Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Februari 2017 | 01.23 WIB

Mengamati Saluran-Saluran yang Tertutup Box Culvert, Sering Keluarkan Bau ’’Kentut’’

JARANG DIBERSIHKAN: Tumpukan sampah dan sedimen memenuhi box culvert Banyu Urip. - Image

JARANG DIBERSIHKAN: Tumpukan sampah dan sedimen memenuhi box culvert Banyu Urip.

Box culvert masih menjadi andalan pemkot untuk menyelesaikan problem banjir sekaligus macet. Namun, kini mulai muncul pertanyaan, apakah menutupi saluran dengan beton gorong-gorong itu tidak punya dampak negatif pada masa mendatang?



BOX culvert Banyu Urip menjadi saluran terpanjang dan terbesar di Surabaya. Saluran yang disebut sebagai diversi Gunungsari itu punya panjang hampir 7 km. Memanjang dari pertigaan Pasar Kembang hingga Jalan Manukan.


Sejak diselesaikan pada 2012, Jalan Banyu Urip menjadi jalur utama yang menghubungkan pusat kota dengan Surabaya Barat. Sebelum box culvert terbangun, jalan hanya bisa dilewati dua truk berpapasan. Itu pun harus pelan-pelan karena ngepres. Kini lebar jalan bertambah dua kali lipat setelah box culvert terpasang. Saluran irigasi yang dahulu digunakan untuk mengairi sawah sekarang dilintasi segala macam kendaraan. Kemacetan sudah terurai.


Lalu, bagaimana kondisi saluran di bawah jalan raya? Untuk mengetahui jawabannya, ya harus masuk. Terdapat pintu-pintu yang bisa dibuka dari jalan raya. Untuk membukanya, perlu kekuatan otot atau alat khusus yang dimiliki satgas pematusan pemkot. Selain itu, lalu lintas yang ramai membuat pintu-pintu tersebut tidak mungkin dibuka sembarangan. Bisa macet.


Karena cara itu terlalu rumit, Jawa Pos mencari pintu air samping yang menghubungkan box culvert dengan sungai-sungai kecil. Beruntung saat itu, Jumat (3/2), pintu air Simo Pomahan sedang dibuka separo. Cukup mudah untuk menuruni sungai sedalam 2 meter lebih tersebut. Sebab, ada plengsengan yang berbentuk seperti anak tangga.


Untuk menggapai pintu air, jaraknya hanya 5 meter. Namun, perjalanan itu terasa panjang karena dasar sungai sangat licin. Untung, ada tongkat bambu yang cukup membantu. Banyak sampah yang tersangkut di bibir pintu. Paling banyak popok bayi. Karena menyerap air, popok-popok tersebut menggelembung sebesar bola voli. Dari atas, pedagang lontong balap sedang mencuci piring. Dengan enaknya dia melemparkan air cucian piring ke bawah. ”Eh, sorry, Mas. Dari pemkot nggeh. Memang perlu dibersihkan itu,” ujar pedagang yang belakangan diketahui bernama Abdul Jalal tersebut. Dari pria itulah nanti diketahui sejarah box culvert Banyu Urip. Kita simpan dulu ceritanya.


Kali pertama menengok ke dalam box culvert, terlihat pilar-pilar kukuh. Sinar matahari pagi merangsek masuk dari pintu air yang terbuka separo. Semakin jauh, lorong terlihat semakin gelap. Terdapat tiga saf box culvert yang memanjang ke barat dan timur. Cahaya yang masuk memperlihatkan bekas berwarna cokelat yang tertempel di pilar dan dinding. Bekas itu hampir menyentuh langit-langit saluran. Air bercampur lumpur tersebut menunjukkan ketinggian air. Surabaya diguyur hujan pada malam sebelumnya. Kedalaman box culvert itu mencapai 6 meter, sedangkan lebarnya 12 meter. Tak terbayang betapa derasnya aliran air yang lewat saat itu.


Namun, pagi itu air sudah surut. Aliran dari Kali Simo mengalir landai menuruni saluran box culvert. Aliran terbagi menjadi dua. Satu ke arah timur menuju saluran di Simo Mulyo hingga boezem Morokrembangan. Sedangkan yang ke arah barat membawa aliran air hingga ke Sungai Balong.


Air yang mengalir di dekat pintu air membentuk kolam. Tiga meter dari bibir pintu air sudah terlihat sedimentasi menumpuk. Kedalaman sedimentasi tersebut diperkirakan mencapai 2 meter lebih hingga dasar saluran. Di atas tumpukan lumpur itu, terlihat berbagai macam sampah tersangkut. Ranting-ranting pohon dan sampah plastik menumpuk. Jangan tanya bagaimana baunya. Tidak enak.


Jalal tetap memandangi dari atas saluran. Setelah Jawa Pos kembali ke daratan, dia menceritakan bahwa petugas sering datang untuk membersihkan sungai. Namun, mereka tidak pernah masuk hingga bagian dalam gorong-gorong. ”Sampai di pintu air tok,” ujar pria yang mengaku sudah 27 tahun berjualan di dekat pintu air itu.


Hampir seluruh sampah tersedot masuk box culvert. Mulai kasur, ranjang, meja, kursi, hingga pohon utuh. Bila disusun ulang, sampah tersebut mungkin bisa menjadi ruang tamu plus taman. ”Opo sing gak mlebu? Mlebu kabeh (Apa yang tidak masuk? Masuk semua, Red),” jelasnya sambil melayani pembeli yang memesan lontong balap.


Sering kali Jalal menegur warga saat pagi. Mereka biasanya membuang popok bayi saat berangkat kerja. Ada anggapan bahwa popok bayi lebih baik dibuang ke sungai ketimbang tempat sampah. Sebab, masih ada yang khawatir popok yang dibuang ke tempat sampah nanti dibakar. Bila sampai terbakar, bayi yang memakai popok tersebut bisa sakit. ”Padahal, ya nggak ngefek (tidak pengaruh, Red),” lanjutnya.


Belum lama dia meletakkan meja makan di pinggir sungai dekat plengsengan. Meja itu dia pindah lagi. Sebab, saluran tersebut bisa ’’kentut” tiba-tiba. Bila sudah begitu, para pelanggannya bisa semburat. Memang, box culvert sering mengeluarkan angin panas tiba-tiba. Jalal mendeskripsikan bau itu mirip bau gas bercampur sampah. ”Nek angine metu sirah iso nggeliyeng (Kalau anginnya keluar, kepala bisa pusing, Red),” jelasnya.


Beberapa kali aliran sungai meluap. Terkadang box culvert pun kebanjiran. Air bisa menggenang hingga setinggi 15 cm. Bila seperti itu, pintu air dibuka selebar-lebarnya. Petugas tinggal menekan tombol yang ada di pos penjagaan. Saat dibangun dulu, satu-satunya cara untuk membuka pintu air dengan memutar tuas secara manual.


Meski jalan di atas box culvet tergenang, Jalal menganggapnya belum ada apa-apanya. Sebab, dia pernah menjadi saksi saat daerah tersebut tergenang banjir hingga ketinggian 1 meter lebih. Kendaraan tidak bisa lewat. Namun, lima tahun belakangan, banjir setinggi itu tidak pernah terjadi lagi.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore