Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Juli 2024 | 22.13 WIB

4 Tanda Bahwa Seseorang Bukanlah Orang yang Baik Menurut Psikologi, Salah Satunya Sering Bermain Sebagai Korban

 

Psikopat dapat menjadi ancaman bagi orang lain karena kecenderungan mereka untuk berperilaku manipulatif, agresif, dan kriminal.

JawaPos.com - Kita sering kali mempertanyakan tindakan seseorang, apakah mereka benar-benar baik atau hanya berpura-pura?

Psikologi membantu kita memecahkan teka-teki ini. Ilmu ini memberi kita alat untuk mengenali perilaku dan pola tertentu yang mengindikasikan apakah seseorang tidak sebaik kelihatannya. 

Dikutip dari hackspirit, berikut 4 tanda bahwa seseorang mungkin bukan orang yang terbaik;

1) Sering berbohong

Kita semua pernah melakukan kebohongan kecil sesekali. Namun, ketika berbohong menjadi kebiasaan rutin, itu adalah tanda bahaya menurut psikologi. 

Orang yang sering berbohong sering melakukannya untuk keuntungan mereka sendiri - untuk memanipulasi situasi atau orang lain demi keuntungan mereka. Mungkin untuk menyembunyikan kesalahan yang telah mereka lakukan, untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik, atau bahkan hanya untuk menciptakan drama. 

Psikolog sering melihat kebohongan kronis sebagai tanda masalah kepribadian yang lebih dalam, yang dapat mencakup narsisme dan sosiopati. Ini adalah upaya untuk mengendalikan orang lain dan persepsi mereka tentang realitas.

Jadi, jika Anda melihat seseorang dalam hidup Anda tampaknya lebih sering berbohong daripada tidak, Anda mungkin berurusan dengan seseorang yang tidak sehebat yang mereka inginkan untuk Anda percayai. Ingatlah, ini bukan tentang menangkap seseorang dalam satu kebohongan, tetapi mengenali pola ketidakjujuran yang konsisten.

2) Kurangnya empati

Empati adalah kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan dengan orang lain. Ini adalah dasar dari kebaikan dan kasih sayang. Tetapi beberapa orang tampaknya tidak memiliki sifat penting ini.

Izinkan saya berbagi pengalaman pribadi. Saya memiliki seorang teman yang selalu berbicara tentang masalahnya, kesuksesannya, atau kehidupannya. Namun ketika harus mendengarkan orang lain, dia akan segera kehilangan minat atau mengubah topik pembicaraan kembali ke dirinya sendiri. Rasanya seolah-olah dia tidak dapat bersimpati dengan pengalaman atau emosi orang lain.

Para psikolog sering melihat kurangnya empati ini sebagai tanda peringatan. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang mungkin lebih mementingkan perasaan dan pengalamannya sendiri, yang dapat mengarah pada keegoisan dan mengabaikan kesejahteraan orang lain.

Jadi, jika Anda melihat seseorang dalam hidup Anda tampak tidak tertarik atau meremehkan perasaan Anda, itu bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak sebaik yang terlihat.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore