Kita memeriksa salam pembuka, mengubah penutup, dan bahkan mempertimbangkan apakah harus menyertakan emoji (sering kali akhirnya tidak melakukannya).
Namun, betapa mengejutkannya saat kita mengetahui bahwa nada email kita ternyata disalahartikan. Ada kolega yang merasa email kita terlalu sarkastik, padahal niat kita hanya ingin langsung ke pokok pembicaraan.
Hal ini membuktikan betapa mudahnya email—yang seharusnya menjadi alat komunikasi yang efisien—malah menimbulkan kesalahpahaman besar.
Banyak dari kita mengandalkan email untuk tetap terhubung dan produktif, tetapi ada beberapa kebiasaan kecil yang tanpa disadari dapat merusak hubungan kerja.
Mari kita bahas empat kebiasaan email yang mungkin tanpa sadar kita lakukan, yang ternyata bisa berdampak negatif pada lingkungan kerja, dikutip dari Geediting, Kamis (20/2).
1. Menggunakan Klise dan Frasa yang Mengganggu
Menurut survei oleh Perkbox, "Hanya mengingatkan..." adalah salah satu klise email yang paling menyebalkan. Frasa lain seperti "Sesuai email terakhir saya" atau "Ada pembaruan mengenai ini?" juga termasuk dalam daftar yang mengganggu.
Kita mungkin berpikir bahwa ini hanyalah cara yang efektif untuk mengingatkan seseorang, tetapi jika terlalu sering digunakan, frasa ini bisa terdengar pasif-agresif.
Bahkan, studi yang dilakukan oleh The Ladders menemukan bahwa 25% responden di Amerika menganggap "Tidak yakin apakah Anda melihat email terakhir saya…" sebagai pernyataan paling menjengkelkan.
Jika kita terlalu sering mengirim email pengingat, mungkin lebih baik mencoba pendekatan lain seperti menelepon atau langsung berbicara dengan rekan kerja.
2. Mengabaikan atau Memilih Salam yang Salah
Salah satu cara tercepat untuk membuat kolega merasa kurang dihargai adalah dengan langsung masuk ke inti email tanpa salam pembuka.
Dalam survei yang sama, 53 persen responden mengatakan bahwa mengabaikan salam adalah kebiasaan yang sangat mengganggu. Sebaliknya, menggunakan sapaan yang terlalu santai atau kuno juga bisa menimbulkan kesan yang kurang profesional.
Pilihan salam yang aman dan netral seperti "Hai," atau "Selamat pagi," cukup untuk menciptakan suasana yang lebih ramah dan profesional.
3. Menggunakan Huruf Kapital dan Tanda Baca Berlebihan
Pernahkah kita menerima email yang terasa seperti teriakan? Menggunakan HURUF KAPITAL SEMUA, terlalu banyak tanda seru!!!!, atau bahkan teks berwarna terang bisa membuat penerima merasa terintimidasi.
Coba saja baca frasa di atas, enak tidak?
Menurut penelitian, 67 persen responden merasa bahwa penggunaan huruf kapital secara berlebihan sangat mengganggu. Tanda seru yang terlalu banyak juga bisa dianggap kurang profesional.
Sebagian besar peserta survei setuju bahwa satu tanda seru sudah cukup untuk menunjukkan antusiasme tanpa berlebihan.
Jika kita ingin menyampaikan emosi atau urgensi dalam email, sebaiknya gunakan kata-kata yang tepat daripada mengandalkan tanda baca yang berlebihan.
4. Menutup Email dengan Cara yang Kurang Tepat Penutup
Email bisa meninggalkan kesan yang bertahan lama. Frasa seperti "Salam hangat" atau "Salam" mungkin cocok untuk email pribadi, tetapi dalam konteks profesional, bisa dianggap kurang sesuai.
Bahkan, survei menemukan bahwa 57% responden tidak menyukai "Salam hangat", sementara 44 persen merasa bahwa tidak menutup email sama sekali juga bukan pilihan yang baik.
Jika kita ingin aman, gunakan penutup seperti "Salam hormat," "Terima kasih," atau "Salam." Meskipun terdengar formal, ini tetap merupakan pilihan yang sopan dan profesional.