Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Maret 2017 | 05.19 WIB

Melihat Makam Eks Wali Kota Surabaya, Moestadjab Mepet Kandang Kambing

KURANG PERHATIAN: Makam mantan Wali Kota Moestadjab di TPU Karang Tembok dipenuhi tumbuhan liar. - Image

KURANG PERHATIAN: Makam mantan Wali Kota Moestadjab di TPU Karang Tembok dipenuhi tumbuhan liar.

Kemajuan Surabaya saat ini tidak bisa lepas dari jasa para mantan wali kota. Merekalah yang membangun fondasi Kota Surabaya. Namun, tidak banyak yang mengenang jasa mereka. Bahkan, lokasi makamnya pun banyak yang tidak tahu.



NAMA mantan Wali Kota R. Moestadjab Soemowidigdo diabadikan sebagai nama jalan sekaligus alamat Balai Kota Surabaya. Wali kota periode 1952–1956 tersebut menjadi salah satu tokoh pembangunan Surabaya setelah kemerdekaan. Sebab, pemerintah masih fokus mempertahankan kemerdekaan sebelum dia menjabat. Indonesia ketika itu masih terlibat konflik bersenjata dengan Belanda yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia.


Kemampuan Moestadjab memimpin sudah teruji saat menjadi bupati Jombang selama setahun. Dia memperbaiki sistem administrasi pemerintahan di sana. Selain itu, dia tercatat sebagai wali kota yang sangat konsen dengan perbaikan perumahan dan kesehatan masyarakat miskin.


Makam Moestadjab berada di Makam Karang Tembok, Pegirian. Jawa Pos ditemani Dhahana Adi Pungkas, pemerhati sejarah dan penulis buku Surabaya Punya Cerita. Ipung, sapaan akrab Dhahana, mengetahui keberadaan makam itu belum lama ini. ’’Ngertine gak sengojo, dikandani sing jogo makam(Tahunya tidak sengaja, diberi tahu penjaga makam),’’ ujar pemuda asal Krukah itu.


Sesampai di gerbang makam, dia agak lupa lokasinya. Yang diingat, lokasinya berada di ujung selatan. Jadi, setelah masuk makam, langsung belok ke kanan. Tidak ada jalan setapak menuju makam tersebut. Kaki harus melangkahi deretan makam yang saling berimpit.


Dari jarak 20 meter, makam Moestadjab baru terlihat. Di sekelilingnya terdapat keramik berwarna hitam. Makam tersebut tidak sendiri. Terdapat makam dengan nama R.A. Isminah Moestadjab, sang istri.


Sesuai dengan tulisan di nisan marmer berwana hitam, Moestajab lahir pada 8 April 1909 dan meninggal pada 11 Oktober 1956. Dua tahun setelahnya, istrinya meninggal dunia.


Ipung menerangkan, tidak banyak yang tahu keberadaan makam Moestadjab. Bahkan, warga sekitar makam pun tidak tahu. Dia menyayangkan sikap pemerintah yang terkesan melupakan jasa para wali kota pendahulu. ’’Koyok ngene mosok pantes,’’ kata bungsu dari empat bersaudara itu.


Dua meter dari makam sang mantan wali kota terdapat tembok pembatas. Di balik tembok itu ada bangunan liar yang terlihat kumuh. Bangunan tersebut digunakan para pedagang bunga. Di sana juga ada kandang kambing.


Setelah melihat kondisi makam, Ipung menemui Supriadi. Dia adalah penjaga makam sekaligus penggali kuburan. Supri mengetahui keberadaan makam Moestadjab secara turun-temurun. Ayahnya Kasnawi dan kakeknya Baban punya pekerjaan yang sama. ’’Kata bapak, di sini ada makam wali kota,’’ ujarnya saat ditemui di kantor makam.


Dulu, makam mantan Wali Kota Moestadjab berlokasi di gerbang makam. Seiring perkembangan zaman, gerbang makam dipindah ke timur, lalu ke barat. Karena perpindahan itu, makamnya menjadi paling ujung dan tidak terlihat.



Di depan kantor makam terdapat makam bekas pimpinan Karesidenan Surabaya M. Pamudji. Namun, makamnya lebih terlihat monumental. Makam Pamudji berada dalam naungan atap berbentuk ujung panah. Terdapat tujuh pilar yang menopang atap makam tersebut. Lokasinya berada tepat di gerbang masuk makam. (sal/c15/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore