Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Agustus 2025 | 18.57 WIB

CEO Coinbase Ramal Bitcoin Tembus Rp 16 Miliar, Tapi Saat Ini Masih Tertahan di Rp 1,8 Miliar

Ilustrasi bitcoin yang sedang "tertidur" karena tidak ada pergerakan market yang signifikan. (Dhimas Ginanjar/Dall-E/JawaPos.com)

JawaPos.com, Senin (25/8) – Harga Bitcoin saat ini memang sedang bergerak terbatas, namun proyeksi jangka panjang dari CEO Coinbase, Brian Armstrong, justru sangat optimistis. Dalam unggahannya di platform X pada Selasa (20/8), Armstrong memperkirakan bahwa satu Bitcoin bisa mencapai harga USD 1 juta atau sekitar Rp 16,3 miliar sebelum tahun 2030.

Optimisme ini dilandasi oleh sejumlah faktor penting yang menurut Armstrong mulai menyatu. Di antaranya adalah kejelasan regulasi, adopsi besar-besaran dari institusi keuangan, serta kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang disebut-sebut mulai membentuk cadangan strategis Bitcoin.

“Saya rasa kita akan melihat Bitcoin mencapai USD 1 juta sebelum 2030,” tulis Armstrong. “Kejelasan regulasi mulai terbentuk, pemerintah Amerika Serikat menyimpan cadangan BTC, dan ada minat yang terus meningkat terhadap ETF kripto.”

Dalam wawancara terbaru, Armstrong juga mengungkap bahwa Coinbase saat ini memberikan layanan aset digital kepada sekitar 140 lembaga pemerintah di tingkat federal, negara bagian, hingga internasional. Menurutnya, pemerintah dan institusi besar kini semakin terlibat aktif dalam ekosistem kripto.

Ia menegaskan bahwa ketakutan lama terhadap larangan pemerintah atau kelemahan protokol sudah semakin pudar. Namun, Armstrong menekankan pentingnya pembaruan keamanan jaringan Bitcoin agar tahan terhadap ancaman kriptografi kuantum di masa depan.

Salah satu katalis utama yang ia soroti adalah ETF. Menurut Armstrong, produk ETF telah membuka akses yang jauh lebih luas ke Bitcoin. Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa banyak institusi besar saat ini baru menyimpan sekitar 1 persen dari portofolionya dalam bentuk Bitcoin. Namun mereka menyatakan kesiapannya menambah porsi itu hingga 5 sampai 10 persen, asalkan ada kejelasan hukum.

“ETF memberikan dampak yang besar,” ujarnya. “Jika regulasi makin jelas, arus modal dari institusi bisa semakin masif.”

Namun kenyataannya, meskipun proyeksi jangka panjang Armstrong begitu bullish, pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek justru menunjukkan tanda-tanda konsolidasi dan kehilangan tenaga.

Dikutip dari News.Bitcoin, Senin (25/8), Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran USD 114.627 atau setara dengan Rp 1,86 miliar, dengan pergerakan harian yang sangat sempit. Volume perdagangan selama 24 jam terakhir tercatat USD 25,22 miliar, mencerminkan fase konsolidasi setelah koreksi dari level tertingginya.

Secara teknikal, grafik harian menunjukkan formasi bearish dengan pola double top di area USD 124.000, lalu penurunan di bawah USD 117.000 yang menandakan hilangnya momentum bullish. Setiap pantulan harga gagal menembus puncak sebelumnya, termasuk rebound dari USD 111.658 yang tidak berlanjut.

Volume perdagangan juga menunjukkan tekanan jual yang dominan, di mana lonjakan volume justru terjadi saat harga menurun. Grafik 4 jam memperlihatkan formasi bearish flag yang merupakan sinyal lanjutan pelemahan harga. Candle kecil dengan volume menurun menunjukkan pasar menunggu katalis besar berikutnya.

Indikator seperti RSI (47) dan stochastic (31) memberi sinyal netral, sementara CCI dan ADX menunjukkan belum ada arah tren yang dominan. Moving average jangka pendek, seperti EMA dan SMA 10 hingga 30 periode, semua memberikan sinyal bearish. Namun moving average jangka panjang, seperti SMA 100 dan 200 periode, justru menunjukkan dukungan struktural yang masih kuat di bawah harga saat ini.

Dengan kondisi ini, Bitcoin berada dalam posisi rawan. Jika harga gagal bertahan di atas USD 114.000 atau Rp 1,85 miliar, maka bisa membuka ruang penurunan menuju area USD 111.000 atau bahkan Rp 1,8 miliar. Sebaliknya, jika berhasil menembus USD 117.000 atau sekitar Rp 1,9 miliar dengan volume yang meyakinkan, maka potensi kenaikan jangka pendek bisa terbuka.

Meski pasar saat ini tampak lemah, optimisme tetap ada di level makro. Kejelasan regulasi, dukungan institusi, serta peran pemerintah dalam menyimpan cadangan Bitcoin bisa menjadi katalis jangka panjang. Namun, untuk saat ini, pasar kripto masih dalam fase menunggu—menanti sinyal pasti sebelum memutuskan arah selanjutnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore