Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Februari 2024 | 13.45 WIB

Perayaan Unik Menjelang Imlek! Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Menjelaskan Tradisi 'Tuk Panjang'

Tuk Panjang, tradisi menyambut Tahun Baru Imlek kembali digelar di Pasar Semawis, Kawasan Pecinan Semarang, Kamis malam (8/2/2024). (Foto : RRI/Rahma) - Image

Tuk Panjang, tradisi menyambut Tahun Baru Imlek kembali digelar di Pasar Semawis, Kawasan Pecinan Semarang, Kamis malam (8/2/2024). (Foto : RRI/Rahma)

Jawapos.com - Tuk Panjang, tradisi merayakan Tahun Baru Imlek, kembali digelar di Pasar Semawis Pecinan Semarang pada Kamis malam (8/2/2024).

Tradisi Tuk Panjang merupakan tradisi yang mewakili akulturasi dan kerukunan antar umat beragama menjelang Tahun Baru Imlek 2575.

Berbagai hidangan disajikan dalam acara ini, seperti keranjang kukus santan, lumpia, dan berbagai hidangan sebagai upacara budaya. Hidangan dinikmati bersama di atas meja yang panjangnya sekitar 200 meter.

Selain masyarakat keturunan Tionghoa, tradisi ini juga diikuti oleh masyarakat umum, tokoh atau tokoh agama serta beberapa pejabat pemerintah kota semarang.

Dikutip Jawapos.com dari antaranews Jumat (9/2), Kepala Disbudpar Kota Semarang Wing Wiyarso di Semarang, Jumat, menjelaskan, ada tradisi menyambut Tahun Baru Imlek di Semarang yang unik, yakni prosesi adat 'tuk panjang'.

'Tuk panjang' adalah tradisi meja panjang yang di atasnya dihamparkan berbagai masakan, kemudian disantap bersama dan dibawa kembali pada Tahun Baru Imlek 2575.

Berbagai macam masakan disajikan pada acara tersebut seperti kue keranjang, kukus santan, nasi hainan, tujuh jenis sayuran hijau, masing-masing dengan simbol dan harapan baik.

Selain itu, berbagai menu lain seperti lumpia dan beragam hidangan sebagai wujud akulturasi budaya tersaji di meja sepanjang 200 meter tersebut untuk dinikmati bersama oleh masyarakat keturunan Tionghoa, perwakilan agama terkenal, dan masyarakat.

Wing mengatakan, "tuk panjang" selalu hadir menyambut Tahun Baru Imlek di Semarang dan selalu ramai, dan Tahun Baru Imlek tahun ini diadakan pada Kamis malam (8/2) di lingkungan sekitar pecinan.

Menurutnya, akulturasi budaya yang ditunjukkan melalui tradisi 'tuk panjang' dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek, pada hakikatnya sudah melekat di masyarakat dan menjadi kekuatan, termasuk di bidang pariwisata dan bidang lainnya.

"Makan bersama memiliki filosofi yang menciptakan kerukunan umat beragama seiring hadirnya berbagai suku berbeda dalam perayaannya. Akulturasi diharapkan menjadi semangat yang menjaga toleransi di kota ini,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Wisata Pecinan Semarang (Kopi Semawis) Haryanto Halim menjelaskan, tradisi 'tuk panjang' coba dibawa ke jalan untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian antar umat beragama.

"Biasanya dilakukan di rumah orang yang paling tua. Karena keluarga besar, banyak meja yang ditata secara vertikal. Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian," jelasnya.

Dalam acara tersebut juga diresmikan mural yang menampilkan kehidupan umat beragama dan kerukunan di Pecinan Semarang. Tujuan lainnya adalah mengurangi permukiman kumuh di kawasan tersebut agar semakin indah.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore