seseorang yang butuh waktu yang lama untuk tumbuh dewasa. (magnific)
Hal tersebut sebenarnya sangat wajar.
Menjadi dewasa bukan sekadar bertambahnya usia. Dalam psikologi, kedewasaan merupakan proses panjang yang melibatkan perkembangan otak, kemampuan mengatur emosi, pembentukan identitas, kemampuan mengambil keputusan, belajar dari pengalaman, serta berkembangnya kemampuan untuk memahami orang lain.
Itulah sebabnya anak-anak membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk benar-benar tumbuh menjadi pribadi yang matang.
Sering kali orang dewasa berharap anak dapat berpikir seperti orang dewasa hanya karena mereka sudah cukup besar untuk memahami aturan tertentu. Padahal, kemampuan memahami sesuatu tidak selalu berarti anak sudah memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dan bertindak secara konsisten.
Anak mungkin tahu bahwa berbohong itu salah, tetapi tetap berbohong ketika takut dihukum. Mereka mungkin tahu bahwa marah-marah bukan solusi, tetapi belum mampu menghentikan ledakan emosinya. Mereka mungkin memahami pentingnya belajar, tetapi masih kesulitan mengorbankan kesenangan saat ini demi manfaat yang baru dirasakan di masa depan.
Semua itu bukan semata-mata karena anak "tidak mau menurut".
Ada proses perkembangan psikologis yang sedang berlangsung.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa 925/8), terdapat delapan alasan mengapa anak-anak membutuhkan waktu lama untuk tumbuh dewasa menurut perspektif psikologi.
1. Otak Anak Masih Dalam Proses Perkembangan
Salah satu alasan paling mendasar adalah karena otak manusia tidak langsung berkembang sepenuhnya ketika seseorang masih kecil.
Bagian-bagian otak yang berkaitan dengan perencanaan, pengendalian impuls, pengambilan keputusan, dan pertimbangan terhadap konsekuensi masih mengalami perkembangan selama masa kanak-kanak hingga remaja dan bahkan berlanjut ke masa dewasa muda.
Inilah salah satu alasan mengapa seorang anak dapat melakukan sesuatu secara impulsif.
Mereka mungkin tahu bahwa tindakan tertentu akan menimbulkan masalah, tetapi dorongan untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan atau menghindari sesuatu yang tidak nyaman bisa terasa lebih kuat daripada kemampuan mereka untuk mempertimbangkan konsekuensinya.
Bayangkan seorang anak melihat mainan yang sangat diinginkannya. Ia mungkin memahami bahwa orang tuanya sudah mengatakan tidak. Namun, keinginannya begitu kuat sehingga ia menangis, marah, atau terus meminta.
Dari sudut pandang orang dewasa, perilaku tersebut mungkin terlihat berlebihan.
Namun dari sudut pandang perkembangan, anak sedang belajar bagaimana mengelola keinginan, frustrasi, dan batasan.
Kemampuan untuk mengatakan, "Saya menginginkannya, tetapi saya harus menunggu," membutuhkan kontrol diri yang tidak muncul secara instan.
Karena itu, anak membutuhkan kesempatan untuk berlatih.
Mereka membutuhkan pengalaman berulang untuk belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi, tidak semua emosi harus langsung diikuti tindakan, dan setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Kedewasaan pada akhirnya bukan hanya tentang mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan tersebut.
Dan kemampuan itu berkembang secara bertahap.
2. Anak Masih Belajar Mengenali dan Mengatur Emosi
Orang dewasa terkadang lupa bahwa kemampuan mengelola emosi adalah keterampilan yang harus dipelajari.
Anak tidak dilahirkan dengan kemampuan sempurna untuk mengendalikan rasa marah, kecewa, takut, cemburu, malu, atau frustrasi.
Mereka harus belajar mengenali emosi tersebut terlebih dahulu.
Ketika seorang anak menangis karena hal kecil, misalnya mainannya rusak, orang dewasa mungkin menganggap reaksinya berlebihan.
Tetapi bagi anak, pengalaman tersebut bisa terasa sangat besar.
Mereka belum memiliki pengalaman hidup yang cukup untuk menempatkan masalah tersebut dalam perspektif yang lebih luas.
Orang dewasa dapat berpikir:
"Ini hanya mainan. Nanti juga bisa membeli yang baru."
Sementara anak mungkin berpikir:
"Mainan ini adalah sesuatu yang sangat saya sukai dan sekarang sudah rusak."
Perbedaan perspektif tersebut membuat reaksi emosional anak sering kali terlihat lebih intens.
Di sinilah peran orang tua dan orang dewasa menjadi penting.
Anak membutuhkan bantuan untuk memberi nama pada emosinya.
"Sepertinya kamu kecewa karena mainannya rusak."
"Kamu marah karena harus berhenti bermain."
"Kamu takut karena berada di tempat yang baru."
Ketika anak belajar memahami apa yang mereka rasakan, perlahan mereka juga belajar bagaimana meresponsnya.
Proses ini membutuhkan waktu.
Anak yang hari ini menangis ketika kecewa belum tentu akan selalu seperti itu. Dengan pengalaman, bimbingan, dan lingkungan yang aman, ia dapat belajar menggunakan kata-kata, meminta bantuan, menenangkan diri, dan mencari solusi.
Dengan kata lain, kematangan emosional bukan sesuatu yang dapat dipaksakan.
Ia dibangun sedikit demi sedikit.
3. Anak Belum Memiliki Banyak Pengalaman Hidup
Pengalaman merupakan salah satu guru terbesar dalam perkembangan manusia.
Orang dewasa sering dapat mengambil keputusan dengan cepat karena mereka memiliki banyak pengalaman sebelumnya.
Ketika menghadapi situasi tertentu, otak dapat menggunakan pengalaman masa lalu sebagai referensi.
Misalnya, seseorang yang sudah beberapa kali mengalami konflik dalam pekerjaan mungkin lebih mampu mengenali kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan sebaiknya menunggu sampai emosinya mereda.
Anak belum memiliki cadangan pengalaman sebanyak itu.
Bagi mereka, banyak situasi merupakan pengalaman pertama.
Pertama kali kalah dalam permainan.
Pertama kali mendapatkan kritik.
Pertama kali bertengkar dengan teman.
Pertama kali mengalami penolakan.
Pertama kali gagal dalam ujian.
Pertama kali merasa cemburu.
Pertama kali harus bertanggung jawab terhadap sesuatu.
Karena belum memiliki banyak pengalaman, anak membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan mencoba lagi.
Itulah sebabnya kesalahan anak tidak selalu harus dipandang sebagai kegagalan.
Kesalahan bisa menjadi bagian dari proses belajar.
Anak yang lupa mengerjakan tugas, misalnya, dapat belajar mengenai konsekuensi dari kurangnya persiapan. Anak yang bertengkar dengan temannya dapat belajar tentang komunikasi dan permintaan maaf.
Tentu saja bukan berarti anak harus dibiarkan melakukan apa pun tanpa batas.
Bimbingan tetap diperlukan.
Namun, memberikan kesempatan untuk mengalami konsekuensi yang wajar dapat membantu anak mengembangkan pemahaman yang lebih nyata daripada sekadar mendengarkan nasihat.
4. Anak Masih Membangun Identitas Dirinya
Tumbuh dewasa juga berarti menjawab pertanyaan penting:
"Siapa saya?"
"Apa yang saya sukai?"
"Apa yang saya yakini?"
"Apa yang penting bagi saya?"
"Orang seperti apa yang ingin saya menjadi?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu dapat dijawab dengan cepat.
Anak sering mencoba berbagai peran, minat, gaya, kelompok pertemanan, dan cara berperilaku untuk mengetahui dirinya sendiri.
Hari ini mereka ingin menjadi atlet.
Beberapa bulan kemudian ingin menjadi musisi.
Kemudian tertarik dengan teknologi.
Setelah itu mungkin menemukan minat lain lagi.
Bagi orang dewasa, perubahan tersebut mungkin terlihat tidak konsisten.
Namun sebenarnya eksplorasi merupakan bagian penting dari perkembangan identitas.
Anak membutuhkan ruang untuk mencoba berbagai hal dan menemukan apa yang sesuai dengan dirinya.
Karena itu, terlalu cepat memberi label kepada anak dapat menjadi masalah.
"Dia memang pemalas."
"Dia anak pemalu."
"Dia tidak berbakat."
"Dia memang keras kepala."
Label seperti itu dapat membuat anak melihat dirinya melalui kacamata yang sempit.
Padahal kepribadian dan kemampuan seseorang masih dapat berkembang.
Anak membutuhkan kesempatan untuk menemukan bahwa dirinya tidak ditentukan oleh satu kesalahan, satu nilai ujian, atau satu pengalaman buruk.
Proses menemukan identitas inilah yang membuat perjalanan menuju kedewasaan menjadi panjang.
5. Kemampuan Berpikir Jangka Panjang Belum Sepenuhnya Matang
Salah satu ciri kedewasaan adalah kemampuan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
Namun, bagi anak, manfaat yang dirasakan sekarang sering kali jauh lebih menarik daripada manfaat yang baru akan dirasakan nanti.
Misalnya, belajar selama dua jam memberikan manfaat di masa depan.
Sementara bermain gim memberikan kesenangan sekarang.
Bagi orang dewasa yang sudah memahami pentingnya pendidikan, pilihan tersebut mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi anak, menunda kesenangan membutuhkan kemampuan pengendalian diri yang masih berkembang.
Anak perlu belajar bahwa:
"Jika saya melakukan sesuatu sekarang, keputusan ini mungkin memengaruhi apa yang terjadi nanti."
Kemampuan tersebut berkembang melalui pengalaman.
Itulah mengapa rutinitas, aturan yang konsisten, dan konsekuensi yang masuk akal dapat membantu.
Anak perlahan belajar menghubungkan tindakan dengan hasil.
Jika belajar secara rutin, ia mungkin lebih siap menghadapi ujian.
Jika menabung, ia dapat membeli sesuatu yang diinginkan.
Jika menyelesaikan tanggung jawab terlebih dahulu, ia memiliki lebih banyak waktu untuk bermain tanpa rasa bersalah.
Dari pengalaman-pengalaman sederhana tersebut, anak mulai membangun kemampuan berpikir ke depan.
Kedewasaan pada akhirnya bukan hanya tentang mengetahui apa yang menyenangkan, tetapi juga memahami kapan harus memilih sesuatu yang penting meskipun tidak langsung menyenangkan.
6. Anak Masih Belajar Memahami Perspektif Orang Lain
Empati juga berkembang secara bertahap.
Anak kecil mungkin memahami bahwa dirinya sedih, tetapi belum selalu mampu memahami bahwa orang lain dapat merasakan kesedihan yang sama dengan cara yang berbeda.
Seiring bertambahnya usia, anak mulai belajar bahwa orang lain memiliki pikiran, perasaan, kebutuhan, dan sudut pandang sendiri.
Perkembangan ini sangat penting dalam membangun hubungan sosial.
Misalnya, seorang anak mungkin berkata sesuatu yang menyakitkan kepada temannya tanpa menyadari dampaknya.
Ketika orang dewasa menjelaskan:
"Kalau kamu mengatakan itu kepada temanmu, menurutmu bagaimana perasaannya?"
Anak mulai diajak melihat situasi dari perspektif orang lain.
Pertanyaan seperti ini membantu mengembangkan kemampuan refleksi.
Bukan sekadar:
"Apa yang kamu inginkan?"
Tetapi juga:
"Bagaimana tindakanmu memengaruhi orang lain?"
Inilah salah satu langkah menuju kedewasaan.
Orang dewasa yang matang tidak hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Ia juga mampu mempertimbangkan kebutuhan, batasan, dan perasaan orang lain.
Tetapi kemampuan tersebut tidak muncul begitu saja.
Anak harus belajar melalui interaksi sosial, contoh dari orang dewasa, percakapan, konflik, kerja sama, dan pengalaman sehari-hari.
7. Anak Masih Membutuhkan Rasa Aman Sebelum Bisa Mandiri
Ada anggapan bahwa semakin cepat anak mandiri, semakin baik.
Padahal kemandirian yang sehat biasanya tidak muncul dari paksaan untuk menjadi dewasa secepat mungkin.
Anak membutuhkan rasa aman untuk berkembang.
Ketika anak merasa diterima, dicintai, dan memiliki tempat yang aman untuk kembali, mereka memiliki ruang psikologis untuk mengeksplorasi dunia.
Mereka dapat mencoba sesuatu yang baru.
Mereka dapat gagal.
Mereka dapat bertanya.
Mereka dapat mengakui kesalahan.
Mereka dapat mengatakan bahwa mereka takut.
Rasa aman bukan berarti orang tua harus memenuhi semua keinginan anak.
Justru batasan yang konsisten dapat menjadi bagian dari rasa aman.
Anak perlu mengetahui bahwa ada aturan, tetapi juga mengetahui bahwa kesalahan tidak membuat dirinya kehilangan kasih sayang.
Ini menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak secara perlahan berpindah dari ketergantungan menuju kemandirian.
Pada awalnya, anak membutuhkan orang tua untuk melakukan banyak hal.
Kemudian orang tua mengajarkan caranya.
Setelah itu anak mencoba dengan bantuan.
Kemudian anak mencoba sendiri.
Pada akhirnya, anak mampu melakukannya tanpa bantuan.
Begitulah kemandirian biasanya terbentuk: sedikit demi sedikit.
Bukan dengan mengatakan, "Kamu sudah besar, seharusnya bisa sendiri."
8. Kedewasaan Tidak Bisa Dipaksakan Hanya dengan Menambah Tanggung Jawab
Mungkin ini alasan yang paling penting.
Ada perbedaan antara bertambahnya tanggung jawab dan bertambahnya kematangan psikologis.
Memberikan lebih banyak tanggung jawab kepada anak tidak otomatis membuatnya dewasa.
Anak perlu memahami alasan di balik tanggung jawab tersebut, mendapatkan kesempatan untuk belajar, memperoleh umpan balik, dan mengalami proses mencoba serta memperbaiki kesalahan.
Misalnya, anak diberi tugas membereskan kamarnya.
Jika ia belum mampu melakukannya dengan baik, orang dewasa dapat mengajarkan langkah-langkahnya.
Bukan hanya mengatakan:
"Kamu sudah besar. Masa begini saja tidak bisa?"
Kalimat seperti itu mungkin membuat anak merasa malu, tetapi belum tentu mengajarkan keterampilan yang diperlukan.
Sebaliknya, orang tua dapat menunjukkan:
"Pertama, kumpulkan pakaian kotor. Setelah itu simpan buku di rak. Kemudian rapikan mainan."
Dengan cara tersebut, tanggung jawab berubah menjadi kesempatan belajar.
Lama-kelamaan anak tidak lagi membutuhkan instruksi.
Di situlah kemandirian mulai terbentuk.
Kedewasaan membutuhkan latihan, bukan sekadar tuntutan.
Anak Tidak Perlu Terburu-buru Menjadi Dewasa
Di tengah kehidupan modern, anak-anak sering mendapatkan tekanan untuk cepat pintar, cepat mandiri, cepat berprestasi, dan cepat mampu mengendalikan diri.
Namun, perkembangan manusia tidak berjalan seperti perlombaan.
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda.
Ada anak yang cepat berbicara tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk mengelola emosinya.
Ada yang sangat mandiri dalam aktivitas sehari-hari tetapi masih membutuhkan banyak dukungan ketika menghadapi masalah sosial.
Ada yang berprestasi secara akademis tetapi belum percaya diri mengambil keputusan sendiri.
Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kompleksitas perkembangan manusia.
Karena itu, tugas orang dewasa bukan membuat anak menjadi dewasa secepat mungkin.
Tugas yang lebih penting adalah membantu mereka tumbuh secara sehat menuju kedewasaan.
Berikan batasan, tetapi juga kasih sayang.
Berikan tanggung jawab, tetapi juga kesempatan belajar.
Biarkan mereka mengalami kegagalan yang aman.
Ajarkan mereka mengenali emosi.
Dengarkan pertanyaan mereka.
Berikan contoh melalui perilaku Anda sendiri.
Dan yang tidak kalah penting, berikan mereka waktu.
Penutup: Kedewasaan Adalah Proses, Bukan Perlombaan
Anak-anak membutuhkan waktu lama untuk tumbuh dewasa karena mereka sedang membangun banyak hal sekaligus: kemampuan otak, kontrol emosi, identitas diri, kemampuan mengambil keputusan, empati, tanggung jawab, dan kemandirian.
Mereka tidak hanya sedang bertambah tinggi dan bertambah usia.
Mereka sedang belajar menjadi manusia.
Karena itu, ketika seorang anak melakukan kesalahan, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan:
"Kenapa kamu belum bisa seperti orang dewasa?"
Melainkan:
"Bagian mana dari proses belajar yang belum kamu pahami?"
Pertanyaan tersebut mengubah cara kita melihat anak.
Anak bukan orang dewasa dalam ukuran kecil.
Mereka adalah manusia yang sedang berkembang.
Dan perkembangan membutuhkan waktu.
Mungkin mereka akan membutuhkan banyak pengulangan. Mungkin mereka akan melakukan kesalahan yang sama beberapa kali. Mungkin mereka akan tampak tidak konsisten. Mungkin suatu hari mereka terlihat sangat dewasa, lalu keesokan harinya kembali membutuhkan banyak bantuan.
Itu bukan berarti mereka gagal tumbuh.
Itulah proses tumbuh.
Pada akhirnya, anak yang diberi kesempatan untuk berkembang dengan aman, mendapatkan batasan yang sehat, belajar dari konsekuensi, dan menerima bimbingan yang konsisten akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun kedewasaan yang benar-benar berasal dari dalam dirinya.
Sebab menjadi dewasa bukan tentang seberapa cepat seseorang berhenti menjadi anak-anak.
Menjadi dewasa adalah tentang perlahan-lahan belajar mengenal diri sendiri, mengelola emosi, bertanggung jawab atas pilihan, memahami orang lain, dan menjalani hidup dengan semakin bijaksana.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
