
Ilustrasi buah apel. (Unsplash/Ashlee Brown)
JawaPos.com - Pakar sekaligus praktisi pertanian organik, peternakan, dan pengobatan herbal, Bayu Diningrat, menyoroti kualitas buah impor yang banyak beredar di supermarket Indonesia.
Ia menilai, terdapat ketimpangan standar antara produk pertanian Indonesia dan produk impor dari luar negeri, terutama terkait pemberlakukan regulasi kandungan pestisida dan bahan pengawet.
Dalam sebuah pernyataan dalam video yang beredar di media sosial, Bayu Diningrat mengungkapkan bahwa buah-buahan seperti apel, anggur, dan pir yang biasa dibeli masyarakat di pasar swalayan atau supermarket merupakan hasil panen yang telah disimpan dalam rentang waktu cukup panjang.
“Bapak ibu kalau ke rumah sakit menjenguk orang yang lagi sakit bawa apa ke rumah sakit? Bawa apel, anggur, pir. Panenan kapan itu? Itu sudah satu tahun yang lalu. Apa yang membuat dia bisa awet? Minimal lapisannya lilin dan di dalamnya pasti ada pengawet,” ujar Bayu Diningrat.
Menurutnya, masyarakat perlu lebih kritis terhadap tampilan buah impor meski terlihat mulus dan tahan lama. Ia menyebut, lapisan lilin pada buah impor biasa digunakan untuk menjaga kesegaran selama proses distribusi lintas negara. Selain itu, penggunaan bahan pengawet juga diduga menjadi faktor penting kenapa buah dapat bertahan selama berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun.
Bayu Diningrat, pakar pertanian dan peternakan. (istimewa)
Bayu Diningrat juga menyinggung berapa ketatnya standar ekspor yang diterapkan negara lain terhadap produk pertanian asal Indonesia. Ia menilai, buah lokal sering kali ditolak saat hendak diekspor hanya karena ditemukan residu pestisida meski hanya dalam jumlah kecil.
“Kalau manggis, mangga dari Indonesia ada pestisida kecil saja, sedikit saja, balik satu kontainer itu. Yang pintar siapa? Ini nggak fair,” katanya.
Ia kemudian membandingkan perlakuan terhadap produk Indonesia dengan buah-buahan impor yang menurutnya tetap diterima untuk masuk ke pasar domestik meski mengandung residu pestisida.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi masukan dan kritik terhadap kebijakan pengawasan pangan impor di Indonesia yang dinilai belum seketat negara-negara lain dalam melindungi kesehatan masyarakat dan produk lokal.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Jessica Mila Sentil Kapten Kapal Soal Polemik Pulau Padar: Harus Terbuka soal Larangan Berlayar!
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
