Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 September 2026 | 21.45 WIB

7 Alasan Mengapa Sebagian Orang Tua Dikucilkan oleh Anak Mereka yang Sudah Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang dikucilkan oleh anaknya yang telah dewasa / foto: Magnific/syda_productions

 

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak sering dianggap sebagai hubungan yang tidak akan pernah putus. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada anak yang ketika dewasa memilih tinggal jauh dari orang tuanya. Ada yang hanya berkomunikasi sesekali. Ada pula yang sengaja membatasi hubungan, berhenti berkunjung, atau bahkan memutus komunikasi sama sekali.

Bagi sebagian orang tua, keadaan ini sangat menyakitkan. Mereka mungkin bertanya dalam hati, “Apa yang salah dengan anak saya?” atau “Mengapa setelah semua yang saya lakukan, dia justru menjauh?”

Dari sudut pandang psikologi, keputusan anak dewasa untuk menjaga jarak dari orang tua biasanya tidak muncul begitu saja. Hubungan keluarga terbentuk dari pola interaksi selama bertahun-tahun. Karena itu, konflik ketika anak sudah dewasa terkadang merupakan hasil akumulasi pengalaman yang berlangsung sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua anak yang menjauh berarti orang tuanya buruk, dan tidak semua orang tua yang kehilangan kedekatan dengan anak berarti telah melakukan kesalahan besar. Setiap keluarga mempunyai sejarah, karakter, kondisi, dan dinamika yang berbeda.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian anak dewasa memilih mengucilkan atau membatasi hubungan dengan orang tuanya.

1. Orang Tua Terlalu Mengontrol Kehidupan Anak

Salah satu alasan yang cukup umum adalah ketika orang tua kesulitan menerima bahwa anak mereka yang sudah dewasa memiliki kehidupan dan keputusan sendiri.

Ketika masih kecil, anak memang membutuhkan arahan. Orang tua menentukan banyak hal: makanan, sekolah, waktu tidur, pergaulan, hingga aturan di rumah.

Masalah dapat muncul ketika pola tersebut terus dibawa ke masa dewasa.

Misalnya, orang tua masih ingin menentukan:

pekerjaan apa yang harus dipilih anak,
dengan siapa anak boleh menikah,
bagaimana anak membesarkan anaknya sendiri,
di mana anak harus tinggal,
bagaimana anak mengelola uang,
atau keputusan pribadi lainnya.

Dalam psikologi, masa dewasa merupakan periode ketika seseorang semakin membutuhkan otonomi, yaitu kemampuan untuk menentukan hidupnya sendiri.

Anak mungkin tidak menjauh karena tidak mencintai orang tuanya. Bisa jadi ia menjauh karena merasa satu-satunya cara untuk mendapatkan ruang pribadi adalah dengan menciptakan jarak.

Contohnya, seorang anak berkata:

“Aku menghargai pendapat Ayah dan Ibu, tetapi keputusan ini adalah keputusan hidupku.”

Jika setiap keputusan selalu dibalas dengan kritik, tekanan, atau rasa bersalah, anak lama-kelamaan dapat memilih untuk tidak menceritakan apa pun.

Pada titik tertentu, diam terasa lebih aman daripada berdiskusi.

Yang sering tidak disadari orang tua

Kontrol tidak selalu berbentuk larangan.

Kadang kontrol muncul dalam bentuk kalimat yang terdengar seperti perhatian:

“Ibu cuma khawatir.”

“Ayah cuma ingin yang terbaik.”

“Kalau kamu mendengarkan orang tua, hidupmu pasti lebih baik.”

Perhatian memang penting. Namun, ketika perhatian berubah menjadi kewajiban untuk selalu mengikuti keinginan orang tua, anak dapat merasakannya sebagai tekanan.

2. Anak Merasa Tidak Pernah Diterima Sebagaimana Dirinya

Setiap anak ingin merasa bahwa dirinya diterima oleh keluarganya.

Penerimaan bukan berarti orang tua harus menyetujui semua perilaku anak. Orang tua tetap boleh memberikan batasan dan nasihat.

Namun, ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Ibu tidak setuju dengan keputusanmu.”

dan:

“Kamu memang selalu membuat keputusan bodoh.”

Yang pertama mengkritik sebuah keputusan.

Yang kedua menyerang identitas seseorang.

Jika seorang anak bertahun-tahun menerima pesan bahwa dirinya kurang pintar, kurang sukses, terlalu sensitif, terlalu malas, atau tidak pernah cukup baik, luka emosional dapat terbentuk.

Ketika dewasa, ia mungkin mulai menyadari:

“Setiap kali berbicara dengan orang tua, saya merasa menjadi anak kecil yang tidak pernah cukup baik.”

Akibatnya, ia mulai mengurangi interaksi.

Bukan karena membenci orang tua, tetapi karena ingin melindungi harga dirinya.

3. Konflik Lama Tidak Pernah Benar-Benar Diselesaikan

Dalam keluarga, konflik adalah sesuatu yang normal.

Tidak ada orang tua yang sempurna dan tidak ada anak yang sempurna.

Yang menjadi masalah adalah ketika konflik terjadi berulang kali tetapi tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Misalnya, orang tua pernah melakukan sesuatu yang menyakiti anak. Anak mencoba membicarakannya, tetapi respons yang diterima adalah:

“Itu sudah lama sekali.”

atau:

“Kamu terlalu membesar-besarkan.”

atau:

“Orang tua juga manusia.”

Secara faktual, mungkin memang benar bahwa peristiwa tersebut sudah lama berlalu.

Namun, waktu tidak selalu menyelesaikan luka emosional secara otomatis.

Seseorang dapat mengingat sebuah kejadian bertahun-tahun kemudian apabila pengalaman tersebut tidak pernah diproses atau dibicarakan dengan baik.

Anak yang merasa pengalamannya selalu ditolak mungkin akhirnya berhenti mencoba menjelaskan.

Awalnya ia mungkin berdebat.

Kemudian ia mencoba menjelaskan.

Setelah berkali-kali tidak didengar, ia mungkin memilih diam.

Dan akhirnya, ia memilih pergi.

Bagi orang tua, perubahan ini terkadang terlihat tiba-tiba.

Padahal dari perspektif anak, keputusan tersebut mungkin sudah berlangsung melalui proses yang sangat panjang.

4. Orang Tua Sulit Menghormati Batasan Pribadi Anak

Ketika anak sudah dewasa, hubungan sehat bukan berarti harus selalu dekat secara fisik atau emosional.

Anak tetap memiliki hak atas privasi.

Misalnya, anak mungkin tidak ingin setiap masalah rumah tangga dibicarakan kepada keluarga besar. Ia mungkin tidak ingin orang tua datang tanpa memberi kabar. Ia mungkin membutuhkan waktu sendiri atau tidak ingin ditanya tentang setiap keputusan hidupnya.

Batasan seperti ini sebenarnya dapat menjadi bagian dari hubungan yang sehat.

Namun, sebagian orang tua menafsirkan batasan sebagai bentuk penghinaan.

Ketika anak mengatakan:

“Tolong jangan datang tanpa memberi tahu.”

orang tua mungkin mendengarnya sebagai:

“Anak saya tidak membutuhkan saya.”

Padahal keduanya berbeda.

Batasan bukan selalu penolakan.

Terkadang batasan justru merupakan cara seseorang mempertahankan hubungan agar tidak menjadi sumber konflik.

Anak mungkin merasa bahwa hubungan dengan orang tua akan lebih baik apabila ada jarak tertentu.

5. Orang Tua Menggunakan Rasa Bersalah untuk Mempertahankan Kedekatan

Rasa bersalah merupakan emosi yang sangat kuat.

Dalam hubungan keluarga, rasa bersalah terkadang digunakan secara sadar, tetapi sering juga muncul tanpa disengaja.

Contohnya:

“Setelah semua pengorbanan Ibu, sekarang kamu seperti ini?”

“Dulu Ayah membesarkan kamu susah payah, sekarang kamu tidak punya waktu.”

“Kalau kamu sayang orang tua, kamu pasti datang.”

Kalimat seperti itu mungkin lahir dari rasa kecewa dan kesepian.

Namun, jika terus berulang, anak dapat merasa bahwa kasih sayang dalam keluarga memiliki syarat:

“Saya harus memenuhi keinginan orang tua agar dianggap sebagai anak yang baik.”

Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membuat hubungan terasa melelahkan.

Anak kemudian mungkin memilih mengurangi interaksi karena setiap komunikasi selalu membuatnya merasa bersalah.

Ini bukan berarti orang tua tidak boleh mengungkapkan perasaan.

Orang tua boleh berkata:

“Ibu sebenarnya sedih karena kita jarang bertemu.”

Tetapi lebih sehat daripada:

“Kamu anak durhaka karena tidak pernah memikirkan Ibu.”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara emosional sangat besar.

Yang pertama mengungkapkan perasaan.

Yang kedua memberikan label dan tekanan.

6. Orang Tua Tidak Mengakui Kesalahan atau Tidak Mau Meminta Maaf

Tidak ada manusia yang selalu benar.

Orang tua juga bisa salah.

Mereka mungkin pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan, terlalu keras ketika mendidik, tidak hadir ketika anak membutuhkan, atau mengambil keputusan yang kemudian mereka sesali.

Namun, sebagian orang tua merasa bahwa meminta maaf kepada anak berarti kehilangan wibawa.

Padahal dalam hubungan dewasa, meminta maaf dapat menjadi tanda kematangan emosional.

Bayangkan perbedaan antara:

“Kalau kamu tersinggung, itu karena kamu terlalu sensitif.”

dengan:

“Sekarang setelah Ibu memikirkannya, Ibu sadar perkataan Ibu waktu itu memang menyakitkan. Ibu minta maaf.”

Kalimat kedua tidak membuat orang tua menjadi lebih lemah.

Justru sebaliknya.

Mengakui kesalahan menunjukkan bahwa hubungan tersebut lebih penting daripada mempertahankan ego.

Anak dewasa biasanya tidak selalu membutuhkan orang tua yang sempurna.

Mereka sering kali hanya ingin melihat bahwa orang tua mampu berkata:

“Saya salah.”

Ketika permintaan maaf tidak pernah datang, anak dapat merasa bahwa tidak ada gunanya membicarakan luka lama.

Maka, jarak menjadi pilihan.

7. Anak Akhirnya Memilih Kedamaian daripada Hubungan yang Terus Menguras Emosi

Ini mungkin alasan yang paling sulit diterima oleh sebagian orang tua.

Ada situasi ketika anak sudah mencoba berbagai cara.

Ia mencoba berbicara.

Ia mencoba memaafkan.

Ia mencoba menetapkan batasan.

Ia mencoba memahami sudut pandang orang tua.

Tetapi pola hubungan tetap sama.

Setiap pertemuan berubah menjadi pertengkaran.

Setiap percakapan berakhir dengan kritik.

Setiap keputusan pribadi menjadi bahan perdebatan.

Dalam kondisi seperti itu, anak mungkin sampai pada kesimpulan:

“Saya membutuhkan jarak agar hidup saya lebih tenang.”

Membatasi kontak tidak selalu berarti anak membenci orang tuanya.

Kadang justru sebaliknya: anak masih memiliki perasaan yang sangat kuat, tetapi merasa tidak mampu mempertahankan kedekatan tanpa terus terluka.

Karena itu, istilah “dikucilkan” perlu digunakan dengan hati-hati.

Dari sudut pandang orang tua, mungkin terasa seperti:

“Anak saya meninggalkan saya.”

Tetapi dari sudut pandang anak, mungkin yang terjadi adalah:

“Saya sedang berusaha menyelamatkan ketenangan hidup saya.”

Kedua pengalaman tersebut dapat terasa nyata pada saat yang sama.

Jadi, Apakah Anak yang Menjauh Selalu Benar?

Tidak.

Ini bagian yang sangat penting.

Psikologi tidak mengatakan bahwa setiap keputusan anak untuk menjauh pasti benar.

Anak juga bisa melakukan kesalahan. Anak bisa memiliki ekspektasi yang tidak realistis. Anak bisa salah memahami maksud orang tua. Konflik keluarga juga dapat dipengaruhi oleh pasangan, tekanan hidup, perbedaan kepribadian, atau pengalaman pribadi masing-masing.

Karena itu, kita sebaiknya menghindari kesimpulan sederhana seperti:

“Kalau anak menjauh, berarti orang tuanya pasti buruk.”

Tidak sesederhana itu.

Yang lebih penting adalah melihat pola hubungan.

Apakah kedua pihak bisa berbicara?

Apakah batasan dihormati?

Apakah kesalahan bisa diakui?

Apakah masing-masing pihak merasa aman untuk menyampaikan perasaan?

Apakah konflik selalu berakhir dengan saling menyalahkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada mencari siapa yang sepenuhnya salah.

Jika Anak Sudah Menjauh, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?

Jika seorang anak dewasa mulai menjaga jarak, reaksi spontan orang tua mungkin adalah mengejar, menuntut penjelasan, atau mengirim banyak pesan.

Namun, tekanan seperti itu terkadang justru membuat anak semakin menjauh.

Pendekatan yang lebih konstruktif adalah berhenti sejenak dan melakukan refleksi.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah selama ini saya benar-benar mendengarkan anak saya?”

“Apakah saya menghargai keputusannya sebagai orang dewasa?”

“Apakah saya pernah meminta maaf tanpa memberikan alasan pembenaran?”

“Apakah saya lebih sibuk membuktikan bahwa saya benar daripada memahami perasaannya?”

Pertanyaan seperti ini memang tidak mudah.

Tetapi perubahan hubungan sering kali dimulai bukan dari pertanyaan:

“Mengapa anak saya melakukan ini kepada saya?”

melainkan:

“Apa yang mungkin dirasakan anak saya ketika berinteraksi dengan saya?”

Hubungan Orang Tua dan Anak Tidak Harus Sempurna

Pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak bukan tentang siapa yang paling benar.

Hubungan yang sehat membutuhkan dua hal: kasih sayang dan rasa hormat.

Orang tua perlu menghormati bahwa anak mereka sudah dewasa.

Anak juga perlu memahami bahwa orang tua adalah manusia yang memiliki keterbatasan dan sejarahnya sendiri.

Tidak semua hubungan harus kembali seperti ketika anak masih kecil.

Terkadang bentuk hubungan yang sehat ketika semua orang sudah dewasa justru berbeda: lebih banyak ruang, lebih sedikit kontrol, lebih banyak komunikasi yang jujur, dan lebih sedikit tuntutan.

Dan apabila hubungan sudah terlanjur renggang, pintu perbaikan tidak selalu harus dimulai dengan percakapan besar.

Kadang cukup dengan satu kalimat sederhana:

“Ibu/Ayah mungkin tidak memahami semuanya, tetapi Ibu/Ayah ingin mencoba memahami. Kalau selama ini ada sikap kami yang menyakiti kamu, kami bersedia mendengarkannya.”

Kalimat tersebut tidak menjamin anak akan langsung kembali.

Namun, itu dapat menjadi awal perubahan.

Karena terkadang yang paling dibutuhkan seorang anak bukan orang tua yang sempurna.

Mereka hanya ingin merasa bahwa perasaan mereka akhirnya didengar.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore