
Ilustrasi mengekspresikan amarah dalam sebuah hubungan.
JawaPos.com - Apakah kamu tahu bahwa selain love language, emosi negatif seperti marah juga memiliki bahasa tersendiri dalam sebuah hubungan? Kemarahan sering dianggap sebagai reaksi sekunder yang melindungi kita dari emosi lebih rentan seperti rasa sakit hati atau ketakutan, bertindak sebagai mekanisme pertahanan.
Kemarahan memperlihatkan kebutuhan yang tidak terpenuhi, pelanggaran batasan, atau konflik yang belum terselesaikan. Namun, cara ekspresinya bervariasi, menciptakan beragam "anger language".
Bahasa ini bisa dipicu oleh faktor eksternal atau internal seperti pengalaman masa lalu atau perilaku yang dipelajari. Dibahas lima jenis anger language. Melansir dari Forbes dan Psychology Today, berikut adalah jenis-jenis anger language dalam sebuah hubungan:
Righteous
“Aku benar, Kamu salah. Dibalut dengan rasa superioritas, bahasa ini bisa memicu persaingan yang tak berujung, di mana kesalahan masa lalu menjadi pusat perdebatan.
Kemarahan ini mendorong pertikaian dengan mengabaikan pandangan berlawanan, memperkuat keyakinan yang ada dan memperdalam kesenjangan di antara mereka yang bertikai.
Indignation
Kemarahan ini ditandai dari ekspresi ketidakpercayaan dan sikap korban, digunakan sebagai alat untuk mengalihkan kesalahan dan menyalahkan pihak lain.
Dengan merasa sebagai korban, seseorang mencari simpati namun juga menuding pihak lain, menghalangi dialog dan penyelesaian konflik yang konstruktif.
Ini menciptakan ketidakseimbangan dalam kekuasaan dan memperpanjang siklus saling menyalahkan. Sikap defensif ini membuat seseorang lebih fokus pada pembelaan diri daripada pertumbuhan dan rekonsiliasi bersama.
Retribution
Retribusi adalah keinginan untuk membalas dendam, menerapkan prinsip "mata ganti mata", dengan tujuan memperbaiki ketidakadilan yang dirasakan melalui hukuman atau kerugian kepada pelanggar. Namun, siklus pembalasan bisa memperdalam permusuhan, menghalangi rekonsiliasi dan penyelesaian yang sebenarnya.
Distraction
Gangguan digunakan untuk mengalihkan perhatian dari kesalahan atau kekurangan diri sendiri dengan mengemukakan keluhan atau kesalahan pihak lain di masa lalu.
Hal ini mirip dengan mencoba mengubah topik pembicaraan untuk menghindari akuntabilitas dan kebenaran yang tidak menyenangkan.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Jeritan Puluhan Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Balai Kota DKI: Gaji Ke-13 Tak Cair
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
