, dikatakan Reza seikhlasnya.
"Paling cuma kaya minta bantuan seperti ibunya lagi sakit. Semua pengamen dimintai uang. Tapi saling ganti-gantian dan bantu. Saya juga dulu pas ibu lagi sakit, semua kasih bantuan ke saya," jelasnya.
Untuk pengamen baru, dikatakan Reza tidak akan 'dipalak' oleh yang memegang wilayah tersebut. Hanya saja, untuk anak baru dan pengamen lainnya, harus sopan dan menuruti apa yang diminta oleh preman tersebut.
"Disini kita bila disuruh sama yang lebih tua seperti, beli minuman atau makanan harus mau. Berbicara juga harus sopan. Anak baru tidak boleh 'songong' ke yang tua, begitu juga saya yang pengamen muda. Kalau tidak, bisa kena imbas," terangnya.
Mengenai hal tersebut, bila preman menemui ada pengamen dan anak baru yang 'songong', maka bisa dipukul. Tapi, lanjut Reza, para pemegang wilayah tidak akan memukul di tempat usahanya.
"Kalau ditemui ada yang 'songong', bisa diajak duel. Tapi, enggak bakal di lampu merah sini, karena disini adalah tempat usaha. Malu kalau sampai ribut dan dilihat sama yang lain. Paling duel terjadi saat ditemui di luar atau diajak ke tempat lain. Disana nanti, bakal dihajar agar 'sopan'," beber Reza.
Lanjut Reza, ia kenal dengan semua preman yang berada di sekitaran jalan Margonda. Di tempatnya, preman sana menjaga para pengamen yang mencari sesuap nasi.
"Pengamen baru juga dihargai. Sama preman bakal dikasih tau 'Hati-hati ada razia Satpol PP'. Disini saling menjaga, cuma harus sopan saja," terangnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
