
Ilustrasi delapan cara gaya pengasuhan yang memberikan dampak negatif terhadap kepercayaan diri dan keberanian anak.
JawaPos.com - Ada batasan tipis antara bersikap penyayang dan bersikap terlalu protektif sebagai orang tua.
Melewati batas itu dapat menjadi kesalahan karena berarti membesarkan anak-anak yang takut menghadapi dunia.
Perlindungan yang berlebihan, meskipun bermaksud baik, secara tidak sengaja dapat menciptakan anak-anak yang pemalu dan penakut.
Dilansir dari Geediting, terdapat delapan cara gaya pengasuhan yang memberikan dampak negatif terhadap kepercayaan diri dan keberanian anak.
1. Mengendalikan terus menerus
Tidak dapat disangkal bahwa orang tua memiliki naluri alami untuk melindungi anak-anak mereka. Namun, ada perbedaan antara perlindungan yang diperlukan dan pengawasan yang terus-menerus.
Istilah "helicopter parenting" yang dicetuskan pada awal tahun 1990-an menunjukkan jenis pola asuh yang dicirikan oleh orang tua yang selalu mengawasi anaknya, mirip seperti helikopter.
Ide di baliknya adalah bahwa dengan selalu hadir dan mengendalikan, orang tua dapat mencegah bahaya dan memastikan keberhasilan anak mereka. Namun, perubahan yang terus-menerus ini dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.
Dengan terus-menerus campur tangan, orang tua mungkin secara tidak sengaja mengirimkan pesan bahwa dunia ini adalah tempat yang menakutkan dan bahwa anak mereka tidak mampu menjalaninya sendiri. Ini dapat membuat anak-anak menjadi takut mengambil risiko atau membuat keputusan secara mandiri.
2. Memperbesar rasa takut
Alih-alih mendorong anaknya untuk menghadapi rasa takut dan belajar, orang tua malah memperbesar rasa takut itu. Setiap kali anak dalam perasaan takut, mereka akan memeluk anaknya erat-erat dan mengingatkan betapa berbahayanya hal itu.
Orang tua mungkin berpikir bahwa mereka melakukan hal yang benar dengan melindungi anak-anak mereka dari potensi bahaya. Namun, dengan terus-menerus berfokus pada hasil yang negatif, mereka mungkin secara tidak sengaja menanamkan rasa takut yang tidak rasional pada anak-anak mereka.
3. Kurangnya keterampilan memecahkan masalah
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Minnesota, ditemukan bahwa 90% ibu campur tangan dalam tugas anak-anak mereka, bahkan ketika anak tersebut mampu mengerjakannya sendiri.
Keterlibatan yang berlebihan ini dapat menghilangkan kesempatan anak untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang penting. Bila orang tua terburu-buru menyelesaikan setiap masalah anak, mereka secara tidak sengaja mengirim pesan bahwa anak tidak mampu mengatasi masalah sendiri.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
