Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Februari 2025 | 06.29 WIB

Dampak Motherless: Orang yang Tumbuh Tanpa Sosok Ibu yang Penuh Kasih Sayang Cenderung Mengembangkan 8 Sifat Ini Saat Dewasa

Ilustrasi Orang yang Tumbuh Tanpa Sosok Ibu yang Penuh Kasih Sayang - Image

Ilustrasi Orang yang Tumbuh Tanpa Sosok Ibu yang Penuh Kasih Sayang

JawaPos.com - Tidak semua orang tumbuh dengan sosok ibu yang penuh cinta dan perhatian. Beberapa mengalami pengabaian emosional, sementara yang lain sama sekali tidak pernah merasakan kehangatan ibu dalam hidup mereka.

Ketika anak tidak mendapatkan kasih sayang dan dukungan yang seharusnya datang dari ibu, mereka belajar bertahan dengan cara mereka sendiri.

Tanpa kasih sayang bunda, kepribadian anak berkembang dengan pola yang berbeda—kadang lebih kuat, kadang lebih rapuh. Dan tanpa kita sadari, pengalaman masa kecil itu membentuk siapa kita saat dewasa.

Dilansir dari laman Geediting.com pada Minggu (9/2) berikut adalah delapan sifat yang sering berkembang pada mereka yang tumbuh dengan dampak motherless.

1. Harga Diri Rendah

Orang yang tumbuh tanpa kehangatan ibu sering kali merasa tidak cukup baik, tidak cukup berharga. Tidak peduli seberapa banyak yang mereka capai, selalu ada suara kecil di kepala yang mengatakan bahwa itu belum cukup.

Mereka mungkin ragu terhadap nilai diri mereka dalam hubungan, pekerjaan, atau bahkan dalam keputusan kecil sehari-hari. Kurangnya validasi dari sosok ibu sejak kecil membuat mereka sulit percaya pada kemampuan sendiri.

2. Sulit Mempercayai Orang Lain

Ketika seseorang yang seharusnya mencintai dan melindungi kita tidak hadir secara emosional, sulit untuk percaya bahwa orang lain akan ada untuk kita. Orang dengan dampak motherless sering mengembangkan pola pikir "aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri."

Akibatnya, mereka cenderung menjaga jarak dalam hubungan, sulit membuka diri, dan selalu siap menghadapi kemungkinan dikecewakan.

3. Sangat Mandiri

Tidak adanya sosok ibu yang bisa diandalkan sejak kecil membuat seseorang belajar untuk mengurus dirinya sendiri lebih awal. Saat dewasa, ini berubah menjadi kemandirian ekstrem. Mereka jarang meminta bantuan, lebih suka menyelesaikan masalah sendiri, dan bahkan bisa merasa bersalah jika harus bergantung pada orang lain.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami pengabaian emosional sering mengembangkan hiper-kemandirian sebagai mekanisme bertahan. Mereka takut kecewa, jadi mereka memilih untuk tidak terlalu mengandalkan siapa pun.

4. Kesulitan Mengatur Emosi

Anak-anak biasanya belajar memahami dan mengelola emosi dari ibunya. Namun, tanpa kasih sayang bunda, regulasi emosi bisa menjadi tantangan besar. Mereka mungkin merasa emosi datang dalam bentuk ekstrem, menahan semua perasaan di satu waktu, lalu tiba-tiba merasa sangat kewalahan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore