
Perangko edisi Dilan diluncurkan tepat di Hari Filateli Nasional yang diperingati setiap tanggal 29 Maret
JawaPos.com - Meski hampir terlupakan, prangko masih memiliki ruang tersendiri bagi mereka yang hobi mengoleksi benda-benda pos atau filateli. Nah, setiap tanggal 29 Maret diperingati sebagai Hari Filateli Nasional.
Lantas, seperti apa sih sejarah Filateli di Indonesia? Sejarawan Andi Achdian mengisahkan bahwa klub-klub filateli berkembang di Indonesia sejak awal Abad ke-20. Setiap kota memiliki klub-klubnya sendiri seperti Batavia, Surabaya, Malang, dan sebagainya.
Menurut Andi, kebiasaan mengoleksi benda pos itu diawali oleh orang-orang Belanda di Hindia saat itu. Pos menjadi sarana menghubungkan mereka dengan kerabat dan sahabat di negeri Belanda.
"Keberadaan penggemar pengumpul prangko sudah ada mulai akhir abad ke-19, ketika semakin banyak warga Belanda tinggal di Hindia," papar Andi kepada JawaPos.com, Kamis (29/3).
Andi menuturkan, di antara orang-orang Indonesia, kebiasaan itu juga sudah berkembang sejak awal abad ke-20. Mereka yang melakukannya berasal dari kalangan terpelajar di sekolah Belanda.
"Kartini bisa jadi salah satu contohnya. Kegiatan korespondensi dan membangun sahabat pena merupakan salah satu hobi baru yang berkembang," jelasnya.
Ringkasnya, kata Andi, filateli adalah bentuk hobi baru seiring berjalannya modernitas di Hindia Belanda awal abad ke-20.
Tetapi, teknologi yang semakin maju membuat penggunaan prangko mulai ditinggalkan. Sebab, berkabar bisa dilakukan melalui sambungan telepon. Bahkan, saat ini, bisa berkomunikasi jarak jauh melalui video call.
Namun, tak mau kalah dengan kemajuan teknologi, PT Pos Indonesia meluncurkan prangko edisi khusus. Memanfaatkan demam film Dilan: 1990 di kalangan remaja, tepat di Hari Filateli Nasional 2018 ini, prangko dan kartu pos edisi Dilan diluncurkan di Gedung Filateli Jakarta, Kamis (29/3).
Diamati dari Instagram @filateliindonesia, muncul penampakan prangko dan kartu pos Dilan. Satu set kartu pos Dilan terdiri atas empat kartu dengan gambar berbeda.
Gambar-gambar di kartu pos itu tentu saja adalah dua tokoh utama cerita karangan penulis Pidi Baiq, yakni Dilan dan Milea. Untuk harganya, satu set kartu pos Dilan dibanderol dengan harga Rp 25 ribu.
Sementara untuk perangko Dilan: 1990, didesain apik lengkap dengan naskah proklamasi antara Dilan dan Milea sebagaimana cerita di film. Tentunya proklamasi cinta mereka berdua. Harganya masih tergolong masuk akal, yaitu Rp 50 ribu. Jadi, siapkah menambah koleksimu di Hari Filateli ini?

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
