alexametrics

Cegah Obvesitas dengan Pola Makan Sehat, Bukan Kurangi Frekuensi Makan

4 Februari 2021, 22:58:41 WIB

JawaPos.com – Obesitas menjadi musuh berbahaya semua orang. Karena, obesitas bisa memicu berbagai penyakit mulai dari diabetes, stroke, hipertensi hingga kanker payudara. Hal itu bisa dicegah, salah satunya melalui pola makan yang sehat.

Lalu, apabila Anda sudah terlanjur obesitas, maka penurunan berat badan secara sehat menjadi anjuran para pakar kesehatan. Pakar gizi klinik di Rumah Sakit Hermina Galaxy, dr. Cut Hafiah menekankan bahwa, bukannya mengurangi frekuensi makan tetapi menjaga pola makan sehat.

’’Pola makan harus benar-benar dijaga bukan mengurangi frekuensi makan, tetapi makan teratur. Makan utama tetap tiga kali. Untuk asupan nasi, karbohidrat bisa diganti dengan jenis lain misalnya karbohidrat kompleks semisal kentang, jagung,’’ ujar dia dalam Peluncuran Program Diet Sehat D8: W8 (dibaca Weight) Loss Challenge via daring, Kamis (4/2), seperti dikutip dari Antara.

Hafiah juga mengingatkan, saat ini ada berbagai mitos di masyarakat terkait program penurunan berat badan, salah satunya memperbolehkan cheating atau membebaskan diri mengonsumsi makanan apa saja. Bertentangan dengan mitos ini, Hafiah tidak menyarankan cheating apalagi di bulan-bulan awal Anda menerapkan program diet.

Dia menambahkan, pada pasien yang memiliki berat badannya lebih dari 100 kg, sudah terpola makan tinggi lemak, karbohidrat dan belum menerapkan pola makan sehat secara teratur, cheating justru menyebabkan berat badan tidak akan turun.

Anda tetap harus makan tiga kali sehari (makan berat) ditambah mengonsumsi camilan. Hafiah merekomendasikan rentang waktu sarapan pukul 06.00-08.00, lalu makan siang pukul 11.00-13.00 dan makan malam pukul 18.00-20.00 (asupan makanan perlu didiskusikan dengan dokter gizi).

Aturan makan malam ini menjadi bantahan mitos yang menyebutkan melewatkan makan malam karena bisa menyebabkan tubuh gemuk.

Dia menjelaskan, apabila makan malam jam 8 malam dengan martabak atau makan tinggi karbohidrat pasti berat badan meningkat. ’’Lalu jam 9 malam sudah tidur, pasti ada penumpukan makanan di perut,’’ kata dia.

Di sisi lain, rentang waktu makan menjadi rekomendasi untuk membiasakan Anda memakan camilan alias snacking untuk membiasakan makan sedikit tetapi sering. Waktu snacking yang disarankan pukul 10.00 dan 15.00 atau di dua waktu. Menurut Hafiah, melewatkan waktu snacking justru berdampak pada berat badan tak turun karena rasa lapar akan meningkat dan kalori yang Anda konsumsi akan lebih banyak.

Dia juga tak menyarankan Anda mengurangi kalori berlebihan karena justru menyebabkan tubuh lemas dan terganggunya konsentrasi. Terakhir, tak melulu pola makan. Anda juga disarankan melakukan olahraga minimal 3–5 kali seminggu dengan durasi 20–30 menit atau lebih dari itu apabila Anda sudah terbiasa. ’’Olahraga ini personalized karena tergantung berat badan, aktivitas fisik, kebiasaan atau riwayat penyakit atau cedera,’’ demikian ujar Hafiah.

Presenter Indy Barends, salah satu sosok yang menerapkan pola makan sesuai waktu, teratur (pagi, siang dan malam) ditambah olahraga rutin. Dia yang pada Oktober 2020 memiliki bobot tubuh 58 kg sekarang menjad 56 kg. ’’Yang mesti dilakukan adalah maintain (berat badan). Pilah (makanan) mana yang bisa dikonsumsi. makan di jam tepat. Jalan 45 menit. Pola makan benar, tetap harus makan (pagi, siang dan malam), sekarang jadi 56 kg,’’ tutur dia. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dinarsa Kurniawan

Reporter : Antara




Close Ads