
Ilustrasi- Kepribadian MBTi dengan sikap Positif, Ceria dan Optimis (Jcomp-freepik)
JawaPos.com — Berpikir positif merupakan nasehat yang banyak kita dengar, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Dengan senantiasa berpikiran positif, harapannya kita bisa memiliki semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Berpikir positif juga bermanfaat untuk mengatur stress dan mengurangi tingkat depresi. Karena dengan berpikir positif, biasanya kita dapat melihat situasi sulit dengan cara yang lebih baik.
Namun, apakah berpikir positif setiap saat bisa selalu berdampak baik untuk diri sendiri? Nyatanya, sikap tersebut bisa berubah menjadi racun.
Mengenal Toxic Positivity
Kita seringkali mendengar kalimat-kalimat yang bertujuan untuk memotivasi, seperti “jangan melihat hanya dari sisi buruknya saja” atau “semuanya akan berjalan dengan baik” dan juga “apapun yang terjadi kita harus tetap bersikap positif”.
Walaupun kalimat-kalimat tersebut bertujuan baik, namun seringkali sikap selalu positif ini menyebabkan kita enggan mencari akar dari suatu masalah. Sehingga kita juga tidak bisa menemukan solusi untuk masalah yang kita alami.
Itulah yang disebut dengan toxic positivity. Dikutip dari kyanhealth.com, toxic positivity adalah keyakinan keras kepala bahwa orang harus selalu bersikap positif, tidak peduli betapa buruk keadaan yang ada.
Disebut beracun karena “tetap berpikir positif” mengarah pada penolakan untuk mengakui fakta dari situasi yang sulit. Dengan berpura-pura berpikir positif setiap saat, membuat kita tidak bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang sebenarnya.
Konsekuensi Buruk dari Toxic Positivity
Mengutip dari laman Buddy Help, berpikiran positif tampak baik secara moral. Sehingga saat kita berupaya untuk menghadapi emosi yang lain, dikategorikan sebagai hal yang negatif.
Padahal, memaksakan diri untuk selalu berpikir positif pun memiliki konsekuensi untuk diri sendiri, antara lain:
1. Mengembangkan Sikap Penyangkalan
Penyangkalan membuat kita tidak terbuka dalam melihat dan menerima segala situasi. Bukan berarti kita perlu menjadi orang yang pesimis, namun emosi negatif bukan sesuatu yang harus selalu kita hindari.
Saat kita tidak yakin terhadap sesuatu, atau tidak bisa berpikir positif sama sekali, perasaan-perasaan tersebut harus diterima dan dihadapi untuk mengembangkan diri kita sendiri.
Daripada terus memaksakan diri untuk berpikir positif, sebaiknya kita mulai membuka diri pada segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Dengan begitu, saat situasinya tidak sesuai ekspektasi, kita tetap bisa menghargai diri sendiri dan mau mencoba lagi.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
