Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 01.15 WIB

7 Alasan Sering Mengecek Ponsel Bisa Merugikan Diri Sendiri Menurut Psikologi

seseorang yang mengecek ponsel terus menerus. (Magnific) - Image

seseorang yang mengecek ponsel terus menerus. (Magnific)

JawaPos.com - Ponsel telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, menikmati hiburan, berbelanja, bahkan mengisi waktu ketika sedang tidak melakukan apa-apa.

Masalahnya bukan sekadar pada berapa lama seseorang menggunakan ponsel, melainkan seberapa sering seseorang merasa terdorong untuk memeriksanya.

Mengecek notifikasi ketika mendengar bunyi pesan tentu merupakan hal yang wajar. Namun, ketika tangan secara otomatis mengambil ponsel setiap beberapa menit, membuka media sosial tanpa tujuan yang jelas, memeriksa pesan meskipun tidak ada notifikasi, atau merasa gelisah ketika ponsel tidak berada di dekat kita, kebiasaan tersebut dapat mulai memengaruhi kondisi psikologis.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (28/8), dalam psikologi, perilaku seperti ini menarik karena sering kali bukan sekadar persoalan "kurang disiplin". Ada mekanisme perhatian, pembelajaran perilaku, regulasi emosi, dan pencarian penghargaan yang ikut berperan.

Lantas, mengapa kebiasaan mengecek ponsel secara terus-menerus dapat menjadi bentuk merugikan diri sendiri?

Berikut tujuh alasannya.

1. Ponsel Mengajarkan Otak untuk Sulit Menoleransi Kebosanan

Salah satu alasan seseorang terus-menerus mengecek ponsel adalah karena ponsel menawarkan jalan keluar yang sangat mudah dari rasa bosan.

Sedang menunggu antrean? Buka ponsel.

Sedang makan sendirian? Buka ponsel.

Menunggu kendaraan? Buka ponsel.

Bahkan ketika hanya ada beberapa detik tanpa aktivitas, tangan bisa secara otomatis meraih perangkat tersebut.

Pada awalnya, perilaku ini terlihat tidak berbahaya. Namun, jika dilakukan berulang kali, seseorang dapat semakin terbiasa menghilangkan rasa bosan secepat mungkin.

Padahal, kebosanan merupakan bagian normal dari pengalaman manusia.

Otak tidak selalu membutuhkan rangsangan. Ada kalanya seseorang perlu berada dalam kondisi tanpa stimulasi untuk berpikir, mengamati lingkungan, memproses pengalaman, atau sekadar beristirahat secara mental.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore