Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 Juli 2024 | 00.03 WIB

Benarkah Berpikir Positif Tidak Selalu Baik? Simak Pemahaman Tentang Toxic Positivity dan Konsekuensi Buruknya

Ilustrasi- Kepribadian MBTi dengan sikap Positif, Ceria dan Optimis (Jcomp-freepik) - Image

Ilustrasi- Kepribadian MBTi dengan sikap Positif, Ceria dan Optimis (Jcomp-freepik)

JawaPos.com — Berpikir positif merupakan nasehat yang banyak kita dengar, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Dengan senantiasa berpikiran positif, harapannya kita bisa memiliki semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Berpikir positif juga bermanfaat untuk mengatur stress dan mengurangi tingkat depresi. Karena dengan berpikir positif, biasanya kita dapat melihat situasi sulit dengan cara yang lebih baik.

Namun, apakah berpikir positif setiap saat bisa selalu berdampak baik untuk diri sendiri? Nyatanya, sikap tersebut bisa berubah menjadi racun.

Mengenal Toxic Positivity

Kita seringkali mendengar kalimat-kalimat yang bertujuan untuk memotivasi, seperti “jangan melihat hanya dari sisi buruknya saja” atau “semuanya akan berjalan dengan baik” dan juga “apapun yang terjadi kita harus tetap bersikap positif”.

Walaupun kalimat-kalimat tersebut bertujuan baik, namun seringkali sikap selalu positif ini menyebabkan kita enggan mencari akar dari suatu masalah. Sehingga kita juga tidak bisa menemukan solusi untuk masalah yang kita alami.

Itulah yang disebut dengan toxic positivity. Dikutip dari kyanhealth.com, toxic positivity adalah keyakinan keras kepala bahwa orang harus selalu bersikap positif, tidak peduli betapa buruk keadaan yang ada.

Disebut beracun karena “tetap berpikir positif” mengarah pada penolakan untuk mengakui fakta dari situasi yang sulit. Dengan berpura-pura berpikir positif setiap saat, membuat kita tidak bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang sebenarnya.

Konsekuensi Buruk dari Toxic Positivity

Mengutip dari laman Buddy Help, berpikiran positif tampak baik secara moral. Sehingga saat kita berupaya untuk menghadapi emosi yang lain, dikategorikan sebagai hal yang negatif.

Padahal, memaksakan diri untuk selalu berpikir positif pun memiliki konsekuensi untuk diri sendiri, antara lain:

1. Mengembangkan Sikap Penyangkalan

Penyangkalan membuat kita tidak terbuka dalam melihat dan menerima segala situasi. Bukan berarti kita perlu menjadi orang yang pesimis, namun emosi negatif bukan sesuatu yang harus selalu kita hindari.

Saat kita tidak yakin terhadap sesuatu, atau tidak bisa berpikir positif sama sekali, perasaan-perasaan tersebut harus diterima dan dihadapi untuk mengembangkan diri kita sendiri.

Daripada terus memaksakan diri untuk berpikir positif, sebaiknya kita mulai membuka diri pada segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Dengan begitu, saat situasinya tidak sesuai ekspektasi, kita tetap bisa menghargai diri sendiri dan mau mencoba lagi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore