Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Januari 2025 | 18.15 WIB

8 Cara Pola Asuh Overprotektif dapat Menyebabkan Anak Menjadi Penakut dan Pemalu, Intip Dampak Negatif dari Gaya Pengasuhan Ini!

Ilustrasi delapan cara gaya pengasuhan yang memberikan dampak negatif terhadap kepercayaan diri dan keberanian anak. - Image

Ilustrasi delapan cara gaya pengasuhan yang memberikan dampak negatif terhadap kepercayaan diri dan keberanian anak.

JawaPos.com - Ada batasan tipis antara bersikap penyayang dan bersikap terlalu protektif sebagai orang tua.

Melewati batas itu dapat menjadi kesalahan karena berarti membesarkan anak-anak yang takut menghadapi dunia.

Perlindungan yang berlebihan, meskipun bermaksud baik, secara tidak sengaja dapat menciptakan anak-anak yang pemalu dan penakut.

Dilansir dari Geediting, terdapat delapan cara gaya pengasuhan yang memberikan dampak negatif terhadap kepercayaan diri dan keberanian anak.

1. Mengendalikan terus menerus

Tidak dapat disangkal bahwa orang tua memiliki naluri alami untuk melindungi anak-anak mereka. Namun, ada perbedaan antara perlindungan yang diperlukan dan pengawasan yang terus-menerus.

Istilah "helicopter parenting" yang dicetuskan pada awal tahun 1990-an menunjukkan jenis pola asuh yang dicirikan oleh orang tua yang selalu mengawasi anaknya, mirip seperti helikopter.

Ide di baliknya adalah bahwa dengan selalu hadir dan mengendalikan, orang tua dapat mencegah bahaya dan memastikan keberhasilan anak mereka. Namun, perubahan yang terus-menerus ini dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Dengan terus-menerus campur tangan, orang tua mungkin secara tidak sengaja mengirimkan pesan bahwa dunia ini adalah tempat yang menakutkan dan bahwa anak mereka tidak mampu menjalaninya sendiri. Ini dapat membuat anak-anak menjadi takut mengambil risiko atau membuat keputusan secara mandiri.

2. Memperbesar rasa takut

Alih-alih mendorong anaknya untuk menghadapi rasa takut dan belajar, orang tua malah memperbesar rasa takut itu. Setiap kali anak dalam perasaan takut, mereka akan memeluk anaknya erat-erat dan mengingatkan betapa berbahayanya hal itu.

Orang tua mungkin berpikir bahwa mereka melakukan hal yang benar dengan melindungi anak-anak mereka dari potensi bahaya. Namun, dengan terus-menerus berfokus pada hasil yang negatif, mereka mungkin secara tidak sengaja menanamkan rasa takut yang tidak rasional pada anak-anak mereka.

3. Kurangnya keterampilan memecahkan masalah

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Minnesota, ditemukan bahwa 90% ibu campur tangan dalam tugas anak-anak mereka, bahkan ketika anak tersebut mampu mengerjakannya sendiri.

Keterlibatan yang berlebihan ini dapat menghilangkan kesempatan anak untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang penting. Bila orang tua terburu-buru menyelesaikan setiap masalah anak, mereka secara tidak sengaja mengirim pesan bahwa anak tidak mampu mengatasi masalah sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore