Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Januari 2017 | 20.50 WIB

Menyusuri Jejak Ratusan Tahun Kelenteng di Kota Delta

MENJELANG IMLEK: Umat Tridharma sedang sembahyang song shen di Kelenteng Teng Swie Bio Krian pada Jumat (20/1). - Image

MENJELANG IMLEK: Umat Tridharma sedang sembahyang song shen di Kelenteng Teng Swie Bio Krian pada Jumat (20/1).

SAAT memasuki Kelenteng Teng Swie Bio Krian, terdapat sebuah tulisan angka dalam bahasa Mandarin yang menggantung di bagian atap. Penampilannya cukup mencolok karena terbuat dari kayu berukuran 1 meter x 60 sentimeter. Berwarna cokelat tua. Jika diterjemahkan, tulisan tadi berarti 1902.


Tidak ada yang paham betul makna 1902. Namun, sebagian umat di sana menganggap tulisan tersebut sebagai penanda bahwa kelenteng yang berada di Jalan Raya Krian Nomor 124 itu dibangun pada tahun tersebut. Bahkan, ada yang menganggapnya jauh sebelum itu.


’’Berdiri pastinya tidak ada yang tahu karena sudah sangat lama. Buku yang menjelaskan tentang kelenteng ini juga tidak ada,’’ ujar Seksi Kerohanian Kelenteng Teng Swie Bio Krian Tan Ie Ling alias Wiyono pada Jumat lalu (20/1).


Berdasar cerita, jelas Wiyono, banyak nenek moyang etnis Tionghoa yang datang dan mendirikan rumah di wilayah Krian. Keturunan mereka juga membuka bisnis. Sebab, Krian merupakan wilayah potensial. Lokasinya tidak jauh dari Surabaya dan Gresik.


Saat berada di Krian, mereka belum memiliki tempat ibadah. Padahal, banyak orang yang ingin beribadah. Terpikirlah untuk membuat tempat ibadah di sana. Patung dewa yang mereka bawa langsung dari Tiongkok juga diletakkan di sana.


Pada masa lalu, Krian memang dikenal sebagai salah satu spot pecinan di wilayah Kota Delta. Seiring dengan berjalannya waktu, tidak banyak peninggalan jejaknya yang bisa ditelusuri. Berdirinya Kelenteng Teng Swie Bio pada awal abad ke-19 itu menjadi salah satu bukti yang masih tersisa.


Hingga kini, kelenteng tersebut masih didatangi warga Tionghoa untuk beribadah. Tidak hanya dari Krian, umat juga berdatangan dari Prambon, Balongbendo, Wonoayu, Taman, sebagian wilayah Surabaya, dan Gresik. Beberapa pekerja asing dari Tiongkok juga datang ke kelenteng ini untuk beribadah.


’’Di Krian ini kan banyak pabrik. Banyak juga pekerjanya yang dari Tiongkok. Mereka biasanya ke sini kalau ibadah,’’ terang Ketua Umum Kelenteng Teng Swie Bio Krian Lim Lie Ing alias Liliana Anggraheni.


Hingga kini banyak toko milik warga Tionghoa yang bertebaran di Krian. ’’Di sini kadang jam 21.00 baru tutup tokonya. Mereka baru bisa datang ibadah (setelah toko tutup, Red), menyusul ke kelenteng,’’ lanjut perempuan kelahiran Krian, 24 Maret 1951, itu.


Jumat lalu, umat memadati kelenteng untuk melaksanakan sembahyang song shen atau mengantarkan dewa ke langit. Ibadah khusus yang diadakan seminggu sebelum tibanya Tahun Baru Imlek itu dimulai tepat pukul 21.00. Jiang Min Jia Yessica bertindak selaku pemimpin sembahyang.


Setelah ibadah song shen selesai, selanjutnya adalah pembersihan dan perbaikan kelenteng. Semuanya dilakukan bersama-sama atau kerja bakti sampai sehari menjelang Imlek pada 28 Januari.


’’Pada 27 Januari malam, ada tradisi Chuxi untuk menyambut tahun baru,’’ kata Liliana. Beragam acara diadakan. Mulai penampilan kesenian dari anak-anak sampai pembagian door prize. Pada 28 Januari pagi, ada sembahyang lagi. Sembahyang bersama juga dilakukan pada 30 Januari untuk menyambut turunnya dewa. Lalu, pada 4 Februari biasanya ada penjelasan tentang keberuntungan berdasar shio, 5 Februari untuk sembahyang tolak bala, dan ’’gongnya’’ pada 11 Februari. Yakni, Cap Go Meh yang dirayakan 15 hari setelah Tahun Baru Imlek.


’’Ini puncaknya, sangat ramai, ratusan umat juga simpatisan hadir. Ada panggungnya dan sajian makanan khas sayur lodeh,’’ jelas ketua umum Kelenteng Krian sejak 2006 itu. Wujud toleransi beragama tampak jelas di sana. ’’Dari perwakilan gereja ada, dari Islam ada, Hindu juga. Sejak dulu ramai dari kalangan mana pun,’’ jelas Liliana.


Menurut dia, semua bebas datang. Biasanya anak-anak sekitar Krian beramai-ramai menikmati panggung hiburan. Sekaligus, menanti pembagian angpao. ’’Tahun ini ada pertunjukan sulap seperti biasanya dan games,’’ katanya.



Dalam keseharian, kelenteng itu juga memfasilitasi les bahasa Mandarin. Les tersebut dilaksanakan tiga kali dalam seminggu di lantai 2. Warga yang tertarik dengan senam yoga dan pingpong juga diberi waktu khusus. (uzi/c7/pri/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore