
Cacio e Pepe, hidangan pasta klasik asal Roma yang hanya menggunakan tiga bahan utama, spaghetti, keju Pecorino Romano, dan lada hitam. (La Cucina Italiana)
JawaPos.com - Di balik hiruk-pikuk pariwisata dan modernisasi kuliner, hidangan sederhana asal Roma bernama Cacio e Pepe tetap menjadi simbol keaslian cita rasa Italia. Meskipun hanya terdiri dari tiga bahan, yakni pasta, keju Pecorino Romano, dan lada hitam, kelezatannya lahir dari teknik dan filosofi memasak yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Dilansir dari La Cucina Italiana dalam artikel berjudul “Cacio e Pepe: Guide to Cook”, rahasia utama hidangan ini bukan pada bahan, tetapi pada teknik pengolahan sausnya. Air rebusan pasta yang mengandung pati harus dicampur secara hati-hati dengan keju Pecorino Romano agar menghasilkan tekstur lembut dan creamy tanpa bantuan mentega atau krim.
“Cacio e Pepe bukan soal resep panjang, melainkan soal kesabaran dan keseimbangan rasa,” tulis media kuliner tersebut.
Sementara itu, menurut QuodLibet Roma dalam artikelnya “The Quintessential Roman Dish” Cacio e Pepe bukan sekadar makanan, melainkan representasi budaya warga Roma. Hidangan ini mencerminkan filosofi hidup sederhana masyarakat kota tersebut memanfaatkan bahan yang terbatas namun mampu menghasilkan rasa yang dalam dan memuaskan. Keju Pecorino Romano sebagai bahannya berasal dari tradisi penggembalaan di wilayah Lazio dan Sardinia, sementara lada hitam yang digiling segar menjadi simbol “kehangatan” khas rumah-rumah Italia.
Masih dari La Cucina Italiana dalam tulisan “Pecorino Romano: The Secret of Roman Cuisine”, keju Pecorino memainkan peran sentral dalam membentuk identitas kuliner Roma. Rasanya yang tajam dan asin memberikan karakter kuat pada hampir semua masakan Romawi, termasuk Cacio e Pepe, Carbonara, dan Amatriciana.
“Pecorino bukan sekadar bahan pelengkap, melainkan roh dari masakan Romawi itu sendiri,” tulis media tersebut.
Di berbagai trattoria di Roma, Cacio e Pepe disajikan sebagai hidangan kebanggaan lokal. Banyak wisatawan menganggapnya sebagai pengalaman wajib saat berkunjung ke “Kota Abadi”. Tak sedikit restoran yang bahkan menampilkan cara pembuatan hidangan ini langsung di depan pelanggan menggambarkan seni kuliner yang lahir dari kesederhanaan.
Dalam konteks yang lebih luas, Cacio e Pepe menjadi bukti bagaimana tradisi kuliner mampu bertahan di tengah gelombang globalisasi rasa. Di era dimana makanan sering kali dibuat instan, Roma justru menegaskan kembali makna “less is more” bahwa kesempurnaan rasa bisa hadir dari bahan yang paling sederhana, asalkan dibuat dengan hati. (*)

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Prediksi Susunan Pemain Korsel vs Republik Ceko: Son Heung-min Tegaskan Siap Bantu Taegeuk Warrior Menang!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Kanada vs Bosnia di Piala Dunia 2026: Tuan Rumah Dibayangi Ancaman Kuda Hitam dari Eropa
