
7 Ciri Kepribadian Orang yang Mengejar Validasi di Media Sosial
JawaPos – Pernahkah Anda bertemu seseorang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian? Mereka mungkin berbicara dengan suara keras, berpakaian mencolok, atau melakukan tindakan dramatis. Perilaku mencari perhatian yang berlebihan ini bisa jadi merupakan tanda dari gangguan kepribadian tertentu.
Dilansir dari laman Halodoc.com (8/2) dalam dunia psikologi bahwa gangguan ini disebut histrionic personality disorder (HPD). Gangguan kepribadian ini ditandai dengan kebutuhan yang kuat untuk diperhatikan dan menuntut kekaguman yang disetujui oleh orang lain.
Selain gangguan ini suka mencari perhatian juga bisa menjadi tanda narsistik. Secara umum, gangguan narsistik ditandai dengan suka mencari perhatian dan mementingkan diri sendiri. Gangguan histrionik lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.
Ciri HPD terlihat lebih jelas pada masa remaja atau dewasa muda. Namun, sebagian besar penderita gangguan ini tidak menyadari bahwa dirinya mengalami HPD. Selain suka mencari perhatian, gangguan histrionik juga memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut:
Terjadinya HPD disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu faktor biologis dan genetik, sosial (lingkungan atau tumbuh dalam keluarga yang terlalu memanjakan atau kurang memberikan batasan yang jelas), dan psikologis (miliki kurang kepercayaan diri dan kebutuhan yang kuat untuk validasi dari orang lain).
Untuk penanganan HPD melibatkan beberapa pendekatan bertujuan membantu individu mengenali dan mengubah pola pikir serta perilaku yang tidak sehat atau negatif. Berikut adalah beberapa metode penanganan yang umum digunakan:
- Psikoterapi, dilakukan terapi perilaku kognitif, terapi interpersonal, dan terapi kelompok untuk membantu individu mencari perhatian yang sehat, berperilaku memahami komunikasi yang lebih efektif dengan orang lain, dan memberikan dukungan sosial.
- Obat-obatan, tidak ada obat khusus untuk HPD, tetapi obat-obatan dapat digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan mental lain yang sering menyertai HPD, seperti depresi atau kecemasan.
- Perubahan gaya hidup, belajar mengatur emosi dengan meditasi atau yoga, meningkatkan kepercayaan diri melalui pelatihan dan pengembangan diri, dan melakukan hobi atau minat baru untuk membantu individu menemukan cara mengekspresikan diri.
Perilaku mencari perhatian yang berlebihan bukanlah sesuatu yang harus dihakimi. Sebaliknya, kita perlu memahami bahwa perilaku ini mungkin merupakan tanda dari adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi atau luka emosional yang belum sembuh.
Dengan pemahaman dan dukungan yang tepat, seseorang yang memiliki kecenderungan mencari perhatian berlebihan dapat belajar untuk mencintai dan menerima diri mereka sendiri, sehingga mereka tidak lagi merasa perlu untuk terus-menerus mencari validasi dari orang lain.
***

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
