
ILUSTRASI. Salah satu mainan yang bisa merangsang perkembangan otak anak adalah bongkar pasang seperti lego. Setidaknya, ada empat pelajaran penting yang bisa didapatkan. (ISTIMEWA)
JawaPos.com - Dunia anak-anak memang tak bisa jauh dari mainan. Tapi, bukan sekadar media bermain, mainan ternyata bermanfaat untuk melatih perkembangan otak sang anak. Bahkan, bisa mengasah kreativitas dan membentuk rasa percaya diri sejak dini, yang bisa melekat hingga dewasa.
Diungkapkan Parenting Expert and Founder of Mamalyfe.id, Rensia Sanvira, tantangan orang tua saat ini bukan sekadar membuat anak bahagia dengan mainannya atau membantu memecahkan masalah si anak saat ini. Tapi justru memiliki tantangan bagaimana mempersiapkan kemampuan maupun mental sang anak saat dewasa nanti.
Mulai dari cara berpikir, lalu bersosialisasi hingga lebih percaya diri menghadapi kehidupan saat dewasa. Itu semua, ungkap Rensia, harus dipersiapkan sejak dini.
"Kita (orang tua, Red) suka lupa kalau kita gak (cuma) didik anak tapi mempersiapkan calon orang dewasa. kita lupa (mempersipakan) skill-skill atau prinsip penting yang mereka bawa hingga dewasa. Nah bisa kita ajarkan dari bermain. Bisa kita stimulasi dari yang dia mainkan, itu melatih pikirannya," ujar Rensia dalam Virtual Press Conference: 'Rebuild The World #BebaskanKreasimu!' bersama Lego.
Rensia mencontohkan, salah satu mainan yang bisa merangsang perkembangan otak sang anak adalah bongkar pasang seperti Lego. Setidaknya, ada empat pelajaran penting yang bisa didapatkan sang anak saat bermain bongkar pasang. Seperti memecahkan masalah, membuat keputusan, membuat perencanaan, dan mendorong kreativitas.
"Dari permainan sederhana kaya lego, itu bisa membentuk skill-skill yang bisa ditanamkan saat dewasa. Otak semakin dilatih maka semakin berkembang," paparnya.
Dalam survei LEGO Play Well Global Study 2020 mengatakan, 94 persen anak-anak terbantu mempelajari hal-hal baru. Sedangkan, 91 persen orang tua juga setuju akan hal itu dan percaya bahwa bermain dengan mainan seperti LEGO bricks telah membantu anak-anak mereka mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah.
“Di The LEGO Group, kami ingin setiap anak mengalami permainan kreatif saat mereka belajar memecahkan masalah, menjadi kreatif, dan mengembangkan ketekunan. Tidak ada kreasi LEGO yang benar atau salah, dan setiap orang bebas berekspresi melalui kreasi mereka," ujar Rohan Mathur, Marketing Director The LEGO Group di Asia Tenggara.
1. Membuat Perencanaan
Saat bermain bongkar pasang, sang anak sudah tahu mau bangun apa. Dari situ ia belajar penyiapkan apa saja yang dibutuhkan agar bangunan yang diinginkannya bisa terwujud. Misalnya perlu yang bentuk persegi atau persegi panjang. Mereka belajar menyusun yang dibutuhkan.
"Bermain bukan hanya bermain tapi itu meraka belajar sesuatu di sana," tukas Rensia.
2. Memecahkan Masalah
Tanpa disadari, ketika bermain, sebenarnya anak sudah dihadapkan pada masalah. Meski terlihat sederhana, tapi adanya masalah dalam permainannya bisa menstimulasi otak anak untuk mencari jalan keluarnya.
Misalnya pada saat mau bikin kastil dari lego. Ketika kastil tidak bisa berdiri seimbang, sang anak dilatih untuk berpikir 'Ini kenapa ya tidak bisa berdiri?'. Dari pertanyaan tersebut, muncul panggilan untuk mencari cara agar bangunannya bisa berdiri. Secara tidak langsung, dia mencari jalan untuk memecahkan masalahnya.
"Kepercayaan diri anak bisa makin meningkat ketika dia terbiasa menghadapi hal yang susah tapi berhasil menemukan jawabannya sendiri," sambungnya.
3. Membuat Keputusan
Lalu dari mainan bongkar pasang pun sang anak belajar untuk memutuskan. Misalnya memutuskan untuk mau membangun apa sesuai dengan keinginannya. Atau misalnya memutuskan untuk melanjutkan apa yang sudah dia bangun dengan bikin yang baru.
Misalnya saat mau bikin kastil tapi ada kendala yang ia temukan, maka ia bisa belajar untuk tetap membangun kastil atau memutar otaknya untuk mengubahnya menjadi bentuk yang lain seperti rumah.
4. Kreativitas
Nah, bicara soal kreativitas, saat bermain biarkan anak mewujudkan imajinasinya. Penting bagi orang tua untuk tidak membatasi apa yang anak lakukan selama tidak berbahaya. Diakui Rensia, terkadang orang tua melakukan banyak interupsi saat anak bermain jika tak sesuai dengan ekspektasi. Beri kebebasan pada anak agar kreativitasnya berkembang sesuai imajinasinya.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Menlu Iran Ungkap Dugaan Kebocoran Intelijen di Jantung Kekuasaan, Serangan yang Tewaskan Khamenei Dinilai Sudah Diketahui Musuh
Hotman Paris Sampaikan Permintaan Maaf usai Diduga Hina Wartawan "Lu punya otak enggak sih?"
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Polisi Periksa Saksi dan CCTV, Ungkap Dugaan Penculikan Atlet Golf Putri Indonesia Jesslyn Wijaya
