
Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sumber: DCStudio/freepik.com
JawaPos.com - Psikolog Klinis Forensik lulusan Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto mengungkapkan bahwa kesenjangan finansial dalam rumah tangga hanyalah salah satu faktor yang dapat memicu kekerasan di dalamnya.
Menurutnya, situasi di mana perempuan memiliki penghasilan lebih tinggi daripada suaminya seringkali menimbulkan rasa insecure sehingga dapat memicu perilaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Dikutip dari ANTARA pada Minggu (26/11), Kasandra menjelaskan bahwa untuk menghindari konflik yang berpotensi memicu kekerasan, diperlukan komunikasi dan toleransi dari masing-masing pihak.
"Ketika toleransi (dari pihak salah satu pihak) itu rendah, lalu pihak lainnya penerimaannya juga rendah, maka otomatis masalah ini akan bertambah," ujarnya.
Konflik yang muncul akibat kesenjangan finansial dapat semakin berkembang jika sumber pendapatan hanya bergantung pada istri. Terlebih lagi, jika istri merupakan 'sandwich generation', di mana harus menanggung anak, orang tua, dan adik-adik. Situasi itulah yang berpotensi KDRT.
Meskipun demikian, Kasandra menegaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya dipicu oleh faktor finansial, faktor psikologis dan sosial juga berperan penting di dalamnya.
Dia juga mengungkapkan, tekanan dari keluarga dan masyarakat sekitar dapat menjadi pemicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
"Netizen juga sering berperan ya ketika tahu 'oh suaminya di rumah, istrinya yang kerja kenapa istrinya yang kerja suaminya yang di rumah' itu bisa memberikan tekanan," ujar Psikolog Klinis Forensik lulusan Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto.
Dia menambahkan bahwa komentar atau pandangan negatif dari lingkungan dapat memberikan tekanan tambahan pada pasangan yang mengalami kesenjangan finansial.
Tekanan ini dapat menjadi pemicu konflik berkelanjutan, terutama jika pasangan suami-istri menghadapi kesenjangan finansial yang mengakibatkan istri memiliki penghasilan lebih besar.
Namun, Psikolog Klinis Forensik itu menegaskan bahwa untuk mengubah perilaku kekerasan, diperlukan tekad dan niat yang kuat dari pelaku kekerasan tersebut.
"Yang paling penting itu ada niat nomor satu, kemudian kedua ada semacam introspeksi diri, lalu kemudian melihat mau diubahnya ke arah mana. Kalau perlu tentu dengan bantuan psikolog agar lebih lebih termonitor," kata Kasandra.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
