Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 Februari 2017 | 03.09 WIB

Jejak Surabaya lewat Media Massa, Potret Koran Lintas Zaman

LEGENDARIS: Kantor redaksi majalah Panjebar Semangat di Bubutan (foto atas). Foto bawah, bagian depan kantor redaksi yang bertulisan aksara Jawa. Peserta tur pun mengabadikannya dengan kamera - Image

LEGENDARIS: Kantor redaksi majalah Panjebar Semangat di Bubutan (foto atas). Foto bawah, bagian depan kantor redaksi yang bertulisan aksara Jawa. Peserta tur pun mengabadikannya dengan kamera

JawaPos.com – Media massa berperan penting dalam mengawal perkembangan bangsa Indonesia. Berita yang diterbitkan berpengaruh terhadap pergerakan masyarakat. Dari zaman ke zaman, media massa mengalami perubahan. Jenisnya pun semakin banyak. Itulah yang tergambar dalam pameran Jalan Panjang Pers di Indonesia di House of Sampoerna (HOS) mulai Selasa (14/2) hingga 30 Maret mendatang.


Ada 20 surat kabar yang dipamerkan. Semua masih otentik. Kertas menguning, tetapi tulisan masih bisa dibaca karena dibalut plastik. Mulai dari penjajahan Belanda hingga Jepang, lalu masuk ke masa Orde Baru. Setiap masa berbeda pula karakteristik pemberitaannya.


Contohnya, surat kabar masa penjajahan Belanda, yakni De Bedrijfsgids terbitan 2 Mei 1916. Sekilas, surat kabar tersebut mirip papan menu makanan di sebuah restoran. Penuh warna dan kolom. Surat kabar tersebut ditulis dalam bahasa Belanda.


Ya, itu memang ciri khas zaman kolonial Belanda. Surat kabar lebih banyak memuat iklan dibandingkan isi berita. Pemberitaan lebih menonjolkan perekonomian. ’’Pembaca saat itu memang terbatas. Hanya orang-orang yang bisa bahasa Belanda,’’ ujar Manager Museum & Marketing HOS Rani Anggarini.


Dari masa kolonial, beranjak ke zaman penjajahan Jepang. Perbedaannya terlihat jelas. Pembacanya mulai meningkat karena surat kabar ditulis dalam bahasa Indonesia. Konten beritanya pun berbeda dibandingkan pada masa Belanda. Kalau zaman kolonial lebih banyak membahas perekonomian, surat kabar pada masa pendudukan Jepang lebih banyak memuat propaganda. Tujuannya menarik simpati dari masyarakat kepada pemerintah.


Misalnya, terlihat dalam surat kabar Asia Raya yang diterbitkan 8 November 1943. Dalam surat kabar koleksi Erwin Dian Rosyidi yang dipamerkan tersebut, terdapat berita yang berjudul Sekilas Kemenangan Nippon dalam Pertempoeran di dekat Bougainville. Berita tersebut menjadi headline pada masa itu. ’’Dari judulnya aja terlihat ya, propagandanya,’’ katanya.


Masuk ke masa Orde Lama, konten berita terlihat berbeda lagi. Hal tersebut disesuaikan dengan masa setelah Indonesia merdeka. Berita-berita dalam surat kabar terkait dengan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Juga, pemberitaan terkait dengan stabilitas kemerdekaan pada masa Orde Baru.



Selain surat kabar cetak, event itu memamerkan foto-foto tokoh dan aktivitas yang berkaitan dalam media massa serta alat-alat pers seperti mesin ketik, alat afdruk foto, dan kamera jadul. Tokoh pers Indonesia yang terkenal saat itu, antara lain, Abdoel Rivai, Adam Malik, Alex & Frans Mendur, Burhanuddin Mohammad Diah, Djamaluddin Adinegoro, Rohana Kudus, Surastri Karma Trimurti, serta Tirto Adhi Suryo. (bri/c15/jan/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore