Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Desember 2021 | 22.48 WIB

Jalan Sempit, Parkir Mobil Kudu Berempati

Parkir mobil - Image

Parkir mobil

Masa kini banyak keluarga yang punya mobil lebih dari satu. Entah karena kebutuhan atau punya rezeki lebih. Padahal, garasi atau carport mereka hanya muat untuk satu mobil. Atau, malah tak punya carport. Dengan demikian, kendaraan harus diparkir di pinggir jalan, bahkan di depan rumah tetangga.

---

LALU, bagaimana jika mereka tinggal di perumahan atau perkampungan yang jalan-jalannya relatif kecil? Yang bahkan jalannya mungkin hanya ngepas untuk dua mobil bersisipan? Juga, bagaimana jika saat bertamu ke rumah kenalan, kita harus parkir di depan pagar rumah orang. Karena rumah kenalan kita tidak cukup luas untuk kita bisa parkir di dalam halamannya.

Lahan dan Kebutuhan

Masalah tentang jalan permukiman, mobil, lahan, dan parkir ini memang sebuah masalah sosial yang bisa jadi friksi atau menimbulkan ketegangan antartetangga, bila tidak tepat dalam menyikapi. Namun, apa sih arti dari hidup bersama di sebuah lingkungan dengan sebuah kebutuhan dan keterbatasan akan lahan? Tiap orang ingin hidup dalam kenyamanan, di mana pun dan seberapa pun lahan yang dimiliki. Itu manusiawi.

Timbul Rasa Tak Nyaman

Tentang jalan, lahan bersama, kendaraan, dan kebutuhan para penghuni rumah, ini sering menimbulkan ’’sesuatu’’. Ada hal-hal yang bikin penghuni tidak nyaman. Misalnya, ada tamu tetangga yang parkir di depan pagar kita. Spontan kita langsung membatin ’’Mobil siapa sih itu?’’ atau ’’Tamu siapa sih itu?’’. Kita seperti merasa kurang ikhlas. Kita merasa lahan kita dipakai atau diambil. Atau, misalnya saat ada tetangga yang mungkin karena sedang butuh, terpaksa parkir di area rumah kita.

Lantas, Solusinya?

Jika itu adalah kasus yang terjadi sesekali, bagaimana seharusnya sikap kita? Menyadari bahwa kita hidup bersama di dalam sebuah lingkungan dengan lahan/sarana relatif terbatas. Ada kebutuhan-kebutuhan yang berbeda-beda, termasuk tentang kendaraan.

Timbang rasa dan kerja sama harus menjadi mindset dan mindshape kita. Apa salahnya orang parkir di depan rumah kita? Toh, kita tidak sedang memakainya. Apa ruginya menolong orang dengan meminjamkan lahan tak terpakai? Di saat lain, kita juga sering butuh meminjam lahan orang lain, bukan? Jangan lupa itu.

Sebisa mungkin usahakan untuk tidak mengganggu kenyamanan para tetangga, terutama bila ada acara keramaian di rumah kita. Bagaimana bila gangguan pemakaian jalan atau lahan dari tetangga itu sering terjadi. Mungkin ini bisa dilakukan.

Bersilaturahmi ke tempat si tetangga Ungkapkan dengan permohonan maaf, ramah, dan santun tentang masalah kebutuhan akan lahan yang mungkin sering dia ’’serobot’’. Yang membuat kelancaran aktivitas Anda terkendala karenanya.

Ungkapkan dengan santai, suasana persaudaraan, dan permintaan maaf di akhirnya. Tawarkan solusi yang mungkin Anda punya untuknya. Itu akan sangat bagus sebagai jalinan kerukunan tetangga.

Lahan permukiman mungkin memang terbatas sehingga kadang harus saling ”mengganggu’’. Namun, selalu ada solusinya. Terutama bila ada niat baik dan sikap rendah hati yang mengutamakan kerukunan dan prinsip saling ’’give and give’’. (*)




*) BABY JOEWONO, Founder & trainer at Baby Joewono Soft Skills Center Penulis buku Optimizing You with Brain-based Soft Skills dan Soft Skills Solid, Profesi Melejit

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore