Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 Januari 2017 | 16.42 WIB

Pemprov Jatim Gandeng TNI-AL, Tambah Tenaga Kerja Terampil

SATU VISI: Soekarwo (kiri depan) seusai menandatangani nota kesepakatan dengan Kepala Staf TNI-AL Laksamana TNI Ade Supandi. - Image

SATU VISI: Soekarwo (kiri depan) seusai menandatangani nota kesepakatan dengan Kepala Staf TNI-AL Laksamana TNI Ade Supandi.

JawaPos.com – Pemprov Jatim berencana menambah jumlah tenaga kerja terampil. Salah satu caranya menjalin kerja sama dengan TNI-AL untuk mengadakan pelatihan tenaga kerja. Perjanjian itu diteken di Gedung Negara Grahadi, Selasa (24/1).


Acara tersebut dihadiri Kepala Staf TNI-AL Laksamana TNI Ade Supandi, Panglima Komando Armada Kawasan Timur (Koarmatim) Laksamana Muda TNI Darwanto, Gubernur Jatim Soekarwo, serta para pejabat tinggi TNI-AL dan jajaran SKPD pemprov.


Soekarwo menyatakan, sekitar 42 persen tenaga kerja di Jawa Timur berstatus tidak lulus SD. Mereka tidak memiliki keterampilan khusus. Akibatnya, mereka tidak mampu bersaing di dunia kerja. ’’Kondisi tersebut harus diubah,’’ tuturnya.


Lembaga pendidikan TNI-AL di Surabaya dianggap punya potensi besar. Banyak program pelatihan keterampilan yang bisa diajarkan kepada masyarakat. Misalnya, keterampilan las bawah air. Kini banyak permintaan tenaga kerja dengan keahlian tersebut. ’’Tapi, yang memiliki kemampuan itu masih terbatas,’’ tutur Soekarwo.


Pemprov ingin tenaga kerja tanpa keterampilan itu belajar di lembaga pendidikan TNI-AL. Bukan hanya las bawah tanah yang menjadi sasaran. Banyak keterampilan lain yang bisa diserap dari lembaga tersebut.


Lembaga pendidikan yang dimaksud adalah Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) serta Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan Angkatan Laut (Kodiklatal). Lembaga tersebut memang memiliki masa pendidikan reguler. Setiap tahun terdapat 8 ribu orang yang mengenyam pendidikan di lembaga tersebut. ’’Kami ingin tenaga kerja Jatim bisa diikutkan dalam pelatihan itu,’’ katanya.


Sistem pelatihan berbeda dengan program reguler. Artinya, tenaga kerja tersebut hanya mengikuti pelatihan kursus. Bukan pelatihan reguler yang menekankan pada aspek kemiliteran. Sebab, ada banyak hal di lembaga pendidikan TNI-AL yang tidak boleh diketahui masyarakat umum. ’’Kami maklumi hal itu,’’ ucapnya.


Ade Supandi menyambut baik kerja sama tersebut. Dia menyatakan, pada 2006 TNI-AL pernah mengadakan latihan untuk nelayan pesisir. Artinya, kerja sama di bidang pemberdayaan manusia bukan kali pertama dilakukan. ’’Kami sangat terbuka untuk berbagi ilmu kepada masyarakat,’’ tuturnya.


Menurut Ade, pola pelatihan di lingkungan TNI-AL sangat lengkap. Las bawah air merupakan bentuk pelatihan yang cukup populer. Sebenarnya masih banyak pilihan yang bisa diambil untuk menciptakan tenaga kerja terampil. Misalnya, pelatihan navigasi kapal, teknik elektro, dan keterampilan tata boga.


Ade juga menitipkan kepada pemprov untuk memanfaatkan prajurit yang purnatugas. Sebab, mereka memiliki banyak kemampuan yang dibutuhkan di darat. Misalnya, pengoperasian ketel yang biasa dibutuhkan perusahaan. Lalu, penyedia tenaga listrik kapal yang bisa dikaryakan di PT PLN. ’’Dengan begitu, prajurit yang purna tidak lagi kembali menjadi petugas keamanan seperti satpam,’’ ungkapnya.


Sebelum menghadiri penandatanganan kerja sama tersebut, Ade bersama rombongan menyaksikan pameran penelitian yang diselenggarakan STTAL. Produk penelitian mahasiswa di kampus tersebut diharapkan mampu menjadi pelengkap alat utama sistem persenjataan (alutsista) militer Indonesia. (riq/c15/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore