Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Januari 2025 | 21.03 WIB

Menurut Psikologi, Orang yang Memiliki Hubungan Kurang Baik dengan Ibunya, Sering Melakukan 6 Kebiasaan Ini

Ilustrasi anak yang tidak punya hubungan baik dengan ibunya./Freepik. - Image

Ilustrasi anak yang tidak punya hubungan baik dengan ibunya./Freepik.

JawaPos.com - Ibu adalah sosok yang wajib dihormati karena dia telah berjuang untuk mengandung, melahirkan, hingga merawat kita sampai saat ini. Bagaimanapun sikapnya, kasih sayang terhadap ibu tidak bisa ditawar lagi.

Namun ada diantara mereka yang justru memiliki hubungan kurang baik dengan ibunya, entah dengan alasan apapun itu. Mulai dari kisah traumatis masa lalu atau perbedaan sudut pandang.

Dilansir dari laman Your Tango pada (06/01) menurut psikologi, orang yang memiliki hubungan kurang baik dengan ibunya, sering melakukan 6 kebiasaan ini dalam hidupnya :

Baca Juga: Blak-blakan Alasan Berhentikan Shin Tae-yong, Erick Thohir: Timnas Indonesia Perlu Pemimpin yang Disepakati Pemain

1. Selalu menyimpan emosi negatif

Saat dihadapkan pada pemikiran tentang ibu, kuali emosi negatif mendidih di dalam dirimu. Emosi negatif ini sering kali merupakan campuran dari rasa takut,, cemas, atau penolakan.

Mungkin saja mereka mengalami kesulitan mengidentifikasi teman dan kolega yang menikmati hubungan dengan ibunya. Jika kamu memaafkan perilaku ibumu, bisa menekan emosi negatif tanpa menanggung sebagian kesalahannya.

2. Bereaksi terhadap konflik

Jika seorang ibu mematahkan semangat anaknya ketika tumbuh dewasa, anak tersebut akan sulit belajar menghadapi konflik. Mereka cenderung menghindari konflik, lalai membela diri sendiri bila diperlukan, dan enggan membela orang lain agar tidak menimbulkan perselisihan.

Baca Juga: Mengapa Kita Suka Membagikan Musik Favorit di Media Sosial? Ini Alasannya Menurut Penelitian

Dalam hubungan ibu dan anak yang kurang baik ini dipertegas pada sebuah penelitian pada tahun 2018, menemukan bahwa dinamika tersebut dapat menjadi kodependen, yaitu kondisi emosional seseorang sangat bergantung pada orang lain, sehingga menyebabkan tingkat tanggung jawab dan rasa bersalah yang tidak sehat.

3. Menahan kasih sayang

Jika seorang ibu menahan kasih sayang dari anaknya sebagai bentuk hukuman. Mereka belajar bahwa cinta ibu itu bersyarat, serta berdasarkan seberapa sering mereka menyenangkan ibunya.

Beberapa ibu mungkin tidak memberikan kasih sayang sama sekali, bahkan ketika anak sudah baik-baik saja. Sebagai tanggapan, beberapa anak akan terus-menerus mencari persetujuan, berharap menerima sedikitpun tanda kasih sayang.

Baca Juga: Shin Tae-yong Diberhentikan, Begini Reaksi Kapten Timnas Indonesia Jay Idzes

Sedangkan kasus lainnya memutuskan untuk tidak mengganggu, mengisolasi diri secara emosional dan menghindari kontak. Dalam kedua kasus tersebut, anak-anak dimanipulasi secara emosional dan belajar bahwa kasih sayang adalah sesuatu yang bersyarat dan langka.

4. Mencari hubungan kodependen

Hubungan kodependen melibatkan pasangan pasif dan dominan yang keduanya menemukan kepuasan dalam ketergantungan emosional. Semakin besar ketergantungan pasangannya, maka orang tersebut semakin merasa dicintai.

Dalam hubungan kurang baik antara ibu dan anak ini, ibu berperan sebagai pasangan yang dominan. Dia melakukan tindakan ekstrem untuk memastikan anaknya selalu membutuhkannya, sehingga menghambat perkembangan yang sehat.

5. Sangat kritis

Para ibu yang keras mengkritik setiap perilaku tidak menyenangkan dan pelanggaran sekecil apapun akan menimbulkan omelan atau hukuman yang tidak proporsional.

Psikologi telah lama mengajarkan bahwa kita semua mengembangkan suara hati, dan bagi banyak orang dewasa, suara hati mereka adalah milik salah satu orang tuanya, terutama ibu.

Seorang ibu yang terlalu mengawasi anaknya dan kerap memberikan kritik pada setiap hal yang dilakukan, akan menimbulkan sikap kritis juga pada mereka saat beranjak dewasa.

Mereka terus-menerus melawan suara di kepala dan selalu berpikir bahwa dia tidak cukup baik atau sukses. Sehingga mereka cenderung perfeksionis dan berekspektasi tinggi terhadap diri sendiri maupun orang lain.

6. Selalu membutuhkan validasi

Lingkungan masa kecil mereka ditandai dengan kritik, kasih sayang yang dirahasiakan, cinta yang bersyarat, selalu didominasi, dan berada di tengah konflik, akan membuat anak terus mencari validasi.

Mereka menginginkan pengakuan yang sering atas perilaku atau pencapaian yang baik, padahal pemikiran tersebut membuat mereka lelah secara emosional.

Dikutip dari laman Alodokter, sebuah penelitian menyatakan bahwa ibu dan khususnya anak perempuan memiliki korelasi dalam berpikir dan mengatur emosi. Berkat korelasi itulah membuat hubungan mereka bisa sangat dekat atau berjarak.

Terlepas dari konflik apapun yang terjadi, jangan pernah melabeli ibu dengan sebutan 'toxic', karena bagaimanapun mereka adalah manusia yang bisa saja melakukan kesalahan. Dengan hadirnya dia, kita bisa berdiri di bumi ini.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore