Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Mei 2026 | 16.41 WIB

Orang yang Terlalu Sering Dikritik Saat Masih Kecil Seringkali Menunjukkan 7 Ciri Khas Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu sering dikritik saat masa kecil (Magnific/Jomkwan) - Image

seseorang yang terlalu sering dikritik saat masa kecil (Magnific/Jomkwan)


JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil terlihat jelas. Ada yang tidak meninggalkan bekas fisik, tetapi diam-diam memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan menjalani hidup hingga dewasa. Salah satu pengalaman yang paling sering meninggalkan dampak psikologis jangka panjang adalah terlalu sering dikritik saat masih kecil.

Kritik sebenarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Anak memang membutuhkan arahan agar memahami mana yang benar dan salah. Namun, ketika kritik diberikan terus-menerus, disampaikan dengan nada merendahkan, atau membuat anak merasa dirinya “tidak pernah cukup baik”, dampaknya bisa terbawa sampai bertahun-tahun kemudian.

Dalam psikologi perkembangan, pengalaman masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan harga diri, pola hubungan, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri. Anak yang tumbuh di lingkungan penuh kritik sering kali belajar bahwa cinta harus diperjuangkan melalui kesempurnaan. Mereka juga cenderung takut melakukan kesalahan karena khawatir akan ditolak atau dipermalukan.

Menariknya, banyak orang dewasa tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan dan respons emosional mereka sebenarnya berakar dari pola asuh yang terlalu kritis di masa kecil.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh ciri khas yang sering muncul pada orang yang terlalu sering dikritik saat kecil menurut psikologi.

1. Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Salah satu tanda paling umum adalah memiliki “suara batin” yang sangat kritis. Bahkan ketika tidak ada orang lain yang menghakimi, mereka tetap merasa dirinya kurang baik.

Kesalahan kecil bisa terasa seperti kegagalan besar. Mereka mungkin terus mengulang kejadian di kepala dan menyalahkan diri sendiri berlebihan.

Dalam psikologi, kondisi ini sering berkaitan dengan internalized criticism, yaitu ketika kritik dari masa kecil akhirnya menjadi bagian dari cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri.

Akibatnya, mereka sulit merasa puas terhadap pencapaian sendiri. Meski sudah bekerja keras, tetap ada perasaan:

“Aku masih belum cukup.”
“Seharusnya aku bisa lebih baik.”
“Kalau gagal sedikit saja berarti aku memang buruk.”

Orang seperti ini sering tampak perfeksionis, padahal di baliknya ada rasa takut tidak diterima.

2. Sangat Sensitif terhadap Penolakan

Anak yang terlalu sering dikritik biasanya tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya mudah mengecewakan orang lain. Saat dewasa, hal ini dapat berubah menjadi sensitivitas tinggi terhadap kritik maupun penolakan.

Komentar sederhana bisa terasa sangat menyakitkan. Bahkan masukan yang sebenarnya netral dapat dianggap sebagai tanda bahwa dirinya tidak dihargai.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore