
Ilustrasi orang tua dan anak.
JawaPos.com - Membesarkan anak memang bukan hal mudah. Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Namun, ada satu kesalahan parenting yang sering terjadi tanpa disadari: membandingkan anak.
Baik itu membandingkan dengan saudara kandung, teman sebaya, atau bahkan dengan “standar ideal” tertentu, perilaku ini bisa meninggalkan dampak buruk jangka panjang.
Dilansir dari laman India Times pada Senin (18/11) mari kita bahas mengapa dampak membandingkan anak ini begitu serius, hingga layak disebut sebagai “kejahatan terbesar dalam parenting”!
1. Merusak Harga Diri
Anak-anak adalah individu yang sedang belajar mengenal dunia dan membangun rasa percaya diri. Ketika mereka terus dibandingkan, apalagi dengan cara negatif, mereka mulai merasa “tidak cukup baik”.
Kalimat seperti “Kok kamu nggak bisa seperti kakak?” atau “Lihat temanmu, pintar banget!” mungkin terdengar sederhana, tapi bisa membuat anak merasa tidak dihargai. Dalam jangka panjang, ini merusak harga diri mereka dan membuat mereka tumbuh dengan perasaan inferior.
2. Menciptakan Persaingan Antar Saudara
Membandingkan anak dengan saudara kandungnya adalah cara tercepat untuk menciptakan konflik di rumah. Anak-anak bisa mulai merasa iri, marah, atau bahkan benci terhadap satu sama lain.
Mereka mungkin merasa harus selalu berlomba mendapatkan perhatian orang tua. Akibatnya, hubungan persaudaraan yang seharusnya hangat berubah menjadi persaingan yang penuh tekanan.
3. Menghancurkan Motivasi dan Dorongan Diri
Alih-alih memotivasi, membandingkan anak justru seringkali mematikan semangat mereka. Anak-anak yang terus dibandingkan cenderung berpikir, “Apa pun yang aku lakukan, tetap saja salah.”
Akhirnya, mereka kehilangan keinginan untuk mencoba atau berkembang. Mereka merasa usahanya tidak akan pernah cukup di mata orang tua.
4. Menekan Individualitas Mereka
Setiap anak itu unik. Mereka memiliki kemampuan, minat, dan kepribadian yang berbeda-beda. Ketika orang tua terus membandingkan, mereka secara tidak langsung menekan anak untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Padahal, salah satu tugas penting orang tua adalah mendukung anak dalam menemukan jati dirinya, bukan memaksanya mengikuti standar tertentu.
5. Meningkatkan Kecemasan dan Stres
Dampak membandingkan anak lainnya adalah meningkatkan tingkat kecemasan mereka. Anak-anak yang merasa tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tua akan hidup dalam tekanan.
Mereka mulai khawatir akan terus-menerus gagal. Tekanan ini bahkan bisa berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka, seperti sulit tidur atau kehilangan selera makan.
6. Mengurangi Kepercayaan dan Komunikasi Terbuka
Ketika anak merasa terus dihakimi, mereka cenderung menarik diri. Mereka menjadi takut berbicara dengan orang tua, khawatir akan dibandingkan atau dikritik.
Hal ini mengurangi kepercayaan anak kepada orang tua dan merusak komunikasi yang seharusnya hangat dan terbuka.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
