Ilustrasi, definisi menjadi dewasa sesungguhnya bagi Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z. Magnific/ magnific.
JawaPos.com - Secara hukum, seseorang dianggap dewasa saat berusia 18 tahun. Tapi, tidak serta-merta semua orang menjadi lebih dewasa dan mandiri di usia tersebut.
Dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Kamis (3/9), menjadi dewasa adalah proses yang dipelajari seiring berjalannya waktu, bukan sesuatu yang terjadi dalam sekejap.
Pandangan mengenai apa yang membuat seseorang disebut dewasa pun telah berubah dari masa ke masa.
Mungkin, generasi yang lebih tua, seperti Baby Boomer dan Gen X beranggapan bahwa menjadi dewasa sesungguhnya adalah menjalani peran saat mencapai usia tertentu.
Namun, generasi yang lebih muda memandang kedewasaan sebagai sebuah tujuan-tujuan yang bahkan terasa cukup sulit untuk dicapai.
Berikut ini definisi lebih lanjut tentang menjadi dewasa yang sesungguhnya menurut generasi Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z.
Generasi Baby Boomer
Bagi mereka yang lahir tahun 1946 – 1964, menjadi dewasa sesungguhnya adalah tidak takut memikul tanggung jawab serta mampu menafkahi keluarga.
Jadi, sosok yang mampu menghidupi dirinya dan berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bergantung pada bantuan orang lain, itulah yang mereka sebut 'orang dewasa sejati'.
Mungkin karena generasi ini memiliki etos kerja yang sangat tinggi, bahkan cenderung 'gila kerja' dan meyakini bahwa stabilitas finansial yang diperoleh dari kerja keras merupakan bagian tak terpisahkan dari kedewasaan.
Selain itu, generasi Baby Boomer juga menjalani peran gender tradisional dalam prosesnya.
Maksudnya, laki-laki berperan sebagai pencari nafkah dan perempuan mengurus anak serta rumah tangga.
Pola hidup seperti ini dianggap sebagai bagian alami dari proses pendewasaan.
Tidak heran bila mereka mengaitkan masa dewasa dengan tanggung jawab dan kemandirian serta mencapainya di usia yang tergolong muda.
Mereka tidak memiliki banyak waktu memikirkan masa depan secara mendalam, karena orang tua yang beranggapan bahwa mereka sebaiknya langsung melangkah ke tahapan kehidupan berikutnya.
Generasi X (Gen X)
Meski kemandirian merupakan hal penting bagi mereka yang lahir tahun 1965 – 1980, namun bukan suatu hal yang mau tidak mau harus dijalani saat mencapai usia tertentu.
Mereka memandang kemandirian sebagai sikap yang dipelajari sejak usia muda, karena orang tua yang bekerja dengan jam kerja panjang sehingga Gen X terbiasa mengurus dirinya sendiri.
Ini menumbuhkan kemandirian yang lebih besar dibandingkan Baby Boomer.
Membuat mereka bisa menangani berbagai hal secara mandiri karena tidak memiliki pilihan lain.
Kondisi ini membentuk pandangan bahwa menjadi dewasa sesungguhnya adalah mampu memecahkan masalah dan melakukan segala sesuatu sendiri dengan sedikit bantuan dari pihak luar.
Sama seperti generasi sebelumnya, Gen X memandang pengambilan tanggung jawab sebagai bagian penting dari kedewasaan.
Generasi Milenial
Mereka mempertanyakan pandangan tradisional mengenai kedewasaan, karena orang-orang yang lahir tahun 1981 – 1996 lebih fokus pada tanggung jawab terhadap dunia luas ketimbang dirinya sendiri.
Survei tahun 2019 menyebutkan, generasi Milenial ingin memandang diri mereka sebagai orang dewasa sejati, namun mereka sulit mewujudkannya, sehingga muncul anggapan bahwa 'memalukan jika belum sepenuhnya dewasa' di usia 26 tahun.
Banyak juga dari mereka merasa sangat tertekan karena harus memenuhi standar ideal menjadi 'orang dewasa sejati'.
Generasi Milenial dikenal karena membawa nilai-nilai moral dan etika ke dalam hampir setiap aspek kehidupan.
Jadi, banyak dari generasi ini mengejar karier yang memberi dampak nyata atau memilih perusahaan yang mendukung nilai-nilai yang diyakininya.
Berbeda dengan Baby Boomer dan Gen X yang memandang kehidupan pribadi dan profesional sebagai dua hal yang terpisah, generasi Milenial justru menganggap keduanya saling berkaitan.
Oleh sebab itu, Milenial memandang masa dewasa sebagai fase yang penuh dengan tujuan.
Bagi mereka, tanggung jawab lebih erat kaitannya dengan memberikan dampak positif daripada sekadar membangun stabilitas finansial pribadi.
Bukannya mengabaikan pentingnya berkeluarga atau mencapai kestabilan keuangan.
Mereka hanya berpandangan bahwa menjadi dewasa yang sesungguhnya itu membawa kewajiban yang melampaui sekadar mengurus dirinya sendiri.
Generasi Z (Gen Z)
Generasi yang dimulai tahun 1997 – 2012 ini berada dalam posisi yang unik.
Sebab, survei tahun 2024 menyatakan bahwa usia 27 tahun adalah usia sebenarnya seseorang dianggap dewasa.
Artinya, banyak dari Gen Z yang belum mencapai usia dewasa sesungguhnya atau baru saja memasukinya.
Meski mereka telah memelajari konsep keuangan penting, seperti penyusunan anggaran, namun, hal itu tidak mengubah fakta bahwa mereka tidak memiliki cukup dana simpanan pribadi.
Ini membuat mereka khawatir tentang kemampuan finansial untuk memiliki tempat tinggal atau membesarkan anak.
Padahal, bagi Baby Boomer sampai generasi Milenial, semua itu menjadi tolak ukur kedewasaan sejati.
Gen Z belum mampu menopang hidupnya sendiri.
Sekitar sepertiga Gen Z masih tinggal bersama orang tua meski banyak dari mereka yang sudah bekerja.
Kondisi ini menempatkan mereka dalam situasi yang tidak nyaman, karena generasi yang lebih tua sering kali menilai Gen Z belum benar-benar dewasa, padahal mereka sadar telah berupaya sebaik mungkin.
Bagi mereka, daftar standar tradisional seperti kemandirian finansial, kepemilikan rumah, dan membangun keluarga bukan ukuran mutlak kedewasaan mengingat hal-hal tersebut sulit atau bahkan mustahil dicapai banyak orang.***